Tugas Media di Masa Kampanye

Sengketa lahan sekolah, sekolah yang bobrok, warga miskin di bantaran kali sudah saatnya seluruh kekurangan dan kemiskinan negeri ini diekspos media di masa kampanye presiden kali ini. Ketimbang dana kampanye terbuang sia-sia untuk iklan komersil di berbagai media baik cetak maupun elektronik, konser dangdut yang tidak penting serta pembuangan dana sia-sia lain yang sama sekali tidak berdampak untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Tugas media saat ini lebih baik membongkar segala kekurangan yang ada ketimbang pengeksposan kebodohan ketiga kubu yang saling bersaing berlomba meraih tahta kekuasaan. Setidaknya agar mereka semua yang berambisi ingin naik menjadi pimpinan negeri ini terhenyak sadar bahwa masih banyak kekurangan di negeri ini yang patut diperbaiki.

Dana-dana kampanye lebih baik dialokasikan untuk penyelesaian masalah-masalah yang melanda rakyat. Perbaikan sekolah-sekolah baik itu dari segi tampilan tempat belajar dan fasilitas maupun mutu pendidikan, ini merupakan investasi jangka panjang masa depan rakyat karena bagi gue pendidikan merupakan bekal masa depan seseorang. Kepedulian untuk menyediakan perumahan yang layak sekelas bangunan tempat tinggal Kalicode hasil rancang bangun Romo Mangun jauh lebih penting ketimbang konser dangdut atau materi komersil berbudget tinggi. Kampanye pesta janji di sana sini bagi gue kurang penting. Simpati gue ga bisa dibeli dari hal-hal pencucian otak macam itu. Kalaupun mulai ada perbaikan seperti sekolah gratis dan itu diekspos dalam materi iklan layanan masyarakat, kenapa baru sekarang. Saat ingin menarik simpati demi mempertahankan tahta? Kalau memang ada sesuatu kontribusi untuk dunia pendidikan kenapa tidak dari dulu, dan kenapa harus digembar-gemborkan mendekati pilpres?

Gue cukup bersyukur juga, ada dampak baik dari perlombaan penarikan simpati dengan beberapa kasus yang terlihat cukup cepat ditangani. Kasus Ibu Prita yang ditahan perkara pencemaran nama baik hanya gara-gara curhat masalah ketidak puasannya terhadap layanan RS misalnya. Penanganan tergolong cepat, karena seolah-olah pimpinan negeri ini sangat peduli dan ikut turun tangan hingga status tahanan bisa diperingan. Tapi justru yang jadi pertanyaan kenapa kebobrokan macam itu dapat terjadi? Gue agak skeptis juga masalah Ibu Prita ini dapat dengan cepat ditanggulangi jika saat ini bukan masa-masanya menarik simpati masyarakat oleh tiga kubu yang sedang bersaing. Sama seperti skeptisnya gue, apakah sekolah gratis itu akan ada jika tidak dalam masa pesta demokrasi? Kalau ya, mengapa baru dicanangkan menjelang pemilu bukan dari awal masa pemerintahan dimulai?

Intinya sih, mumpung masih masa kampanye, sebaiknya media mengekspos terus segala ketidaklayakan, ketidakadilan dan berbagai kebobrokan yang terjadi di negara ini. Agar masyarakat banyak yang terprovokasi mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Dan demi menarik suara masyarakat, seluruh orang yang bersaing dalam mencalonkan diri mengalihkan dana kampanyenya dari hura-hura tidak jelas ke arah yang lebih baik demi kesejahteraan masyarakat. Gue yakin rakyat lebih memilih orang yang bijaksana menangani segala kejanggalan dan kebobrokan ketimbang orang yang saling caci maki menjatuhkan kubu pesaing ataupun yang sibuk bernarsis diri dengan iklan-iklan di media cetak. Bahkan untuk sementara ini, gue agak eneg makan mi instan favorit gue gara-gara iklan norak yang meniru jingle mi instan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: