Ini logika yang benar-benar kacau

Biasalah menjelang pemilihan gubernur DKI suasana jadi panas. Topik panas yang pada akhirnya membuat salah satu calon gubernur dihujat adalah ucapannya yang dianggap menghina kitab suci umat mayoritas di Indonesia.

Well, setiap serangan pasti ada juga yang melakukan pembelaan. Tapi kadang memang menggunakan istilah yang dianggap menyinggung orang yang memang pada dasarnya sering tersinggung. Ya gimana nggak tersinggung, terhadap nama akun gue saja mereka tersinggung. Nama akun quratengil yang gue sandang sejak 2003 dulu dianggap sebagai penistaan kitab suci umat mayoritas. Di situ gue sudah mulai jleb.

vivitolol

Nah, kebetulan salah seorang yang agak waras ini menyebut penyerang salah satu calon gubernur sebagai sapiers. Tentu saja kaum sapiers eh salah, kaum yang menyerang calon gubernur tersebut langsung tersinggung. Mereka mengatai kaum pembela calon gubernur yang mereka serang sebagai babiers.  Nah sebagai orang yang menghormati berbagai agama, tentu  saja saya tidak terima dengan kelakuan teman saya yang mengatai orang-orang yang tak logis itu dengan sapiers. Karena konon ketika nusantara masih jaya, ada agama mayoritas yang menganggap sapi itu suci. Yup, di beberapa agama, sapi memang sosok dewa atau kendaraan dewa. Lalu apa lantas ketika agama tersebut sudah menjadi minoritas, sapi direndahkan derajatnya dengan disamakan dengan orang-orang yang tak logis. Tentu saja saya membela sapi! Saya tegur teman saya itu, bahwa dia pun melecehkan agama dengan menyamakan sapi dengan orang-orang sekelas mereka itu.

Dan benar saja.. saya langsung dituduh buzzer Ahok. Lah piye iki, kok makin kacau. KTP gue emang dari dulu KTP DKI Jakarta, tapi seumur hidup belum pernah milih Ahok jadi gubernur. Sampai sekarang pun belum tahu akan pilih siapa. Mau pilih Ahok juga pikir-pikir lah, secara pegawai kelurahan pada resisten semua nolak Ahok, nggak mau kerja.

Bikin akte kematian bokap gue aja susahnya ampun-ampunan, malah bapak-bapak tua di situ menghardik bahwa mereka bukan budak Ahok. Karena gue agak sedikit waras, gue pun mengalah. Gue menghubungi sudin kota tempat gue tinggal untuk membuat akte kematian langsung ke mereka. Mereka di sudin aja bingung. Katanya, mestinya gue nggak usah repot ke sudin, cukup sampai kelurahan saja. Karena kalau ke sudin langsung harus bawa dua saksi untuk ikut tanda tangan di pengajuan akte kematian. Ya gue nurut saja. Siapa saja orang yang bisa gue minta jadi saksi ya gue mintain tolong.

Mirisnya, bokap gue itu dulu yang membuat website kelurahan. Uang buat beli domain dari kantong sendiri dan membuat website itu pun gratis! Begitu meninggal disia-siakan gitu saja, kelurahan tak mau proses membuat akte. Tentu saja gue nggak akan meneruskan bayar itu domain dan hosting. Dan sekarang website kelurahan tersebut sudah mati. Bukan gue nggak mau meneruskan jerih payah bokap, ya gue sebel saja, mungkin kalau mereka mau bekerja, dan sedikit membantu, gue akan bantu urus itu website. Berhubung sikap mereka sama sekali tidak kooperatif, ya buat apa gue bantu dari segi usaha dan finansial? Lebih baik gue membuat website secara komersil, yang dibayar.

Jadi kemungkinan besar sebelum tiba waktunya pemilu nanti gue akan ke kelurahan. Gue tanya, mereka itu sebenarnya mau kerja kalau gubernurnya siapa, dari partai apa. Toh di provinsi lain tempat gue urus akte kematian suami gue, prosedurnya begitu gampang. Nggak perlu repot ke sana ke sini, otomatis akte kematian diurus oleh RW. Dan RW itu merupakan salah satu aktivis PKS. Jadi ya gue nggak masalah siapa yang jadi gubernur, dari partai mana, selama pegawai administrasi pemda mau kerja. Gue nggak peduli sih, mau dana pembangunan dikorupsi atau nggak. DKI bakal dibangun fasilitasnya atau nggak. Soalnya daerah-daerah terpencil lain masih parah banget fasilitasnya. Kalau Ahok memang jago merapikan fasilitas daerah, yah gue mungkin malah berharap dia mencalonkan diri di daerah yang benar-benar butuh dia untuk membangun, ketimbang dihujat melulu di DKI.

