Management

October 24, 2009

Management

Film drama komedi romantis ini bercerita mengenai keluguan cinta seorang pria sedikit udik, Mike (Steve Zahn). Sayang pada awalnya wanita yang ditaksir Mike ini nyaris tidak menggubris keberadaannya. Sue Claussen (Jennifer Aniston) adalah seorang wanita karir yang kebetulan menginap di hotel milik ibu Mike. Berbagai cara digunakan Mike untuk menarik perhatian Sue. Tak ada yang luar biasa dari plot cerita, bahkan cenderung agak lamban. Tapi entah kenapa gue agak tertarik dengan esensinya yang sedikit menggelitik. So, jangan protes ya kalau gue lebih fokus menceritakan film ini yang udah dicampuraduk dengan opini gue. Moral of the story, cintai dengan tulus tanpa syarat. Sambil berharap someday ada pria lugu yang mencintai diri gue secara total yang sama sekali nggak ngelirik perempuan lain, just like Mike.

Read the rest of this entry »


Inglorious Basterds

October 24, 2009

basterd

Jangan berharap untuk belajar sejarah Jerman dari film ini. Walaupun berlatarkan sejarah, namun film ini hanya rekaan Quentin Tarantino belaka. Layaknya film-film Tarantino yang lain, film ini dipilah dengan chapter-chapter. Berlatarkan masa pendudukan Jerman di Perancis, setting yang disajikan begitu menarik. Akting yang memukau dari Christoph Waltz yang berperan sebagai Col Hans Landa membumbui keseluruhan film. Sayang aktor konyol Mike Myers hanya muncul sekilas pada film ini sebagai General Ed Fenech, perwira Inggris yang merencanakan operasi Kino. Inglorious Basterd sendiri adalah kelompok pembasmi Nazi yang dikepalai oleh Lt. Aldo Raine (Brad Pitt), orang Amerika yang merekrut jagoan-jagoan pembasmi Nazi. Alur cerita yang cukup gila, dipadu dengan beberapa adegan sadis, sanggup mengocok perut dengan kekonyolannya. Sayangnya film ini terkesan agak maksa endingnya. Kenapa tiba-tiba tokoh Landa yang begitu hebat dan tak pernah bisa dikelabui sekonyong-konyong berbalik arah dan dengan begitu mudahnya dijebak justru pada posisi sedang di atas angin. Secara keseluruhan sih, film ini sangat layak tonton.

Read the rest of this entry »


Milk

October 21, 2009

Beralih dari resensi dua film ringan untuk menghangatkan otak, gue beralih mencoba mengulas film yang lebih serius. Seperti biasa, film favorit gue adalah yang berdasarkan kisah nyata. Harvey Milk (Sean Penn) seorang aktivis gay yang mencoba terjun di dunia politik. Sebenarnya keinginannya ini terinspirasi oleh perlakuan yang tidak adil saat dia membuka usaha toko kamera dengan kekasihnya, Scott Smith (James Franco). Beberapa kali gagal pemilihan, akhirnya dia berhasil terpilih sebagai supervisor kota dan membuat perubahan dengan menentang peraturan tentang diskrimasi terhadap pekerja gay. Beberapa adegan intim pasangan gay tidak digambarkan secara vulgar. Plot dengan alur yang mundur maju lumayan nyaman disimak walau ada sedikit cerita yang terloncat. Entah karena gue kurang begitu menyimak dengan serius atau memang ada alur yang sedikit lompat. Film ditutup dengan adegan yang agak tragis, namun memang sudah diceritakan pada awal film. Mengenai penembakan sang walikota, George Moscone (Victor Garber) dan Milk. Namun kematian mereka justru tidak memupuskan perjuangan para kaum homoseksual.

Read the rest of this entry »


I Hate Valentine’s Day

October 21, 2009

Cukup lima kencan untuk setiap pria. Sehingga masing-masing tak ada saling punya harapan lebih, tak ada sakit hati saat perpisahaan. Tak ada perasaan mendalam. Hal tersebutlah yang menjadi prinsip kehidupan cinta Genevieve Gernier (Nia Vardalos) seorang pemilik toko bunga yang selalu ceria. Tak pernah murung dan sedih, berkat resep hubungan ringan tersebut. Namun apa jadinya kalau tiba-tiba asmara tumbuh, dan terjadi kesalahpahaman jumlah hitungan kencan dari kedua belah pihak? Apa iya, jurus jitunya tersebut akan selamanya mujarab? Komedi romantis ringan ala Hollywood ini memang memiliki alur cerita yang begitu standar dan mudah ditebak.

Read the rest of this entry »


The Ugly Truth

October 21, 2009
The Ugly Truth

Kalimat pertanyaan yang paling berpengaruh bagi gue dari film ini adalah “They say they want true love? But all they want is a check list. Is he Perfect? Is he handsome? Is he a doctor? For you men who fit the criteria. Do catch yourself, because the’re not sleeping with you. You’re sleeping with the carefully calculated sad of full choices…. A girl need for two guys, will always choose the better one with a resume.” yang dikatakan oleh Mike Chadway (Gerard Butler), salah satu talent kepada produsernya, Abby Richter (Katherine Heigl) . Menyedihkan ya, suatu ironi bahwa terkadang memang kita mencari-cari pasangan berdasarkan daftar kriteria-kriteria yang sudah kita tentukan. Kriteria yang cenderung sempurna, yang nyaris sulit ditemukan. Tapi ketika memang benar orang yang menyandang segala predikat tersebut ada. Apakah benar-benar cinta yang dirasakan satu sama lain? Apakah kita sanggup tidur dengan sebuah daftar tanpa jiwa? Dan bagi Anda, pria yang sesuai dengan daftar tersebut, apakah Anda bersedia tidur dengan seorang wanita menyedihkan yang begitu memperhitungkan pilihannya. Kenyataan buruk lain lagi adalah… Jika wanita dihadapkan dengan dua pilihan pria, apakah benar dia akan menentukan pilihan ke pria yang memiliki riwayat hidup lebih baik? Komedi sinis ini cukup menggelikan dan bisa menjadi hiburan ringan.

Read the rest of this entry »


Biarkanlah

September 3, 2009

anang

Biarkanlah kutentukan jalanku

Biarkanlah kutentukan sikapku

Kini kuingin menikmati duniaku

Mungkinkah kau mengerti akan aku

Lebih baik tinggalkan ku sendiri

Bosan diriku meredam emosi

Jalan hidup yang engkau tawarkan

Kurasakan itu bukan jalanku

Biarkanlah kubegini ini hidupku

Biarkanlah kubegini ini mauku

Biarkanlah kubegini ini jalanku

Kau datang lagi mencoba untuk merubah

Jalan hidupku yang tengah kutempuh

Lupakan saja kutak mungkin mengalah

Simpanlah semua mimpi padamu

Takkan menyerah aku arungi hidup ini

Walau kau datang sejuta prahara

Kuyakin hidup kan berganti cerita

Lupakan kisah cinta kita

Ooooh


Merantau

August 16, 2009

MerantauPoster

Sebenarnya gue nonton film ini lebih dahulu ketimbang nonton Merah Putih, tapi semangat mencela film ini masih rada mending jadi masih bisa gue tunda reviewnya. Film ini disutradarai oleh Gareth Evans, tapi jangan berharap film ini bisa sekelas film-film holywood. Film ini lebih kacangan ketimbang film-film karya anak bangsa. Adegannya agak-agak over, terutama adegan yang berlinangan darah. Warna darah kadang-kadang pink, kadang merah kadang ungu. Baik aktris dan aktor ga terlalu jauh dari make up lebam-lebam dengan nuansa pink dan ungu.

Dimeriahkan oleh aktris kawakan Christine Hakim dan aktor favorit gua, Dony Alamsyah. Bintang utama film ini adalah pendatang baru, yaitu Iko Uwais yang berperan sebagai Yuda. Konon dia dipilih karena memang pesilat kawakan. Dari segi tampang lumayanlah dengan gigi gingsulnya. Tapi lafal dialog kurang jelas, entah memang disengaja untuk menggambarkan bahwa dia putera daerah atau memang aslinya begitu. Dari segi cerita, sedikit ada kematangan, setidaknya sutradara tidak terlalu bingung mengarahkan alur cerita. Tentang seorang anak laki-laki yang secara adat Minangkabau harus merantau sebagai salah satu tradisi. Di perjalanan dia bertemu dengan seorang pesilat juga yang nantinya akan beberapa kali bertemu sampai akhirnya harus bertarung. Agak OOT pesilat lain yang bernama Eric ini diperankan oleh Yayan Ruhian yang muka monyongnya bikin gue dan temen gue tertawa tergelak-gelak sepanjang film. Sumpah nggak lucu, tapi karena mirip seseorang, yang seharusnya adegan menegangkan malah bikin ketawa.

Read the rest of this entry »


Merah Putih

August 14, 2009

merah-putih

Seandainya Sinema-Indonesia.com masih aktif mereview film-film Indonesia, gue yakin, film “Merah Putih” yang konon skenarionya ditulis oleh dua orang bule bernama Connor Allyn dan Rob Allyn akan meraih nilai lima kancut atau lima kolor. Entah apa yang ada di otak dua orang bule ini, dari segi cerita yang diangkat alurnya aneh, ngalor ngidul gak jelas. Tidak ada konflik yang matang, serta tidak ada karakter yang kuat dari setiap tokohnya.

Jika menonton film ini, dijamin, sinetron Indonesia jadi akan terlihat lebih bermutu. Betul-betul miris rasanya menjalani siksaan menonton film ini. Rasanya aktor-aktor muda yang terlibat dalam film ini seperti bunuh diri bersama dalam karir akting mereka. Padahal tiga aktor yang berperan dalam film ini merupakan favorit saya, yaitu Lukman Sardi sebagai Amir, Dony Alamsyah sebagai Tomas dan T. Rifnu Wikana sebagai Dayan. Ketiga aktor tersebut sering tampil di layar lebar walaupun sekadar sebagai pemeran pembantu. Lukman dan Dony pernah bermain bareng dalam Sembilan Naga dan T. Rifnu Wikana, selain sering mendapat peran pembantu juga aktif dalam teater. Selain ketiga aktor tersebut, ada juga dua badut tambahan yang berperan sebagai tokoh-tokoh utamanya, yaitu Darius dan Zumi Zola. Terus terang gue sebenernya bingung juga, siapa tokoh utamanya saking tidak adanya karakter yang kuat.

Read the rest of this entry »


Perempuan Punya Cerita

July 5, 2009

Film ini terdiri dari empat potongan cerita, masing-masing cerita disutradarai oleh Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo dan Fatimah T. Rony.

Read the rest of this entry »


Mau (beli) Tidur

June 12, 2009

by Slank

Aku mau tidur tapi mata ini nggak juga menutup

Aku sudah ngantuk tapi otak melayang nggak menentu (uahhhh…)

Teringat mimpi-mimpi sampai saat ini belum juga nyata

Waktupun tertawa (ha…ha…) menyeret langkahku yang semakin tua

Aku langsung bangun dan bakar rokok

Kutendang-tendang ranjangku yang bobrok

Mengapa aku masih di kamar ini

Apa mesti mimpi itu kubeli… (mahal)!

Aku rebah lagi…

Mencoba untuk menutup mata lagi

Tapi masih saja…

Pikiran itu-itu lagi yang datang

Aku bangun lagi dan bakar rokok

Kutendang-tendang ranjangku yang bobrok

Mengapa aku masih di kamar ini

Apa mesti mimpi itu kubeli…

Hey kamar… gue udah muak disini

Gue harus pindah dari sini

Tapi gue belum mampu untuk pergi, gimana???

Uuuoooooohhh yeahhh….

Aku langsung bangun dan bakar rokok

Kubanting-banting ranjangku yang bobrok

Mengapa aku masih tetap disini

Apa mesti mimpi itu kubeli…

Apa mesti tidur itu dibeli

Sekarang segalanya bisa dibeli

Mengapa aku masih tetap disini

Karena memang mimpi itu harus dibeli!!!