Apakah Tulisan dan Komunikasiku Buruk?

July 10, 2018

Sekarang tanggal 10, bagiku tanggal ini adalah tanggal kematian. Sementara tanggal 8 adalah tanggal pernikahan.

Di tanggal ini, aku memutuskan untuk membantu temanku menjadi salah satu kontributor liputan di medianya. Parah juga ya, setelah liputan, bukannya aku menyusun artikel liputan, tapi malah menuliskan ini. Saat ini aku memang blank, tidak tahu harus menulis dari angle apa. Sudah sekian bulan aku memang tidak mengisi media teknologi, lebih banyak menyunting untuk media spiritual.

Read the rest of this entry »


Superhero Saja Salah Pilih Pacar

June 10, 2017

superhero dc

Sebenarnya hari ini masih ada kerjaan numpuk berupa orderan konten softselling suatu e-commerce. Tapi karena mood belum muncul, mari senam jari di blog dulu. Perlu diketahui juga bahwa tulisan ini akan banyak spoiler, jadi kalau belum kelar nonton seluruh season terkini serial superhero DC dan nggak suka spoiler, mungkin sebaiknya jangan dilanjut baca dulu.

Read the rest of this entry »


Ini logika yang benar-benar kacau

October 8, 2016

Biasalah menjelang pemilihan gubernur DKI suasana jadi panas. Topik panas yang pada akhirnya membuat salah satu calon gubernur dihujat adalah ucapannya yang dianggap menghina kitab suci umat mayoritas di Indonesia.

Well, setiap serangan pasti ada juga yang melakukan pembelaan. Tapi kadang memang menggunakan istilah yang dianggap menyinggung orang yang memang pada dasarnya sering tersinggung. Ya gimana nggak tersinggung, terhadap nama akun gue saja mereka tersinggung. Nama akun quratengil yang gue sandang sejak 2003 dulu dianggap sebagai penistaan kitab suci umat mayoritas. Di situ gue sudah mulai jleb.

vivitolol

Read the rest of this entry »


Mengapa Martabak Favorit Tak Dicantumkan di Kolom KTP?

September 15, 2016

Bagi sebagian orang, martabak itu sangatlah penting. Masing-masing memiliki martabak favoritnya. Ada yang suka martabak tradisional yang pilihan campurannya hanya sebatas, coklat, kacang, wijen dan keju. Tetapi ada juga yang lebih suka martabak kekinian dengan varian green tea, strawberry, jagung,  coklat dan kejunya pun ada pilihan varian (toblerone, nutela, ovomaltine, pro chizz, kraft, dan lain-lain), bahkan menteganya pun ada pilihannya.

Ilustrasi ini bukanlah Martabak Bangka Ronny, hanya sekedar martabak pertolongan pertama pada kelaparan.

Ilustrasi ini bukanlah Martabak Bangka Ronny, hanya sekedar martabak pertolongan pertama pada kelaparan.

 

Sesama penyuka martabak tradisional pun bukan berarti memiliki selera yang sama. Pasalnya ada begitu banyak tukang martabak dengan brand-nya masing-masing. Sebagian orang menyukai Martabak Alim, Martabak AA, Martabak Ayung dan lain-lain. Saya sendiri adalah penggemar martabak bangka Ronny.

Read the rest of this entry »


Hidayah Sebagai Hak Prerogatif Tuhan

February 28, 2016

Sebenarnya pemikiran ini sudah lama ada di otak gue dan belum pernah sempat gue tulis. Saat ini gue sangat terdorong untuk menuliskannya gara-gara pengalaman gue kemarin. Bagi yang ingin mengritik atau tersinggung, mohon jangan baca setengah-setengah, tetapi baca sampai selesai. Ini ekspresi keprihatinan gue atas banyaknya orang yang sangat senang mengobarkan kebencian karena merasa membela sesuatu yang dia sendiri ternyata belum memiliki pemahaman secara mendalam.

Read the rest of this entry »


Protected: Menganalisa Pasangan Hidup

February 24, 2015

This content is password protected. To view it please enter your password below:


Memalak dan Babi

February 6, 2015

Semasa kecil tentunya pernah mengalami kondisi dimana seorang anak dipalak oleh anak yang berbadan lebih besar. Anak yang berbadan kecil terkadang tak berdaya melawan. Salah satunya adalah teman saya. Namun dia cukup cerdik dalam menghadapinya.

Ketika dipalak makanannya, dia pun menyerahkan makanannya sambil berbisik, “bang, saya sih nggak apa makanannya diambil. Cuma saya kasih tahu saja kalau makanannya ada babinya.”

Ternyata anak berbadan kecil ini selamat dari pemalakan, ketika si pemalak sadar bahwa anak yang dipalak tersebut tidak berpantang makan babi, anak berbadan besar ini tak berani lagi memalak makanan si anak berbadan kecil.

Ada yang menggelitik di benak saya mengenai peristiwa ini. Seorang anak takut makan babi karena haram, tetapi tidak takut berdosa karena memalak orang yang tak berdaya melawannya.

Apakah memang sudah sejak kecil ditanamkan menghindari makanan dengan kandungan tertentu tetapi tidak ditanamkan untuk tidak menindas orang yang lebih lemah?

Mengapa seseorang lebih takut berdosa karena memakan sesuatu ketimbang merasa bersalah karena menindas orang lain? Sudah tepatkah ajaran itu?