Semakin seorang kepala daerah mencegah terjadinya pungli, semakin pegawai pelayanan masyarakat tidak mau bekerja. Urus apa-apa jadi susah. Ternyata memang kita harus terima kenyataan, segala sesuatu bisa diproses dengan cepat dengan adanya pungli. Nyebelin sih. Tapi ya memang begitu adanya. Sejujurnya gue lebih suka segala sesuatu itu gratis. Tapi beneran dijalankan. Bukan dipermainkan dengan bilang harus buat sendiri ke sudin atau ke disduk atau apalah ke pusat. Di pusat memang lain lagi. Mungkin karena kontrolnya lebih dekat, di pusat segala sesuatu memang lebih lancar diproses. Tapi kan malas juga, sesuatu yang mestinya bisa dikoordinir di cakupan kelurahan, mesti proses sendiri ke pusat. Itu mah namanya bukan layanan yang memudahkan masyarakat.

Nah, di sini gue jadi pusing. Kok gue jadi buzzer Ahok (menurut tuduhan orang yang nggak berlogika). Atas dasar apa? Atas dasar gue belain sapi? Atau atas dasar nama akun gue quratengil? Gue makin bingung. Di kondisi seperti ini, gue yang nggak tahu apa-apa bisa jadi tiba-tiba dibilang buzzer Ahok, atau bisa juga dibilang hater Ahok. Lha kok gitu?

Soalnya gue terlalu polos. Pertama, waktu Ahok jadi wakil gubernur, dia itu marah-marah bilang ke bawahannya bahwa saat rapat mereka harus bawa laptop atau BlackBerry jangan bawa kertas dan pulpen lagi. BlackBerry saudara-saudara! BlackBerry! Itu benda yang menurut gue miskin teknologi banget. Bisa apa BlackBerry saat itu. Dan tentu saja bagi gue kertas dan pulpen itu masih merupakan sarana bagus untuk mencatat di kala meeting. Lebih bebas orat-oret, walau sekarang platform Android dan iOS pun bisa dukung itu sih. Tapi BlackBerry saudara-saudara, dia endorse BlackBerry! Mana mungkin saya dukung orang yang endorse BlackBerry. Dulu saat gue jadi head smartphone product di salah satu operator telekomunikasi, gue bersedia manage semua gadget dengan sistem operasi Android, iOS dan Windows Mobile (Dulu belum ganti nama jadi Windows Phone). Tetapi tidak BlackBerry!

Suami gue saat itu pun langsung ngeledek dengan posting soal Ahok endorse BlackBerry itu. Dan tentu saja gue langsung posting berbagai macam link tentang baiknya membawa kertas dan pulpen untuk urek-urek saat meeting. Perkara nanti dikonversi jadi file untuk dijadikan summary untuk di-email ke seluruh pihak terkait, itu bisa dilakukan kemudian. Nah, apa lantas dengan pendapat gue itu gue jadi hater Ahok?

Berhubung gue nulis ini nggak terima bayaran dari cagub mana pun. Gue sih masih terbuka gitu mau milih siapa. Mau beneran dijadikan buzzer juga boleh. Tapi ya mesti sepadan dong bayarannya. Kasih rumah atau apartemen kek. Jadi gue nggak peduli calon gubernur mana yang mau bayar gue. Ada uang baru gue mau jadi buzzer. Kalau gue dituduh jadi buzzer karena gue logis, itu gue bisa sinting.

Lha kalau membela sapi tiba-tiba gue dituduh jadi buzzer Ahok, gue benar-benar bisa sinting. Di mana logika berpikirnya. Gue negur teman yang menyebut sapi ke orang-orang tak logis, tiba-tiba jadi buzzer Ahok? Demi tupai! Gue ini lagi berusaha supaya temen gue nggak melecehkan agama yang menganggap sapi itu suci. Kenapa gue jadi pusing begini yak… Segalanya benar-benar kacau… Orang sudah semakin tak logis.

Ini foto gue pas pemilihan gubernur beberapa tahun lalu, dari tulisan di kaos itu terbukti jelas, gue nggak pernah milih Ahok jadi gubernur. Sayang nama calon gubernurnya malu-malu gitu ya kecil banget di bawah tulisan merah mentereng. Pantas saja ini calon gubernur nggak menang. Eh omong-omong, emang ada ya yang pernah pilih Ahok jadi gubernur di pemilu? Perasaan dulu dia belum pernah nyalonin diri jadi gubernur lewat pemilu.

cam00357

Ini gue, dulu sok ikut-ikutan support calon gubernur yang kalah

One Response to Ini logika yang benar-benar kacau

  1. Aryo says:

    Bagus artikelnya. Saya suka.
    (Lanjutkan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: