Memalak dan Babi

February 6, 2015

Semasa kecil tentunya pernah mengalami kondisi dimana seorang anak dipalak oleh anak yang berbadan lebih besar. Anak yang berbadan kecil terkadang tak berdaya melawan. Salah satunya adalah teman saya. Namun dia cukup cerdik dalam menghadapinya.

Ketika dipalak makanannya, dia pun menyerahkan makanannya sambil berbisik, “bang, saya sih nggak apa makanannya diambil. Cuma saya kasih tahu saja kalau makanannya ada babinya.”

Ternyata anak berbadan kecil ini selamat dari pemalakan, ketika si pemalak sadar bahwa anak yang dipalak tersebut tidak berpantang makan babi, anak berbadan besar ini tak berani lagi memalak makanan si anak berbadan kecil.

Ada yang menggelitik di benak saya mengenai peristiwa ini. Seorang anak takut makan babi karena haram, tetapi tidak takut berdosa karena memalak orang yang tak berdaya melawannya.

Apakah memang sudah sejak kecil ditanamkan menghindari makanan dengan kandungan tertentu tetapi tidak ditanamkan untuk tidak menindas orang yang lebih lemah?

Mengapa seseorang lebih takut berdosa karena memakan sesuatu ketimbang merasa bersalah karena menindas orang lain? Sudah tepatkah ajaran itu?


Tafsir Saya yang Awam

October 4, 2014

Semua tahu, hari raya Qurban yang diperingati oleh umat Islam dilakukan dalam rangka memperingati peristiwa nabi Ibrahim yang diminta mengorbankan anaknya demi menguji kepatuhannya pada Tuhan. Apakah dia tega mengorbankan darah dagingnya sendiri demi memenuhi permintaan Tuhan? Dan Ibrahim lolos ujian, lalu Tuhan menggantinya dengan hewan kurban.

Read the rest of this entry »


Flying Like A Phoenix

June 5, 2011

Kutipan  “That which does not kill us makes us stronger” dari Friedrich Nietzsche mungkin paling pas menggambarkan sosok Phoenix. Sang burung api tak mati-mati atau selalu bangkit kembali setelah terbunuh dalam kawah gunung api. Apa yang tidak membunuh kita akan membuat kita semakin kuat. Hal tersebut benar adanya. Melongok pada para tokoh-tokoh yang selamat dari pengalaman nyaris mati, biasanya mereka menjadi lebih kuat dan tak segan merangkul dan membantu sesama agar terhindar dari pengalaman buruk yang serupa.

Semalam saya membaca kisah hidup salah seorang musisi yang saya kagumi, yaitu Indra Qadarsih dari blog salah seorang fansnya. Beliau selamat dari beberapa pengalaman yang nyaris merenggut maut karena ketergantungannya pada narkoba. Tetapi kini Indra menjelma menjadi sosok yang relijius, tak segan membantu para musisi lain, atau bahkan kepada para fansnya sekalipun. Jika membaca twitternya akan sering terlihat ucapan “Selamat bahagia!”, maka energi positif dan racun-racun bahagia pun menyebar pada semua followernya. Sama sekali tidak terlihat sikap arogan atau sok ngartis, padahal prestasinya bukan main-main. Selain virus bahagia, kesadaran untuk terus bersyukur pun ditularkan olehnya. Kini dia pun hidup bahagia dengan dikaruniai istri dan anak.

Read the rest of this entry »


Tulisan dari Masa Lampau

October 24, 2010

Niatnya ingin mencari tugas-tugas kuliah jaman S1 dahulu. Tapi apa daya, laptop ini berbeda dengan yang digunakan waktu kuliah di Depok dahulu. Ternyata berbagai dokumen dari masa-masa masih di Elektro itu tidak ada yang dipindahkan ke laptop tercinta ini. Memang sih sudah sempat di burn di CD, tapi semuanya ditinggal di kamar rumah. Padahal sekarang posisi di kos. Dengan perlengkapan tempur yang serba minim. Bahkan sendok garpu dari logam pun tak ada (heh apa hubungannya ya?).

Walhasil, alih-alih ketemu berkas-berkas data jaman kuliah S1, malah ketemu beberapa peninggalan tulisan curhat jaman tahun 2005. Memang berkas tertua di komputer ini tertanggal 2005. Karena memang laptop butut yang sangat berjasa ini diadopsi oleh gue tahun 2005. Agak geli juga baca tulisan-tulisan tersebut. Curhatan mengenai cita-cita jadi penulis. Entah juga, apakah harapan gue itu sudah tercapai, atau sekedar pencapaian asal-asalan. Karena pada dasarnya gue pengen akan bisa bikin karya sastra, sebuat master piece, seperti idola junjungan gue YB. Mangunwijaya. Toh beliau juga berawal menulis karya tulis teknik, dan akhirnya menyeberang ke sastra. Nah sekian dulu kalimat pembukanya.. Berikut ini adalah tulisan yang ditulis pada 26 Desember 2005.

Read the rest of this entry »


Simpati

October 24, 2010

Tulisan ini gue buat tahun 2006, tepatnya 26 April 2006. Belum pernah dimuat dalam blog, karena memang tadinya cuma untuk koleksi pribadi. Tapi setelah dibaca-baca, rasanya tak ada salahnya berbagi tulisan ini ke umum.

Senin pagi, 24 April 2006… gue bangun pagi, siap untuk menjalankan rencana gue pagi itu. Hari ini gue berencana untuk refreshing menikmati liburan gue ke Anyer dengan Nenni dan Raya. Tapi seperti biasa rutinitas bangun pagi gue selalu diawali dengan mengecek hp gue, ada 3 sms dan salah satu diantaranya berita duka. So planning gue berubah, gue segera mandi dan berangkat untuk layat.

Bisa diitung berapa kali gue layat, hari ini adalah kelima kalinya. Pertama kali gue ngelayat adalah jaman gue SMP kelas 1, rombongan kelas diliburkan karena yang meninggal adalah salah satu temen sekelas gue. Pengalaman pertama yang cukup buruk, karena semua bisa nangis nunjukin rasa simpati, kecuali gue. Ga tau kenapa gue seperti orang yang ga punya hati, cuma bisa diem.

Read the rest of this entry »


Resepsi Pernikahan

May 24, 2010

Ketika obrolan ini dilakukan, gue dan seorang sahabat gue yang juga masih jomblo sedang duduk-duduk di lounge sambil menunggu film bioskop diputar.

Gue: Gar, kalau nikah, lo mau pake resepsi atau nggak?

Dia: Maksudnya? Lo ngajakin gue nikah gitu?

Gue: Bukaaaan, tapi sampai sekarang gue nggak ngerti manfaat resepsi pernikahan.

Dia: Ya itu namanya syukuran, membagi kebahagiaan dengan orang lain yang diundang.

Gue: Tapi apa iya orang yang diundang akan merasakan kebahagiaan? Bukannya kadang orang-orang yang diundang jadi serba salah? Kadang jadi terpaksa datang juga, belum lagi kalau banyak resepsi yang harus didatangi. Gue lihat status facebook orang ada kok yang ngeluh karena di hari itu tanggal tua jadi harus keluar duit juga untuk ngasih amplop di resepsi. Belum lagi kalau ada undangan yang bentrok. Jadi bingung sendiri kan mau datang resepsi yang mana. Banyak uang dan waktu yang terbuang percuma, orang yang menikah harus keluar banyak dana untuk resepsi toh yang datang juga harus keluar duit, tapi itupun gak balik modal. Sayang kan kalo uang segitu banyak kebuang hanya untuk satu hari saja, itu pun bukan satu hari penuh, tapi hanya beberapa jam saja. Sedangkan pernikahan itu kan maunya untuk selamanya, jadi jangka waktunya lebih panjang. Mending dananya buat modal bangun rumah tangga yang baru dibentuk. Trus apa iya bagi-bagi kebahagiaan? Gimana dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul buat orang yang masih jomblo di resepsi itu, kadang kan ada yang iseng ngelontarin pertanyaan “kapan nyusul?” nah itu malah bisa bikin orang jadi risih. Bagi gue resepsi pernikahan itu nggak praktis.

Dia: Gue sih setuju saja sama elo, mungkin keluarga gue bisa untuk terima gak ada resepsi. Tapi terkadang keluarga cewe atau cewenya sendiri kan gengsi untuk gak ngadain resepsi. Ya kadang itu jadi ajang untuk pamer juga.

Gue: Ya karena memang sudah dibentuk paradigma yang seperti itu. Tapi coba lihat deh, gue pernah tulis di salah satu blog gue, judulnya Ide itu Punya Kaki. Di tulisan itu gue kasih contoh, gimana ada pergeseran nilai resepsi itu sendiri. Dulu ngasih uang atau amplop itu kan sempat dianggap tabu, normalnya dulu bawa kado atau bingkisan. Tapi berkat ada yang berani membuat dobrakan dengan menyisipkan sepotong kertas di undangan yang isinya kira-kira “tanpa mengurangi rasa hormat, mohon hadiah tidak dalam bentuk bingkisan/karangan bunga”. Awalnya hal itu kan terasa aneh. Tapi lama-lama jadi biasa, yang akhirnya tanpa sisipan potongan kertas itu orang inisiatif untuk ngasih amplop uang aja ke resepsi. Padahal tanpa itu, awalnya pasti sama-sama bingung. Si mempelai dapat begitu banyak barang yang jenisnya hampir sama akhirnya jadi nggak terpakai, dan tamu yang diundang juga agak repot cari-cari bingkisan. Kalau di luar negeri mungkin ada juga yang agak nyentrik dengan menyertakan daftar kado yang dibutuhkan lengkap dengan tempat barang itu bisa dibeli saat ngirim undangan. Tapi kan kalau tamunya ratusan jadi ga efektif juga.

Dia: Iya juga sih Ndah, tapi mungkin sifatnya lebih ke pengumuman bahwa kedua mempelai sudah menikah. Kalau menurut gue, biar nggak repot pasang saja pengumuman iklan telah menikah di koran ya?

Gue: Hmm, menurut gue masih nggak efektif sih, soalnya kan pasang iklan di koran juga tetap keluar uang, dan belum tentu kena sasaran. Toh belum tentu teman-teman dekat yang kenal baca, malah yang baca kemungkinan orang-orang yang ga kita kenal. Sebenarnya ada lho solusi yang lebih murah dan kena sasaran kalau memang sifatnya cuma berupa pengumuman. Pasang saja di jejaring sosial, seperti Facebook atau Friendster. Daftar teman-teman kita kan pasti orang-orang yang kita kenal, jadi mereka dapat informasinya bukan orang lain dan gratis pula. Mungkin gak ya, dari peralihan resepsi pernikahan yang tadinya tanda suka cita dikasih dalam bentuk bingkisan ke uang, bisa beralih lagi, jadi tanpa resepsi dan cukup pengumuman di Facebook.

Obrolan kami pun terputus, karena sudah ada panggilan untuk studio tempat film yang akan kami tonton diputar.


Tugas Media di Masa Kampanye

June 6, 2009

Sengketa lahan sekolah, sekolah yang bobrok, warga miskin di bantaran kali sudah saatnya seluruh kekurangan dan kemiskinan negeri ini diekspos media di masa kampanye presiden kali ini. Ketimbang dana kampanye terbuang sia-sia untuk iklan komersil di berbagai media baik cetak maupun elektronik, konser dangdut yang tidak penting serta pembuangan dana sia-sia lain yang sama sekali tidak berdampak untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Tugas media saat ini lebih baik membongkar segala kekurangan yang ada ketimbang pengeksposan kebodohan ketiga kubu yang saling bersaing berlomba meraih tahta kekuasaan. Setidaknya agar mereka semua yang berambisi ingin naik menjadi pimpinan negeri ini terhenyak sadar bahwa masih banyak kekurangan di negeri ini yang patut diperbaiki.

Dana-dana kampanye lebih baik dialokasikan untuk penyelesaian masalah-masalah yang melanda rakyat. Perbaikan sekolah-sekolah baik itu dari segi tampilan tempat belajar dan fasilitas maupun mutu pendidikan, ini merupakan investasi jangka panjang masa depan rakyat karena bagi gue pendidikan merupakan bekal masa depan seseorang. Kepedulian untuk menyediakan perumahan yang layak sekelas bangunan tempat tinggal Kalicode hasil rancang bangun Romo Mangun jauh lebih penting ketimbang konser dangdut atau materi komersil berbudget tinggi. Kampanye pesta janji di sana sini bagi gue kurang penting. Simpati gue ga bisa dibeli dari hal-hal pencucian otak macam itu. Kalaupun mulai ada perbaikan seperti sekolah gratis dan itu diekspos dalam materi iklan layanan masyarakat, kenapa baru sekarang. Saat ingin menarik simpati demi mempertahankan tahta? Kalau memang ada sesuatu kontribusi untuk dunia pendidikan kenapa tidak dari dulu, dan kenapa harus digembar-gemborkan mendekati pilpres?

Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 936 other followers