Hidayah Sebagai Hak Prerogatif Tuhan

Sebenarnya pemikiran ini sudah lama ada di otak gue dan belum pernah sempat gue tulis. Saat ini gue sangat terdorong untuk menuliskannya gara-gara pengalaman gue kemarin. Bagi yang ingin mengritik atau tersinggung, mohon jangan baca setengah-setengah, tetapi baca sampai selesai. Ini ekspresi keprihatinan gue atas banyaknya orang yang sangat senang mengobarkan kebencian karena merasa membela sesuatu yang dia sendiri ternyata belum memiliki pemahaman secara mendalam.

Kemarin, gue jalan-jalan dengan teman gue dan anaknya. Ketika tiba waktu sholat, teman gue menunaikan ibadah wajib tersebut, dan gue menunggu sambil baca kitab suci agama yang berbeda dengan teman gue ini.

Anaknya tiba-tiba bertanya ke gue.

“Tante kenapa nggak sholat?”

“Kamu kenapa nggak sholat?”

“Males aja, tante kenapa?”

“Kamu sudah bisa baca belum?”

“Bisa dong”

Gue sodorin kartu visudhi gue dan kartu tanda umat tempat ibadah, “Coba baca, ini nama tempat ibadah agama apa?”

“Hah, kok tante bukan Islam. Tante mau masuk Islam nggak?”

“ Nggak mau”

“ Kenapa? Tante harus masuk Islam!”

“Kamu Islam kenapa? Kamu kenapa nggak sholat? Sholat kan wajib dalam Islam, kalau kamu nggak sholat, menurut Islam kamu dosa lho.”

“Pokoknya tante harus masuk Islam.”

“Nggak ah”

“Kenapa?”

“Takut”

“Kenapa takut?”

“Kamu kasih tahu dulu kenapa kamu Islam dan semua kebaikan Islam, dan kenapa kamu memilih melanggar kewajiban yang diharuskan Islam. Kamu mending sholat dulu deh, itu wajib dalam Islam.”

“Nggak mau! Tante lagi ngapain sih?”

“Baca kitab”

“Kitab apa?”

“Kitab agama”

“Agama apa?”

“Nih baca sendiri”

“Tante kenapa sih baca kitab yang bukan Islam”

“Kamu kenapa nggak sholat dan nggak baca kitab agama Islam?”

“Aku baca di pengajian”

“Kamu paham isinya nggak?”

“Aku bisa baca dengan merdu”

“Paham dan tahu artinya?”

Dia diam. Lalu menangis tersedu-sedu menyayangkan gue bukan Islam. Usai sholat sang Ibu mengajarkan bahwa anaknya harus menghargai perbedaan agama dan menghargai keyakinan orang lain. Lakum Dinukum Waliyadin. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku. ~ Al Kafiirrun: 6

Nah, keprihatinan gue adalah seseorang saat ini banyak yang seperti anak kecil itu. Tidak mau belajar memahami ajaran agamanya, tetapi memaksa orang untuk ikut apa yang dia sendiri tak pahami dan bahkan langgar. Gue cukup yakin, ajaran itu bukan dari ibu atau keluarganya. Karena buktinya ibunya sendiri ke gue baik dan tidak mempermasalahkan agama gue. Kemungkinan besar adalah dari pendidikan saat ini. Jadi apakah para guru sudah cukup baik mengajari pentingnya toleransi beragama saat ini? Toh waktu gue SD dulu guru sekolah gue mengajari bahwa ada lima agama yang diakui negara (sekarang enam), dan setiap orang bebas memeluk agama dan kepercayaan yang diyakini tanpa boleh ada pemaksaan. Konsep ini yang sudah banyak dilupakan orang.

Saat ini, tak sedikit orang dewasa yang bersikap seperti anak kecil itu. Tidak memahami agama secara mendalam, tetapi menganggap selain agama yang dianutnya adalah salah dan harus dibasmi. Semua dipaksa untuk masuk agama dia. Padahal Tuhan lebih memiliki hak untuk memilih orang-orang mana yang menganut agama dimana Tuhan ini disembah. Jika terjadi pemaksaan, toh pada akhirnya orang terpaksa menganut agama bukan karena Tuhan, tetapi karena orang. Dan itu bukan konsep agama.

Saat gue SMA dahulu, gue punya teman sekelas yang beragama Islam, namanya Arie. Dia begitu mencintai Tuhannya. Dia selalu membawa AlQuran kecil yang dibacanya saat ada waktu luang. Misalnya saat pergantian pelajaran, tetapi guru belum masuk, atau saat pelajaran kosong. Tak pernah dia paksa orang lain untuk berlaku seperti dia. Tapi gue yakin, dia baca nggak sekadar baca, pasti dia pahami juga isinya. Suatu ketika gue bertanya tentang pendekatan diri pada Tuhan.

“Rie, menurut lo mungkin nggak gue bisa kayak elo?”

“Mungkin aja sih kalo elo dapat hidayah”

“Menurut lo sekarang gue dapat hidayah nggak?”

“Nggak, belum, atau mungkin nggak.”

“Kok bisa, kalo gue make jilbab gimana?”

“Mending jangan, karena kalo lo belum dapat hidayah, kemungkinan besar lo akan buka lagi. Elo ngelakuin itu lebih untuk pemberontakan. Lo anak kesayangan guru matematika karena tiap ulangan bener semua. Guru matematika ngusir anak-anak yang masuk kelas karena kelamaan ijin sholat. Lo nggak suka sama tindakan guru matematika yang ngehalangin anak lain ibadah. Jadi lo mau protes ke guru matematika dengan cara pake jilbab. Gitu kan? Itu namanya bukan hidayah. Elo cuma mau guru matematika kasih kebebasan teman-teman untuk ibadah, dan pengen bikin guru terancam lo ga mau ikutan kompetisi ngewakilin sekolah”

“Ya tapi kan gue melakukan tindakan yang benar, membela orang ibadah”

“Nggak gitu caranya, lagian ada yang lebih menderita soal dihalangi ibadah dibandingkan teman-teman kok. Kan sebenarnya mereka bisa aja ngorbanin waktu istirahat untuk sholat. Kayak elo, istirahat langsung ke musholla, sholat buru-buru biar bisa tepat waktu masuk kelas. Paling nggak kalo mereka sholat tanpa buru-buru pun telat masuknya juga nggak kelamaan dan bukan di tengah-tengah pelajaran ijin keluar. Nah, sekarang gue tanya, lo sendiri sholat karena apa?”

“Ya wajib kan. Namanya wajib kalo nggak dilakuin dosa.”

“Ya itu dia, selama lo ngelakuin karena takut doang. Lo belum dapat hidayah. Lo takut dosa. Orang yang beneran dapat hidayah itu ngelakuin sesuai karena rasa cinta. Pasrah. Tanpa ada pemaksaan. Wajibnya itu karena kalau tidak melakukan berasa ada yang hilang. Bukan sekedar ngelakuin karena harus, dan akhirnya sekenanya yang penting ngelakuin. Selama Tuhan belum kasih hidayah, orang gak bisa mencintai Tuhan sepenuhnya dan melakukan segalanya untuk mendekatkan diri ke Tuhan”

Tuh, keren kan penjelasan temen gue si Arie ini. Padahal masih SMA kelas 1 dulu itu. Sebagus itu pendidikan agama kita di tahun 90an. Orang memeluk agama karena sudah mendapat hidayah. Bagi umat Islam, hidayah itu merupakan hak prerogatif Allah untuk membuka jalan bagi seseorang untuk ikut ke jalan-Nya. Lalu bagaimana mungkin kini banyak orang yang merasa lebih hebat dari Allah memaksa orang untuk memeluk Islam tanpa dasar, dan mungkin yang memaksa sendiri belum diberikan hidayah.

Apakah orang yang memaksa sendiri rela, seseorang memeluk agama karena paksaan dan ketakutan. Lalu apa untungnya untuk yang memaksa dan apa untungnya bagi Allah sendiri? Apakah Allah lebih suka disembah karena dicintai atau karena ditakuti? Apakah Allah rela ada manusia yang mengambilalih tugas-Nya dalam memilih orang untuk mengikuti jalan-Nya?

Semestinya dalam pandangan Islam sendiri bila gue meninggalkan jalan Islam, berarti Allah tidak memberikan gue hidayah. Itu keputusan Allah. Tak ada yang berhak memaksa gue masuk Islam selain Allah itu sendiri. Jangan melangkahi Allah dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi Islam.

Mungkin sebaiknya orang lebih banyak kembali membaca kitab dan memahami dahulu ajaran yang dianut sebelum mengajak orang lain mengikuti apa yang dianutnya. Dan terpenting lagi, awasi anak atas apa yang diajarkan gurunya. Karena tak semua guru mengajarkan budi pekerti yang benar.

Tambahan lagi, marketer yang baik adalah marketer yang bisa menonjolkan value dari produk atau layanan yang sedang dipromosikannya. Jadi bila memang masih mau membujuk seseorang, pahami spesifikasi dan tonjolkan nilai lebihnya, bukan membuktikan keburukannya. Tak ada pelanggan setia yang mau membeli produk atau layanan karena dipaksa atau diancam. Usahakan konsumer memakai produk atau layanan karena memang cinta dengan produk atau layanan tersebut.

 

 

6 Responses to Hidayah Sebagai Hak Prerogatif Tuhan

  1. Anonymous says:

    Seharusnya tidak ada alasan “belum dapat hidayah”. Mungkin ego manusia yang tidak mau menerima dan mengikuti.

    CMIIW

  2. Anonymous says:

    bikin buku yuk, ttg jalan hidup.. mungkin nanti bisa ada inspirasi buat cerita film..

  3. kredit mobil bekas

    Hidayah Sebagai Hak Prerogatif Tuhan | Just A Thought

  4. Aryo says:

    Saya muslim. Tapi saya bangga dengan anda yg menulis artikel ini dengan bijak dan tenang. Terima kasih, tulisan anda sangat berguna untuk menjaga toleransi umat beragama. Karena di indonesia ada lima agama, dan indonesia bukan agama islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: