Apakah Tulisan dan Komunikasiku Buruk?

Sekarang tanggal 10, bagiku tanggal ini adalah tanggal kematian. Sementara tanggal 8 adalah tanggal pernikahan.

Di tanggal ini, aku memutuskan untuk membantu temanku menjadi salah satu kontributor liputan di medianya. Parah juga ya, setelah liputan, bukannya aku menyusun artikel liputan, tapi malah menuliskan ini. Saat ini aku memang blank, tidak tahu harus menulis dari angle apa. Sudah sekian bulan aku memang tidak mengisi media teknologi, lebih banyak menyunting untuk media spiritual.

Hal ini tak lain karena kepercayaan diriku untuk menulis artikel memang turun, terutama soal liputan dan berita. Lain soal jika berbentuk review. Mengapa kepercayaan diriku menurun? Ini karena orang terdekatku yang juga merupakan seorang wartawan senior dan juga dosen komunikasi (sebut saja U) mengatakan bahwa tulisanku jelek, aku tak bisa menulis berita dengan baik.

Awalnya aku tak menggubris itu, tapi lama kelamaan ketika hal tersebut berkali-kali disinggung aku pun semakin down. Walau salah seorang wartawan yang lebih senior tetapi sudah pensiun (sebut saja K) mengatakan aku cukup bisa menulis, dulu pun dia merupakan salah satu yang mengasah kemampuan menulisku. Tetapi dia juga bukan panutanku, jadi ketika dia menuduh U yang mengatakan tulisanku jelek itu mematikan potensiku, aku tidak lantas mempercayainya.

Aku pun memastikan ke U, dan memintanya untuk mengasah agar aku bisa menulis. Dia hanya bilang bahwa tulisanku tidak memenuhi standar media yang sudah lama eksis seperti medianya. Bahkan tulisan temannya yang sering menulis asal jadi dan dia sebal pun dianggap lebih baik dari tulisanku.

Well, tentu lengkap sudah alasanku untuk berhenti menulis di media teknologi. Untungnya di saat yang hampir berbarengan, seorang bhante menawariku menjadi kontributor dan admin suatu media spiritual dan blog pribadinya. Tak sampai di situ, dia pun menawari untuk menyunting bukunya yang berisi kumpulan artikel. Betapa senang dan terhiburnya diriku, merasa mendapat kepercayaan. Saking senangnya aku pun mengajukan diri sebagai relawan juga di komunitas tersebut. Senang rasanya dihargai, walau tidak dibayar, tentu hal ini merupakan karma baik dan justru kembali memulihkan rasa percaya diri.

Nyaman rasanya berdiskusi dengan bhante ketika menyusun artikel, mengasah dan mengolahnya sebelum dipublikasi. Tetapi memasuki bulan Juli, jadwalnya bhante untuk melakukan vassa sampai Oktober. Mau tidak mau, komunikasi pun terhenti. Sebenarnya tak masalah, toh kegiatanku selama ini lebih sering bersama U. Sampai timbul suatu konflik, entah mengapa betapa susah diriku berkomunikasi dengan seorang dosen komunikasi seperti U. Mungkin segala hal dan caraku berbicara dianalisa. Masalahnya apakah gaya komunikasiku bisa dinilai dan disamakan dengan orang pada umumnya? Sementara aku tidak seperti orang pada umumnya yang hampir setiap hari berkomunikasi dengan manusia lain.

Sejak lama aku adalah seorang penyendiri yang betah berhari-hari di kamar tanpa berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini pun semakin parah saat suami meninggal, aku semakin mengurung diri. Secara lisan, mungkin komunikasi aku buruk. Bahkan waktu masuk di Danareksa dan diwawancara oleh CEO yang saat itu dijabat Lin Che Wei pada tahun 2007, aku mengakui langsung bahwa tidak bisa berbicara lisan dengan baik.

Dia pun memberikan alternatif untuk menguji dengan memintaku menulis naskah pidato. Dan aku pun lolos. Dia juga menyayangkan ketika aku diwawancara, aku tak menonjolkan prestasiku. Aku hanya bilang pernah ikut lomba menulis laporan analisa saham BEJ-CFA. Tetapi saat diinterview tidak pernah menyinggung bahwa kelompokku keluar sebagai juara 1. Pak Che Wei bilang bahwa kalau bukan dia yang interview, tentu orang lain tidak akan tahu. Dia tahu karena saat itu dia adalah ketua dewan juri lomba.

Solusi yang diberikan oleh Lin Che Wei adalah salah satu bibit meningkatkan kepercayaan diriku untuk menulis. Saat masih bekerja di Danareksa, aku malah punya sambilan menulis di 15 media teknologi, dan tentu saja diperbantukan sebagai redaksi di media BUMN. Ditambah lagi aku juga mengisi majalah Masjid Kita yang dibantu oleh seorang editor majalah politik. Aku pun seperti belajar kungfu saat itu yang belajar dari mana saja, semua jurnalis senior di setiap media memberikan masukan cara penulisan yang baik. Mereka pun senang memakaiku sebagai kontributor mereka.

Aku kenal dengan U memang baru 1 tahun lebih sedikit. Mungkin wajar jika terjadi banyak jurang dalam berkomunikasi. Mungkin juga karena dia berusaha menganalisa berdasarkan berbagai teori yang dia paham dan ajarkan di perkuliahan. Aku pun juga merasa tertatih-tatih dan kewalahan saat berusaha berkomunikasi dengannya. Ujung-ujungnya karena pesan tidak sampai dengan sesuai, terjadilah pertengkaran. Bahkan tulisanku yang berjudul Cerai Mati dan Cerai Hidup yang menginspirasi beberapa perempuan yang bernasib seperti aku pun dinilai penuh dengan kemarahan.

Ketika U memutuskan untuk menjaga jarak denganku, aku pun berpikir, selama bersamanya kepercayaan diriku semakin lama semakin menurun. Dia mungkin juga memutuskan menjauh karena nyaris tidak ada lagi prestasi yang aku toreh selama dengannya. Ada sih menang lomba menulis, tapi itu juga karena bentuknya review. Tulisan yang mungkin memang menjadi kelebihanku.

Saat kami saling berjauhan, aku teringat kata-kata Kirdi, bahwa aku memilih trigger yang salah. Harus jatuh ke jurang dulu untuk mencoba membuat karya. Yup, beberapa bukuku lahir saat aku berada dalam posisi yang cukup menyebalkan.

Nah, ketika down ini, aku pun menawari temanku untuk meliput acara yang mungkin tidak kehandle oleh timnya. Awalnya ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa aku masih sanggup menulis. Tetapi ternyata mungkin U benar, aku tidak bisa menulis artikel liputan. Karena bukannya aku memulai menggarap artikel tersebut, aku malah menulis blog ini. Atau memang kepercayaan diriku langsung surut saat tiba di lokasi liputan, apalagi saat itu ternyata dia pun hadir. Dan ketika aku melihatnya beraksi sebagai wartawan senior, aku begitu kikuk.

Sedih juga rasanya jika aku pun tidak bisa berkomunikasi lagi dengan orang lain, apalagi orang terdekat. Padahal ada juga sih yang baru kenal tapi bisa berkomunikasi dengan lancar. Beberapa di antaranya adalah developer software, direktur perusahaan konglomerasi, perakit sistem audio. Cukup menghibur tentunya mengingat hampir 50% teman dekatku yang enak berkomunikasi denganku telah meninggal, termasuk suami tercinta.

Semoga setelah menuliskan ini, mood aku bangkit untuk segera menulis artikel liputan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: