Tafsir Saya yang Awam

Semua tahu, hari raya Qurban yang diperingati oleh umat Islam dilakukan dalam rangka memperingati peristiwa nabi Ibrahim yang diminta mengorbankan anaknya demi menguji kepatuhannya pada Tuhan. Apakah dia tega mengorbankan darah dagingnya sendiri demi memenuhi permintaan Tuhan? Dan Ibrahim lolos ujian, lalu Tuhan menggantinya dengan hewan kurban.

Sempat terbersit di pikiran saya, betapa berat ujian tersebut. Jika saya ingin percaya Tuhan, tentunya saya ingin mempunyai Tuhan yang baik dan penyayang. Kenapa begitu tega menguji Ibrahim dengan meminta mengorbankan anaknya, darah dagingnya sendiri?

Dari tadi saya tidak menyebut siapa anak yang diminta untuk dikorbankan oleh Ibrahim. Karena memang bukan hal ini yang akan saya bahas. Sesama agama langit atau agama samawi ada perbedaan versi. Pada cerita versi Yahudi dan Kristen, anak yang dikorbankan adalah Ishak, sementara pada cerita versi Islam anak yang diminta untuk dikorbankan adalah Ismail. Terlepas dari hal tersebut hikmah yang ditarik kurang lebih sama. Menguji nabi Ibrahim akan kepatuhannya pada perintah Tuhan, dan menguji keikhlasannya dalam melakukan hal tersebut.

Beda lagi versi ateis, mereka memaknai peristiwa tersebut dengan mengolok-olok bahwa Ibrahim sudah gila atau kerasukan setan. Eh tapi ateis pun mungkin tak percaya setan ya, taruhlah dirasuki oleh niat yang gila.

Tentu yang membaca tulisan saya menduga-duga, saya sebenarnya dari kalangan yang mana. Tak perlu repot mencari tahu, saya juga tidak tahu. Tetapi jika saya ingin percaya Tuhan, saya ingin memaknai peristiwa tersebut dengan hal yang manusiawi. Saya tidak ingin menganggap Tuhan itu punya niat meminta korban manusia. Lalu kenapa peristiwa itu terjadi?

Nah, ini hanya hasil pemikiran saya ya, tidak mewakili kalangan mana pun dan agama apa pun. Bagi saya jika Tuhan itu memang ada, dia ingin menunjukkan bahwa sifat Tuhan itu kasih, tak ingin meminta korban manusia. Dalam bayangan saya, di masa tersebut masih ada kaum jahiliyah yang melakukan ritual pengorbanan manusia untuk sesuatu yang mereka sembah. Entah itu makhluk dewa atau Tuhan. Lalu Tuhan dari agama samawi ini meminta seolah-olah memang ingin korban manusia juga. Ketika akan dilakukan, dia malah sontak memperlihatkan sifat kasihnya dengan mengganti korban manusia tersebut dengan makhluk lain yang dianggap memiliki derajat lebih rendah, yaitu hewan ternak.

Hal tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa Tuhan tidak menginginkan korban manusia. Sesama manusia tidak boleh menjadikan manusia lain sebagai korban. Sekali lagi, ini hanya tafsir saya pribadi, bukan mewakili keyakinan agama mana pun. Hal ini saya lakukan demi membahagiakan saya bahwa Tuhan itu baik, dan berusaha membuat manusia manusiawi, tidak barbar mengorbankan sesama layaknya praktek yang dilakukan beberapa kalangan di masa tersebut. Mungkin saja saat itu dari kalangan politeis masih melakukan praktek mengorbankan manusia demi dewanya. Atau mungkin juga ada praktek yang salah dari agama monoteis yang menganggap Tuhan haus darah. Maka Tuhan pun ingin menyampaikan bahwa dia tidak seperti itu.

Praktek mempersembahkan korban berupa hewan ternak pun dilakukan kalangan Yahudi sebagai persembahan pada Tuhan. Kaum Lewi yang tidak diperkenankan bekerja demi memperoleh materi, kebagian jatah pelayanan mengurus ritual korban ini. Terkadang mereka juga yang menentukan layak tidaknya hewan ternak untuk persembahan tersebut. Lama kelamaan praktek ini menjadi transaksional pengampunan dosa. Jika melakukan dosa sekian, maka jumlah kurban harus sekian. Di ajaran lain, entah itu monoteis atau politeis (mungkin juga saya salah karena tidak mencantumkan referensi), jumlah kurban hewan ternak menjadi suatu tanda status sosial seseorang. Jadi tidak semata-mata transaksional pengampunan.

