Cerai Mati dan Cerai Hidup

Sebelumnya, gue akan membuat disclaimer bahwa tulisan gue ini ditulis atas dasar apa yang gue rasakan, obrolan dengan orang lain dan pengamatan sekitar gue, bukan lantas gue menggeneralisir seluruh hal dengan status yang ada di judul ini.

Seperti yang telah diketahui, sebagian orang menganggap status gue cerai mati. Well sebenarnya agak nggak enak dengan istilah cerai, karena gue nggak merasa pernah bercerai atau mempunyai surat/akta cerai dengan suami gue. Gue merasa sebenernya dia tetap pasangan gue. Itulah yang membedakan kenapa kecenderungannya seseorang yang ‘cerai mati’ tidak merasa ada kepentingan untuk punya pasangan lagi, well karena di otak gue, gue masih punya pasangan, tidak bercerai karena alasan tidak cocok, tidak bisa meneruskan pernikahan karena perbedaan pemikiran, ada PIL/WIL, atau apa pun yang menjadi alasan perceraian pasangan yang masih hidup.

Tetapi bila ditelaah dari gender, kencederungannya adalah perempuan yang cerai mati lebih setia ketimbang lelaki yang cerai mati. Entah benar atau tidak, tetapi ini sempat jadi bahan obrolan ringan gue dengan beberapa teman. Jadi nggak perlu dikaitkan dengan dunia selebriti mengenai perempuan yang ditinggal suami langsung menikahi pesohor melambai dengan biaya milyaran ya. Hehehe…

Minggu yang lalu, gue sempat janjian ketemu dengan seorang wanita yang sudah senior berkecimpung di dunia media. Kami sudah bertahun-tahun tidak ketemu. Bahkan mungkin beberapa tahun sebelum gue menikah. Layaknya orang yang sudah lama tak bertemu tentunya akan bertanya soal kabar, dan bertanya sudah menjalin hubungan barukah. Jawaban gue simple, gue memilih untuk setia dengan suami gue. Respon beliau tidak aneh, bahkan bilang, bahwa kemungkinan besar jika dia ditinggal mati pasangannya pun akan tidak mencari hubungan baru lagi. Tetapi malah jadi bertanya-tanya, bila dia yang meninggal, akankah pasangannya akan menjalin hubungan lagi?

Suatu pasangan ketika dihadapkan oleh pertanyaan itu, biasanya seorang istri memilih untuk setia saja, sementara suami akan bertanya balik, “kamu lebih suka aku setia sendirian atau ada yang mengurus?”. Entah kenapa lelaki merasa harus diurus seperti binatang peliharaan. Oke, kalimat barusan terasa cukup kasar. Tetapi demi menjawab itu, gue coba tanyakan ke teman gue yang memang ditinggal mati oleh istrinya.

Gue ini pada dasarnya kalau ketemu dengan orang, jarang bertanya masalah pribadi. Karena gue pikir gue nggak ada urusan dan khawatir akan memancing hal yang seolah-olah gue ada perasaan dengan orang tersebut. Tetapi berhubung gue kenal lama dengan orang ini, dan gue kenal dengan almarhum istrinya dan pacarnya saat ini, dan dia pun bertanya tentang hubungan gue dengan orang lain setelah suami gue meninggal gue pun menjawab bahwa gue memilih untuk setia dengan suami gue. Lalu bilang, perempuan cenderung lebih setia dengan pasangannya ketika ditinggal mati suami. Kenapa laki-laki bisa mudah berpindah ke lain hati?

Dia menjawab dengan sederhana, sebenarnya laki-laki juga tetap menyimpan rasa cinta dan sayang pada pasangannya yang telah tiada. Ketika pasangannya pergi, dia mampu untuk mempartisi hatinya dan memberi ruang bagi perempuan lain. Intinya pria ketika telah menemukan pasangan yang sempurna pun tak mampu ke lain hati, tetapi mampu ke lain bodi. Well, ternyata jawaban dia hampir mirip dengan obrolan dengan teman gue minggu lalu, bahwa mungkin kita memang tidak bisa memaksa pria untuk setia setelah pasangannya mati karena pria memiliki kebutuhan biologis yang berbeda. Berbeda dengan salah seorang senior perempuan gue di teknik, gue memang belum pernah bertemu langsung dengan dia. Tetapi halaman jejaring sosialnya cukup memberikan semangat untuk diri gue. Dia pun ditinggal mati suaminya, dan dia setia. Dia kerap memposting kemesraan dan curahan hatinya untuk suami, serta kegiatan dia dengan anak-anaknya. Di situ gue yakin, bahwa dia pun telah menemukan pasangan sempurnanya dan memilih untuk setia.

Oke, ini sudah mulai di luar konteks dari judul, karena judulnya adalah Cerai Mati dan Cerai Hidup. Tetapi paling tidak gue mencoba untuk membahasnya dari sisi perempuan saja karena gue bisa membandingkan dengan pengalaman gue sendiri dan di sekeliling gue. Gue tidak menyalahkan orang yang cerai hidup dan bagi gue tidak masalah orang yang cerai hidup berusaha menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Karena tidak seperti orang yang cerai mati, mereka itu tidak beruntung karena belum menemukan pria yang sempurna yang mampu mendampingi dan memahami mereka sampai mati. Walaupun beberapa agama mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tetapi bagi gue pasangan gue adalah orang yang sangat sempurna untuk hidup gue. Gue sangat beruntung gue sudah mendapatkan orang yang sempurna menjadi pendamping hidup gue.

Beberapa orang mungkin merasa kasihan pada gue, atau beberapa perempuan lain yang ditinggal mati oleh pasangannya. Well, sebaiknya jangan. Karena kami telah menemukan pasangan sempurna kami yang mampu mendampingi sampai mati. Itu merupakan hal luar biasa yang tidak bisa dialami oleh banyak orang. Coba bayangkan saja, orang-orang yang cerai hidup, setelah akte perceraian mereka keluar, mereka masih berjuang untuk menemukan pasangan sempurna untuk hidup mereka. Kami tidak. Kami telah lengkap.

Tetapi perempuan yang cerai mati tetap harus melanjutkan hidup, walau mungkin memang seperti halnya gue, yaitu merasa inginnya segera bisa menyusul menuju kematian tetapi ada titik dimana merasa perlu untuk kembali menjalankan kegiatan normal, yaitu berkontribusi untuk masyarakat dan mencari nafkah. Ya, manusia memang makhluk sosial, maka dari itu ternyata memang harus berinteraksi dengan orang lain. Nah, hal yang tidak menyenangkan adalah ketika kita berjalan dengan orang lain yang gendernya kebetulan pria, tiba-tiba orang berpikiran bahwa kita sedang menjalin hubungan dengan orang lain itu. Well, kembali demi meluruskan hal tersebut, gue jawab lagi bahwa gue memilih untuk setia dengan suami gue. Kembali ke logika awal, gue tidak merasa pernah bercerai kan? Bagi gue justru suami gue telah hidup dalam diri gue. Bagi orang-orang yang menilai gue cukup liberal, ternyata untuk masalah monogami gue merasa gue sangat konservatif. Gue merasa manusia hanya diciptakan dengan satu pasangan. Dan gue pun masih menganggap lembaga pernikahan itu sakral. Bukan saling mengekang tapi saling percaya mutlak dan memberi segalanya untuk pasangan. Bagi yang memang belum menemukan pasangannya, entah itu merasa salah menikahi pasangan dan akhirnya bercerai, selamat mencari pasangan sempurna Anda. Gue pribadi sudah ketemu. Jadi jangan lantas saat gue jalan sama orang lain dianggap gue membina hubungan dengan orang tersebut.

Gue selalu berusaha untuk tidak menghakimi orang, jadi merasa tidak ada masalah dengan orang yang bercerai selama mereka tidak mengusik kehidupan pribadi gue dengan menyamakan diri dengan mereka yang butuh mencari pasangan lagi. Tetapi memang kutipan Matius 19:6 yang dulu sering diucapkan oleh suami gue masih tertanam dalam diri gue, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”. Percaya atau nggak di dalam diri gue, gue ngerasa gue masih nyatu dengan suami gue. Apa yang dia suka merupakan kesukaan gue juga, sikap dia dan pemikiran gue sepertinya sudah menyatu dengan diri gue. Dan walaupun secara kasat mata sepertinya Allah telah menceraikan gue dan pasangan gue, gue merasa gue masih menyatu dengan pasangan gue.

Proses gue untuk bangkit memulai kegiatan secara normal lagi memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Orang melihat gue mungkin tidak bersedih, well gue memang nggak menangis meraung-raung, tetapi gue melakukan pencarian bahkan sampai meninggalkan jalan Allah. Gue sempat dikerjai orang, tetapi gue pun nggak bisa menyalahkan orang yang mengerjai gue, karena toh salah gue juga memasuki tempat ibadah yang dalam agama tersebut membolehkan perceraian. Sehingga mereka merasa perceraian adalah hal yang wajar dan cenderung menganggap bahwa di tempat ibadah tersebut, mereka bebas mendekati perempuan yang kehilangan pasangan sempurnanya. Puji Tuhan, gue berhenti ke tempat itu dan kembali ke jalan Allah.

Tetapi pastinya berat ketika sudah berusaha bangkit dengan kembali melakukan kegiatan, setiap jalan atau bertemu dengan orang lain yang memiliki gender pria, maka kita dianggap menjalin hubungan khusus dengan orang tersebut. Tentu hal tersebut bisa membuat gue ke titik awal, kembali ngumpet dan segan untuk kembali menjalani kehidupan normal. Untungnya memang selama mengurung diri gue tetap bersosialisasi dengan orang-orang yang produktif menghasilkan sesuatu tanpa dianggap flirty. Anak muda jaman sekarang memang hebat, bisa brainstorming ide, sambil saling bertukar joke tanpa ada pemikiran aneh mengenai flirty. Sayang sekali hal ini berbeda ketika bertemu dengan orang yang katanya dari institusi yang seharusnya cukup well educated. Sekali lagi, gue ulangi kalimat yang sama, gue memilih setia dengan suami gue. Bagi kalian yang belum menemukan pasangan sempurna dalam hidup kalian, silakan mencari, tetapi jangan samakan diri kalian dengan gue. Karena gue sudah menemukan pasangan sempurna gue. Dia mungkin sudah tidak hidup mendampingi gue, tetapi dia tetap pasangan sempurna gue, dan gue memilih untuk setia.

4 Responses to Cerai Mati dan Cerai Hidup

  1. hidup adalah penderitaan terkadang rasa cinta yang besarpun menimbulkan penderitaan. semua didunia hanya khayalan. Cinta sebenarnya hanya Kamu dan Tuhan MU, seperti kata bunda teresa manusia yang paling menderita manusia yang kesepian tidak bisa mencintai dan dicintai,,,,,,

  2. Thank u, sharingnya….
    Aku juga merasa sepertimu sist…
    Aku telah dipersatukan dgn pasangan sempurna yg belum 1 thn kemarin dipanggil pulang oleh Tuhan pd usia 26 thn..
    Dan aku sungguh merasa bahwa kami tdk pernah bercerai. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: