Memalak dan Babi

Semasa kecil tentunya pernah mengalami kondisi dimana seorang anak dipalak oleh anak yang berbadan lebih besar. Anak yang berbadan kecil terkadang tak berdaya melawan. Salah satunya adalah teman saya. Namun dia cukup cerdik dalam menghadapinya.

Ketika dipalak makanannya, dia pun menyerahkan makanannya sambil berbisik, “bang, saya sih nggak apa makanannya diambil. Cuma saya kasih tahu saja kalau makanannya ada babinya.”

Ternyata anak berbadan kecil ini selamat dari pemalakan, ketika si pemalak sadar bahwa anak yang dipalak tersebut tidak berpantang makan babi, anak berbadan besar ini tak berani lagi memalak makanan si anak berbadan kecil.

Ada yang menggelitik di benak saya mengenai peristiwa ini. Seorang anak takut makan babi karena haram, tetapi tidak takut berdosa karena memalak orang yang tak berdaya melawannya.

Apakah memang sudah sejak kecil ditanamkan menghindari makanan dengan kandungan tertentu tetapi tidak ditanamkan untuk tidak menindas orang yang lebih lemah?

Mengapa seseorang lebih takut berdosa karena memakan sesuatu ketimbang merasa bersalah karena menindas orang lain? Sudah tepatkah ajaran itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: