Teater Roro Mendut

April 14, 2012

Sebagai pemilik blog dengan nama Roro Mendut, tentu hukumnya wajib untuk nonton pementasan Roro Mendut. Terus terang agak kecewa dengan alur cerita yang banyak dipelintir saat pementasan, padahal di sinopsis booklet yang diberikan sudah lumayan benar. Ditambah lagi banyak kesalahan teknis berupa buruknya audio untuk suatu teater dengan harga tiket yang cukup mahal ketimbang harga tiket dari teater-teater yang lebih berpengalaman seperti Teater Koma dan Teater Gandrik.

Sempat disebutkan bahwa Roro Mendut adalah anak dari Adipati Pragolo, seorang Adipati dari kadipaten Pati. Padahal pada versi Mangunwijaya, Roro Mendut adalah seorang anak nelayan dari pesisir pantai utara yang diboyong oleh Adipati Pragolo untuk dijadikan selirnya. Namun pada beberapa versi memang Mendut diasuh Adipati Pragolo sejak kecil, tetapi pada versi ini justru Pragolo yang mempersembahkan Mendut ke Wiroguno. Sedangkan versi teater ini lebih mirip versi Mangunwijaya, dimana Roro Mendut merupakan rampasan perang ketika Pati berhasil ditaklukkan oleh Mataram. Mungkin cerita ini dipelintir agar tidak menimbulkan pertanyaan, mengapa Roro Mendut begitu gigihnya menolak dijadikan selir oleh Wiroguno sedangkan saat diboyong ke Pati dia tidak menolak.

Pada pementasan di siang hari, mic Adipati Pragolo sudah jelas noise, entah mengapa ketika ada kesempatan ganti adegan, mic tersebut tidak diganti dan tetap menggunakan mic yang noise.

Saat Pati sudah dapat ditaklukkan oleh Wiroguno, Roro Mendut pun diboyong ke Wirogunan. Ketika adegan percakapan antara Nyai Ageng (istri Wiroguno), Wiroguno dan Roro Mendut, tidak disebutkan asal muasal mengapa Roro Mendut mengambil solusi untuk berjualan puntung-puntung rokok bekas hisapannya. Terkesan Roro Mendut melakukan itu hanya karena tidak ingin terkurung di Wirogunan. Padahal hal tersebut adalah cara Roro Mendut agar dapat membayar pajak yang ditetapkan oleh Wiroguno. Malah di adegan tersebut ketetapan pajak justru dikenakan jika Roro Mendut mau keluar berjualan rokok. Itu pun hanya dibilang hasil lintingan Roro Mendut, bukan puntung hasil hisapan Roro Mendut.

Asal Pronocitro juga digambarkan dengan latar orang-orang desa yang banyak membawa cangkul, seolah-olah dia dari daerah pertanian. Padahal Pronocitro adalah anak Singobarong yang merupakan pengusaha lautan.

Akhir cerita Roro Mendut pun ada berbagai versi. Teater ini memilih akhir cerita Roro Mendut yang bunuh diri menyusul kekasihnya, Pronocitro. Pada versi yang lain, Roro Mendut terbunuh oleh keris Wiroguno saat melindungi Pronocitro yang akan kalah bertarung melawan Wiroguno. Keris tersebut membunuh Roro Mendut dan Pronocitro sekaligus.

Mungkin ekspektasi saya terhadap teater Roro Mendut yang dipentaskan di Teater Jakarta, TIM pada 14 April 2012 ini terlalu besar, sehingga ketika ada beberapa cerita yang dipelintir agak kecewalah saya… Padahal jika membaca sinopsis pada booklet yang dibagikan, alur ceritanya sudah benar walau banyak sekali typo error pada ejaan beberapa konten booklet. Termasuk profil Pronocitro yang isinya masih profil Wiroguno. Sayang sekali, untuk tiket yang lebih mahal ketimbang teater senior, banyak sekali kekurangan teknis di sana sini. Ada baiknya jika para sosialita menjadikan teater-teater senior sekelas Teater Koma dan Teater Gandrik sebagai acuan. Agar penggemar teater tidak kecewa dengan pementasan yang hanya sekedar menjual artis-artis ternama, namun dengan konsep yang kurang matang.

Tabik,

Seorang penggemar Roro Mendut.

Pragolo, Istrinya dan Mendut

Mendut dan Pronocitro

Para Pemain


Flying Like A Phoenix

June 5, 2011

Kutipan  ”That which does not kill us makes us stronger” dari Friedrich Nietzsche mungkin paling pas menggambarkan sosok Phoenix. Sang burung api tak mati-mati atau selalu bangkit kembali setelah terbunuh dalam kawah gunung api. Apa yang tidak membunuh kita akan membuat kita semakin kuat. Hal tersebut benar adanya. Melongok pada para tokoh-tokoh yang selamat dari pengalaman nyaris mati, biasanya mereka menjadi lebih kuat dan tak segan merangkul dan membantu sesama agar terhindar dari pengalaman buruk yang serupa.

Semalam saya membaca kisah hidup salah seorang musisi yang saya kagumi, yaitu Indra Qadarsih dari blog salah seorang fansnya. Beliau selamat dari beberapa pengalaman yang nyaris merenggut maut karena ketergantungannya pada narkoba. Tetapi kini Indra menjelma menjadi sosok yang relijius, tak segan membantu para musisi lain, atau bahkan kepada para fansnya sekalipun. Jika membaca twitternya akan sering terlihat ucapan “Selamat bahagia!”, maka energi positif dan racun-racun bahagia pun menyebar pada semua followernya. Sama sekali tidak terlihat sikap arogan atau sok ngartis, padahal prestasinya bukan main-main. Selain virus bahagia, kesadaran untuk terus bersyukur pun ditularkan olehnya. Kini dia pun hidup bahagia dengan dikaruniai istri dan anak.

Read the rest of this entry »


No String Attached

May 7, 2011

Mari memulai pagi ini dengan film picisan. Film ini layak ditonton muda-mudi yang masih yakin dengan adanya cinta. Layaknya film percintaan pada umumnya, alur film begitu mudah ditebak. Begitu pula adegan-adegan konyol yang menggelitik, khas film komedi cinta biasa. Tak membutuhkan intelegensia tinggi dan keseriusan untuk menonton film ini. Semuanya begitu ringan untuk dinikmati tanpa berpikir. Padahal dua bintang ternama, yaitu Ashton Kutcher dan Natalie Portman yang memerankan kedua tokoh utama. Bahkan Natalie Portman meraih piala Oscar untuk film Black Swan sebagai pemeran wanita terbaik.

Sekilas isi cerita menggambarkan persahabatan antara seorang anak laki-laki dan perempuan. Si laki-laki adalah anak seorang movie maker, dan si anak perempuan, merupakan gadis kecil culun dari keluarga yang biasa-biasa saja. Ketika menginjak sudah memasuki masa kuliah, mereka pun secara tak sengaja dipertemukan kembali. Emma mengajak Adam untuk menemaninya ke suatu acara konyol, yang ternyata adalah pemakaman ayahnya. Dia sendiri tak ada rasa sedih atau kehilangan layaknya seorang anak kehilangan orang tua. Berbeda dengan ibunya yang tampak begitu rapuh.

Read the rest of this entry »


Season of the Witch

May 6, 2011

Sebenarnya gue nonton film Season of the Witch ini sekitar pertengahan Januari lalu. Selepas dari jenuh menyusun salah satu buku. Bersama dengan senior idaman *halah penting banget ya, diceritain*. Seperti biasa, gue nonton film tanpa membaca resensi terlebih dahulu, agar lebih dapat mengikuti keinginan sang sutradara menggiring penontonnya. Jadi sebelum nonton, gue pikir film ini ada hubungannya dengan The Sorcerer’s Apprentice yang juga dibintangi oleh Nicolas Cage. Tetapi ternyata tidak ada kaitannya sama sekali.

Film ini mengambil setting abad 14. Dimana penyihir menjadi masalah yang sensitif. Setiap orang yang dicurigai sebagai penyihir akan langsung dieksekusi mati, tanpa pengadilan yang manusiawi. Kalau di Indonesia layaknya pembantaian orang yang dicurigai sebagai PKI pada jaman Orde Baru atau pemberantasan aliran-aliran yang dianggap sesat seperti Eden dan Ahmadiyah mungkin *tuh melenceng lagi kan reviewnya*.

Read the rest of this entry »


?

May 6, 2011

Pro kontra film “?” garapan Hanung Bramantyo yang banyak digembar-gemborkan televisi maupun Twitter, akhirnya membuat gue penasaran untuk nonton. Apalagi konon katanya sempat menyinggung Banser (Barisan ANsor SERbaguna), walaupun belakangan FPI yang mendemo film ini. Lho kok makin blur ya? Tapi setelah gue nonton film ini, kok rasanya datar aja ya.. kayaknya lempeng gak ada yang istimewa. Nggak ada yang perlu diprotes, tapi nggak ada yang bikin film ini jadi sangat menarik. Malah timbul kecurigaan gue kalo kontroversi yang timbul bisa-bisanya si Hanung aja.

Awalnya penonton dibuat meraba-raba karakter dan kehidupan setiap tokohnya. Rika, seorang ibu yang pindah agama dari Islam menjadi Katolik. Dari awal film sebenarnya tidak dijelaskan faktor apa yang menyebabkannya berpindah. Namun persepsi penonton digiring seolah-olah Rika pindah agama karena suaminya ingin berpoligami. Ini pun gue baca dari salah satu blog yang mebahasakannya menjadi “Murtad karena poligami”. Itu bahasa dia ya bukan gue, katanya tindakan Rika tidak logis. Walaupun bagi gue sih logis-logis aja, setiap orang kan berbeda-beda, tindakan Rika masih bisa dibilang logis ketimbang alur cerita sinetron. Toh gue pun sempat benar-benar muak sama agama yang membolehkan poligami. Walaupun sekarang gue anggap hukum itu bisa-bisanya aja orang kegatelan yang mau melintir hukum agama.

Read the rest of this entry »


Doubt

May 6, 2011

Sebelum film “Julie & Julia”, ternyata Amy Adams dan Meryl Streep juga pernah berakting bareng di film “Doubt”. Film ini mendapat 5 nominasi piala Oscar dan 5 nominasi Golden Globe. Berlatarkan suasana sekolah Katolik di Bronx pada tahun 1964, dimana isu ras masih menjadi hal yang sensitif. Meryl Streep berperan sebagai Suster Aloysius Beauvier, seorang kepala sekolah dengan disiplin yang ketat cenderung kolot. Banyak murid yang takut dengan kedisiplinannya. Sebaliknya Amy Adams memainkan tokoh Suster James, yang berperangai lemah lembut.

Konflik pada film terjadi ketika Suster James mencurigai Pastur Flynn (Philip Seymour Hoffman) melakukan pelecehan seksual pada salah satu murid. Walaupun Suster James sering dikritik oleh Suster Aloysius Beauvier mengenai caranya mengajar yang penuh toleransi, namun Suster James masih mau menceritakan kecurigaannya tersebut pada Suster Aloysius Beauvier. Tetapi dia menyatakan bahwa itu hanya sebatas kecurigaan, karena dia sendiri tidak pernah melihat kejadian atau bukti nyata.

Read the rest of this entry »


Dogma

May 4, 2011

Bagaimana jika ternyata Yesus keturunan kulit hitam dan Tuhan adalah perempuan? Eits, jangan marah dulu atau menuduh penistaan agama. Hal ini ada dalam film Dogma. Film komedi yang banyak bertaburan bintang ini dijamin akan mengocok perut, syaratnya tidak memiliki fanatisme brutal terhadap suatu agama. Walau konyol, tetapi ada juga nasehat bijak yang terkandung dalam film. Malah mirip dengan pernyataan yang dikutip di film Tanda Tanya garapan Hanung. Intinya tidak ada agama yang paling benar, yang penting manusia memiliki kepercayaan dan meyakininya sepenuh hati.

