Tulisan dari Masa Lampau

Niatnya ingin mencari tugas-tugas kuliah jaman S1 dahulu. Tapi apa daya, laptop ini berbeda dengan yang digunakan waktu kuliah di Depok dahulu. Ternyata berbagai dokumen dari masa-masa masih di Elektro itu tidak ada yang dipindahkan ke laptop tercinta ini. Memang sih sudah sempat di burn di CD, tapi semuanya ditinggal di kamar rumah. Padahal sekarang posisi di kos. Dengan perlengkapan tempur yang serba minim. Bahkan sendok garpu dari logam pun tak ada (heh apa hubungannya ya?).

Walhasil, alih-alih ketemu berkas-berkas data jaman kuliah S1, malah ketemu beberapa peninggalan tulisan curhat jaman tahun 2005. Memang berkas tertua di komputer ini tertanggal 2005. Karena memang laptop butut yang sangat berjasa ini diadopsi oleh gue tahun 2005. Agak geli juga baca tulisan-tulisan tersebut. Curhatan mengenai cita-cita jadi penulis. Entah juga, apakah harapan gue itu sudah tercapai, atau sekedar pencapaian asal-asalan. Karena pada dasarnya gue pengen akan bisa bikin karya sastra, sebuat master piece, seperti idola junjungan gue YB. Mangunwijaya. Toh beliau juga berawal menulis karya tulis teknik, dan akhirnya menyeberang ke sastra. Nah sekian dulu kalimat pembukanya.. Berikut ini adalah tulisan yang ditulis pada 26 Desember 2005.

Pengen jadi penulis, tapi hampir sejam di depan monitor, ga satu pun kata gw tulis. Dulu setiap brenti kerja sebelum dapet kerjaan yg baru, gue bisanya menghibur diri sendiri, kalo toh nanti terpaksa nganggur, gue bakalan banyak waktu luang banyak hal yang bisa gue tulis. Gue bisa jadi penulis, tapi kenyataannya sekarang gue coba ngetes sebenernya gue bisa nggak sih nulis. Sejam gue bengong, tapi bingung mau nulis apa, akhirnya gue tulislah kebingunan gue. Padahal kalo gw lagi bengong, lagi nongkrong di kamar mandi atau lagi sikat gigi. Banyak pikiran-pikiran gue nongol, soal kritikan gue terhadap Sutiyoso, kritikan gue buat presiden kita saat ini yang banyak dicintai rakyatnya.

Beberapa kali, dulu waktu gue masih rajin nulis di Agenda, gue suka comot-comot berita dari koran yang bikin gue kesel, gue tulis kekesalan gua, terus gue kirim ke koran harian. He he he, tapi dasarnya gue emang ga bakat nulis kali ya, tulisan gue ga pernah dimuat. Padahal gue ga buat pake tata bahasa kayak gini, tapi lebih pake bahasa yg formal. Mungkin mereka para redaksi itu emang bener, gue belum bisa memaparkan apa yang mau gue utarain dengan baik, maksud gue apa, solusinya apa. Dulu gue pernah complain mengenai Sutiyoso, mulai dari masalah pembangunan patung-patung pahlawan, sampai masalah bus way, yang kenapa lebih diduluin dibanding monorail. Padahal menurut berita yang gue baca proposal monorail udah lebih duluan, dan lebih bisa jadi solusi buat masalah transportasi di Jakarta. Tapi entah kenapa, kok susah bener ya ngomonginnya.

 

Dulu sempat juga gue ngurusin milis yang mungkin bagi sebagian orang ga penting. Soal perempuan-perempuan yang jadi korban kekerasan dan jadi korban pria-pria yang sudah berkeluarga. Awalnya gue urus dengan rajin, gue nyari2 artikel yang berkaitan dengan hukum-hukum yang bisa dipakai untuk melawan tindak kekerasan tersebut. Kekerasan yang sudah terjadi di beberapa daerah. Bahkan beberapa LSM daerah mengikuti milis tersebut. Tapi ketika beberapa LSM itu mulai mengandalkan milis itu untuk nyari tau soal gimana cara ngehubungin antara tindak kekerasan dengan tindakan yang dilakukan di Jakarta, sementara di Jakarta sendiri gue ga ada kontak langsung sama LSM perempuan di Jakarta, gue bingung sendiri, apa gw sanggup kalo udah waktunya ngambil tindakan nyata bukan sekadar milis. Akhirnya milis itu lama kelamaan terbengkalai.

 

Setelah gue renungin, gue renungin lagi, renungin dalem-dalem, kadang gue punya niat sekadar niat, gue coba wujudin, tapi gue ternyata ga punya nyali untuk ngewujudin itu secara total. Banyak rasa ketakutan yang muncul dalam diri gue. God, apa mungkin gue bisa sukses dengan kemampuan gue yang Cuma segini ini. Mau jadi apa aja gue belum tau. Gue belum yakin. Akhirnya gue selalu ragu-ragu dalam bertindak, kadang malah gue ngerasa bisanya Cuma ngomong doang.

 

Dulu juga pernah gue pengen bikin buku, soal pengalaman mahasiswi yang bukan seorang aktivis, tapi latar belakang ceritanya dibuat mengenai perubahan sosial politik yang terjadi di Indonesia, mulai dari kerusuhan, suksesi presiden, kenaikan BBM dan masih banyak lagi. Yang rencananya dibuat berdasarkan 8 semester, tapi baru selesai semester 1, 4 dan 5 udah berhenti duluan. Semuanya gue buat berdasarkan titik-titik tanggal peristiwa penting yang tercatat di agenda gue. Karena gue emang suka aja nginget-nginget sesuatu berdasarkan petunjuk tanggal-tanggal penting di Agenda gue itu, soal apa yang gue pikirin waktu angkot yg gw naikin macet banget karena barisan kendaraan yang ngantri BBM di daerah kelapa dua depok. Sebenernya waktu gue nulis agenda nggak ada niat khusus dari gue buat bikin cerita, tapi semata-mata Cuma tindakan pencegahan supaya orang ga tau apa yang gue pikirin karena agenda gue sering kegeletak di mana-mana. Dari pada orang yang baca tau tentang rahasia gue, mending gue tulis petunjuk aja.

One Response to Tulisan dari Masa Lampau

  1. hanhan says:

    Hehehe kenangan masa lalu, tapi berhasilkan saat ini….🙂

    Keep writing….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: