Agora

July 4, 2010

Sekilas melihat posternya saja gue bisa tebak, ini film bagus. Cerita sangat berbobot, bahkan membuat gue menemukan seorang idola baru gue. Seseorang yang memiliki karakter sangat kuat, dialah Hypatia.

Berlatarkan tahun 391 AD di Mesir, tepatnya di Alexandria. Kerajaan ini patuh pada aturan kerajaan Roma.  Saat itu sedang terjadi kristenisasi di Roma. Pada awalnya yang sedang berjaya di Alexandria adalah ajaran politeisme atau menyembah para dewa. Para pengikut Kristen tidak diperbolehkan berada di sekitar istana Alexandria. Bahkan dengan memeluk Kristen, seseorang dapat dianggap membangkang. Hal tersebut diilustrasikan ketika seorang budak diberi hukuman karena ketahuan memiliki salib. Namun hal tersebut tak berlangsung lama ketika Kristen dan Yahudi diperbolehkan masuk oleh aturan Roma, malah terjadi anarkisme yang dilakukan para penganut Kristen. Segala hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan ilmu pengetahuan dimusnahkan. Patung dewa-dewa dirobohkan, dan naskah-naskah ilmu pengetahuan dibakar.

Read the rest of this entry »


Resepsi Pernikahan

May 24, 2010

Ketika obrolan ini dilakukan, gue dan seorang sahabat gue yang juga masih jomblo sedang duduk-duduk di lounge sambil menunggu film bioskop diputar.

Gue: Kalau nikah, lo mau pake resepsi atau nggak?

Dia: Maksudnya? Lo ngajakin gue nikah gitu?

Gue: Bukaaaan, tapi sampai sekarang gue nggak ngerti manfaat resepsi pernikahan.

Dia: Ya itu namanya syukuran, membagi kebahagiaan dengan orang lain yang diundang.

Gue: Tapi apa iya orang yang diundang akan merasakan kebahagiaan? Bukannya kadang orang-orang yang diundang jadi serba salah? Kadang jadi terpaksa datang juga, belum lagi kalau banyak resepsi yang harus didatangi. Gue lihat status facebook orang ada kok yang ngeluh karena di hari itu tanggal tua jadi harus keluar duit juga untuk ngasih amplop di resepsi. Belum lagi kalau ada undangan yang bentrok. Jadi bingung sendiri kan mau datang resepsi yang mana. Banyak uang dan waktu yang terbuang percuma, orang yang menikah harus keluar banyak dana untuk resepsi toh yang datang juga harus keluar duit, tapi itupun gak balik modal. Sayang kan kalo uang segitu banyak kebuang hanya untuk satu hari saja, itu pun bukan satu hari penuh, tapi hanya beberapa jam saja. Sedangkan pernikahan itu kan maunya untuk selamanya, jadi jangka waktunya lebih panjang. Mending dananya buat modal bangun rumah tangga yang baru dibentuk. Trus apa iya bagi-bagi kebahagiaan? Gimana dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul buat orang yang masih jomblo di resepsi itu, kadang kan ada yang iseng ngelontarin pertanyaan “kapan nyusul?” nah itu malah bisa bikin orang jadi risih. Bagi gue resepsi pernikahan itu nggak praktis.

Dia: Gue sih setuju saja sama elo, mungkin keluarga gue bisa untuk terima gak ada resepsi. Tapi terkadang keluarga cewe atau cewenya sendiri kan gengsi untuk gak ngadain resepsi. Ya kadang itu jadi ajang untuk pamer juga.

Gue: Ya karena memang sudah dibentuk paradigma yang seperti itu. Tapi coba lihat deh, gue pernah tulis di salah satu blog gue, judulnya Ide itu Punya Kaki. Di tulisan itu gue kasih contoh, gimana ada pergeseran nilai resepsi itu sendiri. Dulu ngasih uang atau amplop itu kan sempat dianggap tabu, normalnya dulu bawa kado atau bingkisan. Tapi berkat ada yang berani membuat dobrakan dengan menyisipkan sepotong kertas di undangan yang isinya kira-kira “tanpa mengurangi rasa hormat, mohon hadiah tidak dalam bentuk bingkisan/karangan bung”. Awalnya hal itu kan terasa aneh. Tapi lama-lama jadi biasa, yang akhirnya tanpa sisipan potongan kertas itu orang inisiatif untuk ngasih amplop uang aja ke resepsi. Padahal tanpa itu, awalnya pasti sama-sama bingung. Si mempelai dapat begitu banyak barang yang jenisnya hampir sama akhirnya jadi nggak terpakai, dan tamu yang diundang juga agak repot cari-cari bingkisan. Kalau di luar negeri mungkin ada juga yang agak nyentrik dengan menyertakan daftar kado yang dibutuhkan lengkap dengan tempat barang itu bisa dibeli saat ngirim undangan. Tapi kan kalau tamunya ratusan jadi ga efektif juga.

Dia: Iya juga sih Ndah, tapi mungkin sifatnya lebih ke pengumuman bahwa kedua mempelai sudah menikah. Kalau menurut gue, biar nggak repot pasang saja pengumuman iklan telah menikah di koran ya?

Gue: Hmm, menurut gue masih nggak efektif sih, soalnya kan pasang iklan di koran juga tetap keluar uang, dan belum tentu kena sasaran. Toh belum tentu teman-teman dekat yang kenal baca, malah yang baca kemungkinan orang-orang yang ga kita kenal. Sebenarnya ada lho solusi yang lebih murah dan kena sasaran kalau memang sifatnya cuma berupa pengumuman. Pasang saja di jejaring sosial, seperti Facebook atau Friendster. Daftar teman-teman kita kan pasti orang-orang yang kita kenal, jadi mereka dapat informasinya bukan orang lain dan gratis pula. Mungkin gak ya, dari peralihan resepsi pernikahan yang tadinya tanda suka cita dikasih dalam bentuk bingkisan ke uang, bisa beralih lagi, jadi tanpa resepsi dan cukup pengumuman di Facebook.

Obrolan kami pun terputus, karena sudah ada panggilan untuk studio tempat film yang akan kami tonton diputar.


Kura-kura itu sudah tiada

March 30, 2010

Sepanjang perjalanan malam itu hujan lumayan deras, untung sesampai di parkiran kantornya air yang tercurah dari langit sudah mulai bersahabat. Tak perlu membawa payung, gue pun berlari kecil menuju lobby kantor. Banyak orang berkerumun di pintu depan lobby, tak ada yang gue kenal. Seorang editor baru menawarkan pertolongannya memasuki ruang edit bagian luar. Sesampainya di situ, gue pun terduduk, gue lihat dua sosok yang gue kenal, Ayu dan Tony. Ayu, yang dulu terasa kurang akrab memandang dengan ramah dan bersahabat. Sekilas gue pun memahami. Dia pernah mengalami apa yang gue rasakan, dan gue yakin dia tau apa yang gue tau. “Mau ke ruangan Socrates Ndah?”, tanyanya seraya tersenyum ramah. Gue pun bersalaman layaknya orang yang sudah berteman lama, dia pun mengantar gue ke ruang kerja Socrates. Dia dijuluki Socrates karena konon sering mengenakan kaos Socrates, pemain Brazil tahun 70-80an.

Masuk dalam ruangan tersebut, gue menepuk pundak Socrates dari belakang. Sekilas jadi ingat adegan Jill yang tiba-tiba kembali menghampiri Bailey setelah sekian lama menghilang. Socrates pun menoleh dan menampilkan reaksi yang sama seperti Bailey. Gue terdiam melihat patung Kuda kayu berukuran sedang yang terpajang di mejanya. Patung sepasang kura-kura dengan topi tani yang gue beli bareng dulu sudah tidak ada. Obrolan basa basi pun terlontarkan, tanpa mempedulikan beberapa anak baru yang cukup heran dengan keakraban kami berdua. Namun beberapa orang lama tampaknya cukup mahfum. Karena haus, gue pun minta minum. Dia mengambilkan termos botol minum dari tasnya. Lagi-lagi gue sedikit bertanya-tanya, kemana gerangan ya gelas biru melamin pasangan dari gelas minum gue. Gelas yang selalu gue bawa dan pakai di keempat kantor yang pernah jadi tempat kerja gue.

Read the rest of this entry »


Human Bonding

March 27, 2010

Ini bukanlah judul film, namun hanya salah satu judul episode dalam serial Party of Five season 4. Entah kenapa, semalam gue mimpi cukup aneh, paginya gue meneruskan nonton Party of Five persis pada episode ini. Di season 4 serial ini, Charlie mengidap kanker, Julia sudah menikah dengan Griffin, Bailey pacaran dengan Annie – seorang janda anak satu, dan Sarah memiliki pacar baru.

Ikatan antar manusia.. hmm bagi yang mempelajari tentang filsafat tentunya tak asing dengan istilah ini. Sekilas gue akan ulas sedikit sekelumit apa yang digambarkan pada episode serial ini. Saat sedang menunggu antrian kemoterapi, Charlie berkenalan dengan Kevin yang memiliki kesamaan nasib, yaitu mengidap hodgkins cancer. Mereka pun cepat akrab dan akhirnya banyak melakukan kegiatan bareng. Karena terkadang orang yang tidak mengalami hal tersebut malah membuat risih dengan memberi tampang iba dan sikap ingin membantu yang berlebihan.

Read the rest of this entry »


Post Grad

March 22, 2010

Film ini mengingatkan gue pada masa-masa awal baru lulus kuliah dulu. Suka duka saat melamar pekerjaan, proses wawancara hingga diterima. Dan yang tak kalah pentingnya masa-masa di mana ada teman pria yang begitu peduli dan selalu mendampingi baik di kala suka dan duka. Ryden Malby (Alexis Bledel) adalah seorang mahasiswi berprestasi dengan nilai transkrip seluruhnya A dan mengandalkan beasiswa untuk membiayai kuliahnya. Pada film ini karakter yang diperankan oleh Alexis Bledel sepertinya tak bisa lepas dari karakter Rory Gilmore dalam serial TV Gilmore Girls.

Walaupun menjadi lulusan unggulan, namun Ryden tidak menjadi Valedictorian. Kehormatan tersebut jatuh pada Jessica Bard (Catherine Reitman), teman kuliahnya yang penuh ambisi dan tak kalah berprestasinya. Hmm karakter ini mengingatkan gue pada karakter Paris di Gilmore Girls, bedanya di serial itu justru Rory yang jadi Valedictorian. Baik Jessica dan Ryden memiliki cita-cita karir yang sama, yaitu menjadi editor pada penerbit ternama. Mereka berdua ternyata juga melamar pada perusahaan yang sama. Dan tentu saja berkat referensi dari tempat kuliah, Jessica yang mendapatkan posisi tersebut dengan mudah.

Read the rest of this entry »


Julie & Julia

March 21, 2010

Seperti biasa sebelum mengulas, gue akan nulis intro yang nggak penting. Setelah beberapa saat trauma dengan sesuatu yang berbau Juli, bahkan film “Juli di bulan Juni” pun sempat gue ingkari jadi film favorit gue (bukan karena ada mantan cowok gue di dalem film itu yaaaa). Sekarang gue dengan tegas menyatakan, nama Juli bukan semata-mata hak nama satu orang narsis yang suka menghasut orang untuk menghujat gue . Ini nama yang universal, so ngapain gue trauma. Beda kalau dulu gue sempat trauma keluar rumah karena poster film Garasi yang ada di mana-mana, karena para personil tersebut memang memiliki bakat dan sudah cukup bekerja keras untuk memetik hasilnya. Walaupun kadang gue masih berasa sakit perut sih kalau dengar musiknya. Sementara si penghasut ini nothing, kalau bukan karena kenarsisan dia sendiri yang memajang foto, pastinya dia tidak akan pernah eksis. Fiuuuhhhh.. lega, sekarang waktunya melanjutkan review.

Film ini diadaptasi dari kisah nyata Julie Powell (Amy Adams) dan Julia Child (Meryl Streep). Kedua wanita yang berbeda generasi ini memiliki hobi yang sama, yaitu memasak. Keduanya pun didampingi oleh suami yang setia dan selalu mendukung segala ambisi yang dimiliki sang istri. Alur cerita sangat ringan, sebenarnya film ini diambil dari dua buku yang berbeda. Buku tersebut adalah My Life in France yang ditulis oleh Julia Child dan Julie & Julia yang ditulis oleh Julie Powell. Melihat akting Meryl Streep awalnya cukup aneh, apalagi model rambutnya di film ini mirip tetangga gue yang sering gue usilin he he he.. Suaranya pun bernada tinggi mirip akting Robin Williams sewaktu jadi Mrs. Doubtfire.

Read the rest of this entry »


The Terminators

March 21, 2010

Film The Terminators ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan trilogi Terminator, baik trilogi yang pertama maupun trilogi yang kedua. Sebenarnya film ini diluncurkan tahun 2009 beda sebulan dengan film bagian pertama dari trilogi kedua Terminator Salvation. Dari segi cerita, hmmm sama sekali jangan dibandingkan dengan trilogi Terminator deh. Film ini sangat kacangan. Satu-satunya alasan kenapa gue nonton film ini adalah cuma ingin melihat sosok Jeremy London terbaru di tahun 2009. Yup, belakangan memang gue mantengin sosok Griffin yang diperankan Jeremy London di serial Party of Five.

Tokoh sentral film ini bernama Chloe, yang tiba-tiba jadi jagoannya sebelum bertemu dengan Kurt (Jeremy London). Chloe tengah mengandung dan memiliki suami bernama Chuck. Chuck sendiri memiliki selingkuhan, dan telah berjanji untuk menceraikan Chloe dan menikahi selingkuhannya itu. Namun Chuck berusaha mengelak dari janjinya dengan alasan Chloe sedang hamil. Konsep para terminatornya sendiri seperti menyontek film Terminator aslinya, yaitu para robot yang tiba-tiba lepas kendali ingin mengambil alih peradaban manusia. Apesnya, Chuck pun menjadi korban keganasan si Terminator ini saat sedang berasyik masyuk dengan selingkuhannya. Chloe sendiri tidak mengetahui keadaan Chuck, entah kenapa seolah-olah sosok jagoan Sarah Connor mau dipaksaan masuk dalam karakter Chloe. Tiba-tiba Chloe jago menembak dan jago memperbaiki mobil, blah… film yang sangat jayus… Chloe akhirnya menjadi penyelamat para penduduk yang berhasil selamat, dengan menyetir mobil untuk mengungsi.

Read the rest of this entry »


Management

October 24, 2009

Management

Film drama komedi romantis ini bercerita mengenai keluguan cinta seorang pria sedikit udik, Mike (Steve Zahn). Sayang pada awalnya wanita yang ditaksir Mike ini nyaris tidak menggubris keberadaannya. Sue Claussen (Jennifer Aniston) adalah seorang wanita karir yang kebetulan menginap di hotel milik ibu Mike. Berbagai cara digunakan Mike untuk menarik perhatian Sue. Tak ada yang luar biasa dari plot cerita, bahkan cenderung agak lamban. Tapi entah kenapa gue agak tertarik dengan esensinya yang sedikit menggelitik. So, jangan protes ya kalau gue lebih fokus menceritakan film ini yang udah dicampuraduk dengan opini gue. Moral of the story, cintai dengan tulus tanpa syarat. Sambil berharap someday ada pria lugu yang mencintai diri gue secara total yang sama sekali nggak ngelirik perempuan lain, just like Mike.

Read the rest of this entry »


Inglorious Basterds

October 24, 2009

basterd

Jangan berharap untuk belajar sejarah Jerman dari film ini. Walaupun berlatarkan sejarah, namun film ini hanya rekaan Quentin Tarantino belaka. Layaknya film-film Tarantino yang lain, film ini dipilah dengan chapter-chapter. Berlatarkan masa pendudukan Jerman di Perancis, setting yang disajikan begitu menarik. Akting yang memukau dari Christoph Waltz yang berperan sebagai Col Hans Landa membumbui keseluruhan film. Sayang aktor konyol Mike Myers hanya muncul sekilas pada film ini sebagai General Ed Fenech, perwira Inggris yang merencanakan operasi Kino. Inglorious Basterd sendiri adalah kelompok pembasmi Nazi yang dikepalai oleh Lt. Aldo Raine (Brad Pitt), orang Amerika yang merekrut jagoan-jagoan pembasmi Nazi. Alur cerita yang cukup gila, dipadu dengan beberapa adegan sadis, sanggup mengocok perut dengan kekonyolannya. Sayangnya film ini terkesan agak maksa endingnya. Kenapa tiba-tiba tokoh Landa yang begitu hebat dan tak pernah bisa dikelabui sekonyong-konyong berbalik arah dan dengan begitu mudahnya dijebak justru pada posisi sedang di atas angin. Secara keseluruhan sih, film ini sangat layak tonton.

Read the rest of this entry »


Milk

October 21, 2009

Beralih dari resensi dua film ringan untuk menghangatkan otak, gue beralih mencoba mengulas film yang lebih serius. Seperti biasa, film favorit gue adalah yang berdasarkan kisah nyata. Harvey Milk (Sean Penn) seorang aktivis gay yang mencoba terjun di dunia politik. Sebenarnya keinginannya ini terinspirasi oleh perlakuan yang tidak adil saat dia membuka usaha toko kamera dengan kekasihnya, Scott Smith (James Franco). Beberapa kali gagal pemilihan, akhirnya dia berhasil terpilih sebagai supervisor kota dan membuat perubahan dengan menentang peraturan tentang diskrimasi terhadap pekerja gay. Beberapa adegan intim pasangan gay tidak digambarkan secara vulgar. Plot dengan alur yang mundur maju lumayan nyaman disimak walau ada sedikit cerita yang terloncat. Entah karena gue kurang begitu menyimak dengan serius atau memang ada alur yang sedikit lompat. Film ditutup dengan adegan yang agak tragis, namun memang sudah diceritakan pada awal film. Mengenai penembakan sang walikota, George Moscone (Victor Garber) dan Milk. Namun kematian mereka justru tidak memupuskan perjuangan para kaum homoseksual.

Read the rest of this entry »