Perempuan Punya Cerita

July 5, 2009

Film ini terdiri dari empat potongan cerita, masing-masing cerita disutradarai oleh Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo dan Fatimah T. Rony.

Read the rest of this entry »


Mau (beli) Tidur

June 12, 2009

by Slank

Aku mau tidur tapi mata ini nggak juga menutup

Aku sudah ngantuk tapi otak melayang nggak menentu (uahhhh…)

Teringat mimpi-mimpi sampai saat ini belum juga nyata

Waktupun tertawa (ha…ha…) menyeret langkahku yang semakin tua

Aku langsung bangun dan bakar rokok

Kutendang-tendang ranjangku yang bobrok

Mengapa aku masih di kamar ini

Apa mesti mimpi itu kubeli… (mahal)!

Aku rebah lagi…

Mencoba untuk menutup mata lagi

Tapi masih saja…

Pikiran itu-itu lagi yang datang

Aku bangun lagi dan bakar rokok

Kutendang-tendang ranjangku yang bobrok

Mengapa aku masih di kamar ini

Apa mesti mimpi itu kubeli…

Hey kamar… gue udah muak disini

Gue harus pindah dari sini

Tapi gue belum mampu untuk pergi, gimana???

Uuuoooooohhh yeahhh….

Aku langsung bangun dan bakar rokok

Kubanting-banting ranjangku yang bobrok

Mengapa aku masih tetap disini

Apa mesti mimpi itu kubeli…

Apa mesti tidur itu dibeli

Sekarang segalanya bisa dibeli

Mengapa aku masih tetap disini

Karena memang mimpi itu harus dibeli!!!


Tugas Media di Masa Kampanye

June 6, 2009

Sengketa lahan sekolah, sekolah yang bobrok, warga miskin di bantaran kali sudah saatnya seluruh kekurangan dan kemiskinan negeri ini diekspos media di masa kampanye presiden kali ini. Ketimbang dana kampanye terbuang sia-sia untuk iklan komersil di berbagai media baik cetak maupun elektronik, konser dangdut yang tidak penting serta pembuangan dana sia-sia lain yang sama sekali tidak berdampak untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Tugas media saat ini lebih baik membongkar segala kekurangan yang ada ketimbang pengeksposan kebodohan ketiga kubu yang saling bersaing berlomba meraih tahta kekuasaan. Setidaknya agar mereka semua yang berambisi ingin naik menjadi pimpinan negeri ini terhenyak sadar bahwa masih banyak kekurangan di negeri ini yang patut diperbaiki.

Dana-dana kampanye lebih baik dialokasikan untuk penyelesaian masalah-masalah yang melanda rakyat. Perbaikan sekolah-sekolah baik itu dari segi tampilan tempat belajar dan fasilitas maupun mutu pendidikan, ini merupakan investasi jangka panjang masa depan rakyat karena bagi gue pendidikan merupakan bekal masa depan seseorang. Kepedulian untuk menyediakan perumahan yang layak sekelas bangunan tempat tinggal Kalicode hasil rancang bangun Romo Mangun jauh lebih penting ketimbang konser dangdut atau materi komersil berbudget tinggi. Kampanye pesta janji di sana sini bagi gue kurang penting. Simpati gue ga bisa dibeli dari hal-hal pencucian otak macam itu. Kalaupun mulai ada perbaikan seperti sekolah gratis dan itu diekspos dalam materi iklan layanan masyarakat, kenapa baru sekarang. Saat ingin menarik simpati demi mempertahankan tahta? Kalau memang ada sesuatu kontribusi untuk dunia pendidikan kenapa tidak dari dulu, dan kenapa harus digembar-gemborkan mendekati pilpres?

Read the rest of this entry »


Pay Salutation to the Triple Gem

May 25, 2009

arahang samma sambuddho bhagava buddhang bhagavantang abhivademi

The Exalted One, far from mental defilements, the Perfectly self-Enlightened One, the Awakened One. I bow down before the Blessed One. (one prostration)

svakkhato bhagavata dhammo dhammang namassami.

The Dhamma, the Law of Nature, the Noble Doctrine, wellexpounded by the Blessed One. I bow down before the Dhamma. (one prostration)

supatipanno bhagavato savagasangho, sanghang namami.

The Sangha, the Noble Disciples of the Blessed One, who have practiced well. I bow down before the Sangha. (one prostration)


Buterfly Effect 3: Revelations

May 24, 2009

Layaknya film Butterfly Effect 2, film ini kurang menggigit. Cerita juga kurang berbobot, tidak sedalam Butterfly Effect pertama yang diperankan secara mendalam oleh Ashton Kutcher. Film ini lebih mirip dengan film Jumper, seseorang yang memilki kemampuan untuk pindah waktu kapan saja dan di mana saja tanpa punya keterlibatan langsung dengan peristiwa tersebut. Sam (Chris Carmack) sering membantu polisi dalam berbagai kasus penyidikan dengan cara melihat langsung ke TKP pada saat kejadian tersebut berlangsung. Karena hanya sebatas mengamati Sam tidak melakukan perubahan sejarah. Lain halnya ketika ia kembali ke peristiwa yang memiliki keterlibatan emosional langsung. Maka setiap perubahan kecil yang dilakukannya akan terjadi perubahan besar pada masa depan.

Adegan ini sangat tidak cocok ditonton oleh anak-anak terlalu banyak adegan pembunuhan sadis dan adegan seks. Di akhir film Sam berhasil memperbaiki hidupnya, dengan kata lain happy ending ala Holywood terjadi pada film ini. Ketimbang menyelamatkan adiknya yang ternyata berkembang menjadi pembunuh berantai, dia memutuskan untuk mengunci adiknya saat terjadi kebakaran di masa kecil. Sebagai ganti, kedua orang tuanya berhasil dia selamatkan. Sam memiliki keluarga yang bahagia dan seorang anak perempuan yang dinamai sama dengan nama adiknya. Sayang, di adegan terakhir film seolah-olah sosok keji Jenna (adik Sam) merasuk dalam gadis kecil tersebut. Terlihat saat Jenna kecil memanggang bonekanya dalam pemanggang barberque. Uuurrgh, film ini hanya menjual kejayaan judul film pertama. Pantas saja bioskop di Indonesia tidak menayangkannya.


Jagad-X-Code

May 24, 2009

jagad

Gue sangat bersyukur akhirnya bisa menyaksikan film ini. Film ini berlokasi di Yogyakarta dengan mengambil setting kehidupan masyarakat yang bermukim di Kali Code. Arsitektur rumah-rumah di bantaran Kali Code ini dirancang oleh penulis favorit gue, Romo Mangunwijaya. Terus terang dari kecil gue pengen bisa melihat rancangan bangunan yang mendapat penghargaan dari mancanegara ini. Untung saja pemerintah tidak jadi menggusur bangunan ini. Aneh memang, di luar negeri dapat pengakuan, di negeri sendiri nyaris disingkirkan. Demi misi kemanusiaan Romo Mangun mendirikan pemukiman yang layak ditempati oleh penduduk miskin Kali Code. Bangunan ini tidak tampak kumuh, bahkan tertata apik. Sanitasi bersama disediakan di lokasi pemukiman tersebut. Cerita yang diangkat film ini sederhana tidak terlalu muluk, seharusnya sih bisa sedikit menyinggung mentalitas koruptor papan atas. Dimana moral penduduk miskin yang segan berbuat jahat walau kepepet sekalipun.

Film ini didukung juga oleh seniman-seniman Jogja kawakan seperti Butet Kertaredjasa, Djaduk Ferianto dan Didi Nini Thowok. Memang sih penampilan mereka bukan tokoh sentral, namun lumayan kocak untuk disimak. Mudah-mudahan film garapan Herwin Novianto mendapat penghargaan yang cukup layak. Sebab muatan film ini cukup berbobot, didukung pula oleh pemilihan gambar yang terlihat profesional dan tata suara yang bagus. Walaupun tergolong dalam genre film komedi, namun hikmah film ini tak kalah bagusnya ketimbang film Laskar Pelangi. Ada moral yang ditonjolkan di film ini, dan patut untuk terus dipertahankan.

Read the rest of this entry »


Mereka Bilang, Saya Monyet!

May 18, 2009

sukses dengan novelnya yang menjadi best seller, maka film dengan judul yang sama ini pun berhasil meraih beberapa penghargaan. Film ini mengisahkan mengenai Adjeng (Titi Sjuman) seorang penulis lepas yang tinggal sendiri di apartemennya.

Awalnya dia hanya menulis lepas di majalah anak-anak, hal tersebut tidak memuaskan dirinya. Karena dia menulis berdasarkan orderan, tak bisa mengekspresikan kreativitas. Akhirnya dia menghadap sang pemred yang diperankan oleh Arswendo Atmowiloto. Dan mengajukan untuk berhenti di menulis di majalah anak-anak karena ingin menulis sesuatu yang lebih serius. Seorang penulis lepas di majalah anak-anak, tinggal di sebuah apartemen. Mungkin hal ini menimbulkan pertanyaan. Berapa sih honor penulis lepas?

Read the rest of this entry »


Radit dan Jani

May 18, 2009

Bingung kan kenapa gue baru nulis resensi film yang ditayangkan di bioskop awal tahun 2008 ini. Gue inget nonton film ini di Cibubur, dengan seorang penggerutu yang bilang “film kayak gini kok ditonton, ga layak dilihat anak-anak nih”. Memang adegan-adegan pembuka film ini termasuk vulgar. Percumbuan dan percintaan penuh gelora membumbui film drama ini. Dimainkan oleh Vino G Bastian sebagai Radit dan Fahrani sebagai Anjani. Mereka adalah pengantin muda yang sebenarnya pernikahan mereka ditentang oleh keluarga Anjani. Jani berasal dari keluarga baik-baik. Sedangkan Vino adalah pemain ben yang kecanduan obat-obatan terlarang.

Mereka berdua tinggal di sebuah flat, entah itu flat atau rumah susun dengan perabotan seadanya dan kondisi rumah yang begitu berantakan. Pada awalnya hanya Jani yang menjadi pencari nafkah dalam keluarga. Namun karena kejengkelannya dengan salah seorang rekan, akhirnya mereka berdua praktis jadi pengangguran. Masa depan ben Vino pun tak jelas, bahkan teman-temannya memecatnya karena sikapnya yang kasar dan masalah kecanduannya.

Read the rest of this entry »


Jamila dan Sang Presiden

May 17, 2009

Walaupun gue sampai tepat waktu, lagi-lagi gue telat masuk studio. Film sudah diputar, terlihat Jamila sedang dalam mobil tahanan dengan dandanan masih kinclong. Beberapa kali terlihat kilas balik ke masa kecilnya. Sebenarnya topik yang ingin diangkat pada film ini lebih ke perdagangan anak perempuan ke lintas daerah. Namun keseluruhan film ini tidak terlalu menggiring penonton ke topik tersebut. Sehingga film yang seharusnya bisa lebih berbobot ini terasa lebih dangkal dalam pendalaman materi.

Jamila mengaku telah membunuh seorang menteri. Penonton lebih dibuat penasaran apa yang menyebabkan Jamila melakukan hal tersebut. Semenjak kecil, Jamila sudah dijual oleh ayahnya untuk dijadikan pelacur. Namun ibunya menyelamatkannya dengan mengungsikan Jamila ke keluarga yang mau menampungnya. Malang nasib dia, justru para lelaki dalam keluarga tersebut memperkosanya hingga hamil. Akhirnya dia membunuh lelaki-lelaki tersebut dan melarikan diri.

Read the rest of this entry »


Janda Kembang

May 16, 2009

Heran kan gue nulis review ini duluan ketimbang film Jamila dan Sang Presiden. Nanti dulu ya, setelah ini. Seperti biasa gue akan mulai dengan intro yang nggak penting. Seharusnya jadwal gue hari ini adalah nulis artikel dan sinopsis. Apalagi deadline artikel sebenarnya hari Jumat kemarin, sedangkan sinopsis sudah diuber-uber oleh sang editor (he he he peace Sa :) >- ). Tapi karena agak suntuk, sekalian beli Aqua galon, gue putuskan nonton film ini di 21 terdekat.

Seperti biasa kalau nonton sendiri gue terlambat masuk studio, karena ritual beli tiket dan cemilan dilakukan secara seri bukan paralel (makin ga penting saja bahasannya ya). Ternyata isi cerita film ini juga tidak terlalu penting. Diawali dari Selasih (Luna Maya) yang menjadi pendatang di daerah Pulo Bantal yang secara tidak sengaja (mungkin ini bukan awalan, tapi kan tadi gue udah bilang, gue telat masuk studio) akhirnya harus nyanyi bersama orkesnya Dodi Irama (Ringgo Agus Rahman) yang saat itu menjadi Wedding Singer. Sontak saja semua mata beralih memandang kecantikan Asih.

Read the rest of this entry »