Film ini diisi oleh bintang-bintang ternama, Alanis Morisette sebagai Tuhan, Alan Rickman sebagai Metatron (pembawa pesan Tuhan), Ben Affleck, Matt Damon, Chris Rock, Salma Hayek, Jason Lee dan masih banyak lagi.

Read the rest of this entry »


Satu Jam Saja

May 3, 2011

Tadinya tertarik nonton film ini gara-gara sampul cover dua cowo tampan idaman, Vino G Bastian yang berbadan seksi dan Andhika Pratama dengan tampangnya yang imut-imut. Alhasil niat terhibur, malah jadi terisak-isak sedih. Film ini bercerita tentang persahabatan tiga insan manusia yang berakhir tragis. Gadis (Revalina S. Temat), Andika (Vino G. Bastian) dan Hans (Andhika Pratama) awalnya saling bersahabat. Begitu pun kedua orang tua Gadis dan Andika.

Entah apakah ada cinta sepasang insan manusia di antara para sahabat itu atau tidak. Ketika Hans dan Gadis dalam suatu misi memberikan kabar gembira mengenai beasiswa yang diraih oleh Andika. Malah terjadi suatu musibah. Hans mengambil kesempatan saat sedang berdua di perjalanan. Hingga akhirnya Gadis pun hamil. Sempat kebingungan, kabur dari rumah dan berencana menggugurkan kandungan.

Read the rest of this entry »


Suck Seed

May 3, 2011

Setelah absen beberapa lama, akhirnya gue ngeblog dan bikin review film lagi. Dengan wajah blog yang baru dan url yang baru tentunya. Review film pertama setelah lama absen bukan film Indonesia atau film barat. Suck Seed adalah film abg Thailand (nontonnya juga bareng abg :p). Alur film ini memang standar film abg, tentang cinta yang masih malu-malu kucing. Lebih meriah dengan musik-musik pop rock para musisi Thailand.

Alkisah, seorang anak laki-laki yang culun bernama Ped. Dia begitu kuper, sampai-sampai tidak tahu satu jenis lagu pun. Ketika pelajaran menyanyi dia sampai harus dibantu Ern, seorang gadis kecil cantik yang memiliki pengetahuan musik luas. Tak heran, karena di rumahnya orang tua Ern memiliki usaha toko musik. Ern pun bercita-cita untuk menjadi musisi. Ped memiliki sahabat bernama Koong yang merupakan anak kembar. Di masa kecilnya, Koong juga berambisi menjadi musisi. Dia kemana-mana hampir selalu menenteng gitarnya.

Read the rest of this entry »


Rory Gilmore dan Candy (Another Perspective of 3 Men)

February 21, 2011

Lagi-lagi tulisan iseng untuk me-recharge mood nulis 35 review aplikasi tablet dalam 2 hari. Dan lagi-lagi masih terinspirasi tulisan Anggun tentang Candy – A Perspective of 3 Men in Female’s Life. Kali ini gue mau bandingin dengan Rory Gilmore, tokoh di serial Gilmore Girls. Terus terang, dulu Rory Gilmore lebih gue idolakan ketimbang Candy karena sifatnya yang lebih cuek dan betah tenggelam sendirian dalam buku-bukunya. Beda dengan Candy yang selalu ramah dan riang menyapa orang.

Tak jauh berbeda dengan Candy, dalam hidup Rory pun diwarnai oleh tiga pria yang berbeda. Walaupun dalam rentang waktu yang lebih cepat. Karena cerita Rory dimulai sejak SMP hingga lulus kuliah, dan terputus ketika dia memutuskan untuk meliput ekslusif perjalanan Barack Obama jadi Presiden. Sedangkan Candy dari bayi hingga bekerja sebagai misionary di era Perang Dunia.

Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 298 other followers