Kasus lain mengenai tafsir saya sebagai orang awam adalah mengenai aturan poligami. Dalam Islam, Tuhan menyampaikan ke nabi Muhammad bahwa maksimal istri yang diperbolehkan 4, itu pun bila dapat berlaku adil. Peraturan itu dibuat di masa para pria memiliki istri begitu banyak. Bahkan bisa ratusan. Maka lagi-lagi saya berusaha menangkap maksud Tuhan, sekali lagi ini tafsir saya pribadi, bukan dari kalangan mana pun. Bahwa Tuhan berusaha membuat manusia beradab dengan tidak memiliki ratusan istri demi pemuas nafsu syahwat. Dibatasi, cukup 4, dari praktek semula, sekian banyak istri.

Seiring dengan berkembangnya peradaban, maka beberapa kalangan merasa monogami adalah hal yang baik. Negara kita tercinta ini pun sempat menerapkan aturan hanya boleh memiliki 1 istri. Mungkin ini satu-satunya aturan warisan orde baru yang saya suka, membuat manusia lebih beradab, menjadi monogami. Reformasi pun bergulir, saya suka reformasi, harapan demokrasi bisa terwujud menjadi suatu euforia. Sayangnya bersamaan dengan masuknya era reformasi, orang pun semakin terbuka dalam melakukan praktek poligini. Mungkin karena memang tak ada sanksi, agak berbeda mungkin dengan di masa orde baru. Seorang pegawai negeri bisa jadi kena pecat jika melakukan praktek poligami di masa orde baru.

Sekali lagi saya tekankan, saya bukan pemuja orde baru. Saya bahagia Indonesia sempat memasuki reformasi. Walau akhirnya ternoda oleh praktek yang bagi saya merupakan kemunduran. Ketika sudah ada aturan monogami, mengapa manusia kembali memilih untuk berpoligami dengan 4 istri (poligini). Aturan tersebut dibuat ketika praktek masa itu pria menikahi puluhan bahkan ratusan istri. Dikerucutkan menjadi hanya 4. Negara membuat aturan monogami, satu istri, kenapa malah dikembalikan menjadi poligini?

Jika membuat perumpamaan, mungkin ketika sudah ada teknologi berkirim surat secara elektronik dengan email, kenapa masih memaksakan berkirim pesan dengan merpati pos? Bukankah itu suatu kemunduran. Kasihan merpati jika harus berjuang di masa yang bukan zamannya berkirim pesan dengan jasa mereka. Bayangkan, dunia dengan polusi udara yang semakin meningkat, merpati harus berusaha terbang jauh untuk menyampaikan pesan. Apakah pesan tersebut sampai? Bagaimana jika ada yang menembak merpati tersebut, bagaimana jika merpati mati kelelahan, atau bagaimana jika sang merpati kesasar. Bukankah lebih aman berkirim surat elektronik, dengan email. Pesan dapat sampai dalam hitungan detik. Bahkan mungkin kurang dari satu detik. Intinya sih mungkin, jangan mundur. Sesuaikan praktek dengan perkembangan zaman. Kalau pun belum sanggup berkirim email karena Menkominfo saat ini belum mau memasyarakatkan internet hingga ke pelosok, toh sudah ada jasa layananan pos menggunakan kurir manusia, contohnya Pos Indonesia, Tiki, JNE dan masih banyak lagi.

Mengapa saya yang awam ini berani-beraninya membuat tafsir pribadi? Sebenarnya saya sering membuat tafsir pribadi untuk mengayem-ayemi diri sendiri. Berusaha menjadikan Tuhan sebagai sosok yang baik dan penuh kasih. Tidak ingin ada yang tersakiti. Bagi saya, jika praktek poligini dilakukan, sebenarnya akan menyakiti pihak wanita. Tuhan sebagai pencipta wanita juga, tentunya mengetahui perasaan ciptaannya. Toh Dia yang menciptakan. Kali ini saya terbersit untuk menuliskannya, mungkin sejak mendengarkan diskusi tanggapan Ayu Utami mengenai orasi di salah satu sekolah tinggi di Jakarta.

Salah satu pembahasan yang dia bahas adalah mengenai cerita Sodom dan Gomora. Banyak kalangan yang menafsirkan bahwa hukuman Tuhan dijatuhkan atas dosa praktek homoseksual. Kisah mengenai Luth yang kedatangan malaikat, lalu penduduk yang barbar menuntut Luth menyerahkan dua sosok rupawan tersebut untuk melayani mereka. Karena Luth merasa utusan Tuhan harus dilindungi, dia pun melindungi dan malah menawarkan anak dan istrinya. Hal yang saya tangkap dari diskusi tersebut, Ayu Utami mengatakan bahwa penafsiran yang dia ambil adalah hukuman tersebut akibat pemerkosaan yang dilakukan penduduk (ulasannya dibahas lebih dari setahun kemudian di link ini). Pemerkosaan merupakan suatu penindasan dari orang yang memiliki wewenang lebih pada orang yang tak berdaya. Namun kebanyakan orang lebih mengambil cerita itu untuk menafsirkan bahwa Tuhan menghukum orang homoseksual. Jarang sekali yang berusaha mengupas bahwa ada unsur pemerkosaan dalam cerita tersebut. Jadi Tuhan menghukum para pemerkosa. Bila ingin membaca kisah Luth secara lebih jelas dapat membaca kitab Kejadian: 19.

Kembali ke masalah kurban.. secara tak sengaja saya membaca cerita lain, kali ini dari agama bumi, bukan samawi. Agama yang mempercayai reinkarnasi. Mengenai kambing dan seseorang yang ingin mengorbankan kambing tersebut, entah untuk Tuhan, atau untuk dewa. Ketika sang kambing yang ternyata memahami mengenai karma tahu bahwa dia akan menjadi korban, dia merasa bahagia. Dia bahagia, karena merasa dengan dia dikorbankan, maka lunaslah seluruh hutang karma buruknya.

Tetapi dia tiba-tiba sedih. Bukan sedih untuk dirinya, tetapi sedih, karena menyadari akan ada seseorang yang menerima karma buruk karena mengorbankan dirinya. Tentunya orang tersebut kelak akan menerima penderitaan seperti dirinya. Orang tersebut pun heran, yang semula melihat kambing bahagia, kok tiba-tiba kambing merasa sedih. Di cerita ini entah bagaimana sang kambing bisa berkomunikasi dengan sang manusia. Awalnya orang tersebut mengira kambing bersedih karena ingin dikorbankan, tetapi setelah tahu bahwa kambing bersedih karena justru mengkhawatirkan dirinya, dia pun mengurungkan niat untuk mengorbankan kambing tersebut. Sang kambing pun dilepaskan. Tetapi ketika sedang berada di suatu tempat, si kambing mati tersambar petir. Ternyata di kehidupan sebelumnya, si kambing pernah menjadi sosok orang yang mengorbankan kambing. Dia menjadi contoh bahwa pembunuhan akan menimbun penderitaan di masa mendatang. Syukurlah orang yang semula ingin mengorbankan kambing, tidak harus menanggung karma yang akan terus berputar tersebut. Saya pribadi tidak menyelidiki lebih lanjut kapan cerita ini dibuat. Tetapi memandang bahwa ada agama yang merasa mengorbankan kambing pun cukup riskan dipraktekkan.

Akhir kata, karena tulisan ini tak mewakili kalangan apa pun, agama apa pun, ajaran mana pun, dan tidak berusaha membuat suatu aliran baru. Semoga tidak menimbulkan rasa benci bagi yang membaca. Saya hanya mengungkapkan bahwa jika ingin memiliki Tuhan, saya ingin berpandangan Tuhan saya itu baik, penuh kasih, bukan pendendam dan haus darah.

Tadinya saya memberi judul tulisan ini “Memaknai Kisah Ibrahim” tetapi karena menulis tanpa kerangka dan plot, lalu melebar ke mana-mana, maka judul pun saya ganti menjadi “Tafsir Saya yang Awam”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: