Love of My Life

Walaupun sedang padat mengerjakan orderan projek, entah kenapa sepertinya saya butuh mencurahkan sesuatu terlebih dahulu pada blog saya ini.

Beberapa hari ini saya uring-uringan, entah itu karena mood swing menjelang menstruasi alias PMS atau karena rasa kangen yang mendalam pada almarhum suami saya.

Selama setahun lebih saya melakukan pencarian, entah mencari apa. Entah itu mencari kedamaian, mencari hikmah di balik meninggalnya suami, atau mencari di mana dia sekarang.

Tahun lalu saya sempat mengobrol dengan pendeta yang membaptis saya. Menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang saya ingin dapatkan solusinya. Salah satu saran beliau adalah menulis. Entah itu menulis untuk pribadi, atau menulis dalam suatu blog. Intinya saya mempersembahkan suatu tulisan untuk mencurahkan sesuatu pada almarhum suami saya yang begitu saya cintai.

Sering orang bilang, tak ada manusia yang sempurna. Bagi saya ada, dia adalah suami saya. Seperti obrolan saya dengan salah seorang teman kemarin, sebut saja Zal, dia bilang suami saya adalah orang yang beruntung bisa dianggap sebagai dewa oleh saya. Sampai akhir hayatnya namanya tetap wangi tanpa cela di mata saya. Eh wangi kok pake indera mata ya..

Orang mungkin bilang, usia pernikahan saya hanya 3 bulan lewat sedikit. Jadi belum mengalami yang namanya pertengkaran rumah tangga yang hebat. Well, jika sudah membaca blog saya dari awal pastinya akan melihat bahwa nama Togar sudah sering muncul dalam blog ini sejak bertahun-tahun lalu. Kami memang begitu kompak, segala hal menggelitik yang kami diskusikan bisa jadi bahan tulisan untuk dituangkan pada blog saya.

Jika kami sudah mengobrol, mungkin orang sudah pusing mengenai topik kami. Kami berdiskusi mengenai perang arus antara Tesla dan Edison, film-film animasi yang kami sukai, permainan kartu yang merupakan hobi kami berdua (kita sama-sama eks atlet), trafo, elektronika, tokoh-tokoh Marvel, pendalaman Al Kitab, segala jenis film, dan begitu banyak kesamaan kami. Bahkan candaan atau joke kami mungkin hanya kami berdua yang ngerti maksudnya karena terasa seperti kode.

Kami pacaran memang 15 tahun yang lalu. Kala itu saya masih ABG yang begitu mengagumi sosok seniornya. Saya akui, saya yang terlebih dahulu jatuh cinta pada Togar. Sikapnya yang cuek membuat saya penasaran. Tetapi jangan salah, sikap cueknya itu berubah 180 derajat setelah menikah. Dia begitu penuh perhatian, kekagokan saya di awal pernikahan disikapinya dengan penuh pengertian.

Dia menghibur saya yang merasa bersedih karena merasa tak mampu melakukan pekerjaan rumah secekatan istri adiknya. Dia bilang, “Jane kan sudah biasa melakukan hal itu di keluarganya, semua orang masing-masing punya kemampuan yang berbeda.” Dia begitu penyabar, pelan-pelan kami sama-sama berusaha untuk bisa saling meladeni. Dia tak pernah berusaha mengubah saya untuk menjadi sosok yang lain. Dia menerima saya apa adanya.

Bagi kami, hal yang paling berharga adalah kami memiliki satu sama lain. Saya nggak tahu, gimana dia bisa tahan menghadapi saya yang senang mengeluh karena tidak ada air bersih setiap saat. Ya, saat itu persoalan terbesar bagi saya adalah terbatasnya air PAM di daerah. Mungkin jika saya mendengarkan diri saya sendiri mengomel saja saya akan jengah sendiri. Tetapi suami saya dengan penuh pengertian menghibur saya, dan kita jadi sama-sama merutuki penjatahan air yang begitu menyebalkan. Dia tak pernah berusaha mengubah saya menjadi orang lain. Mungkin karena kami saling mengenal selama 15 tahun, sehingga sudah terbiasa dengan gaya masing-masing.

Tak pernah dia mengatai saya bawel. Padahal jika saya menghadapi persoalan atau kesedihan seperti mood swing yang sering kumat, saya selalu mengontak dia dan menjadikan dia sebagai tempat curhat saya. Tempat saya menangis mengadukan segala sesuatu selama 15 tahun kami berinteraksi. Ketika mood swing saya kumat, maka dia akan bilang bahwa dia membutuhkan saya dan mencintai saya, jadi tetaplah bersemangat.

Ada satu hal yang bagi dia penting setelah menikah, yaitu kesetiaan. Tentu saja itu hal yang sangat mudah untuk saya penuhi. Bagaimana mungkin saya berpaling dari orang yang begitu penuh perhatian dan pengertian seperti dia. Rasanya tanpa dituntut pun saya sudah tak punya keinginan untuk berhaha-hihi dengan orang lain, walau sekadar basa basi pun. Seperti telah saya singgung di postingan blog sebelumnya, saya telah meninggalkan segalanya, baik itu keluarga maupun teman, hanya untuk hidup dengan pujaan hati saya.

Kesalahan terbesar saya terjadilah. Saya begitu arogan, merasa tak membutuhkan orang lain, karena dengan bersama dia, saya merasa sudah memiliki segalanya. Makanya ketika dia menjadi komponen yang ditiadakan, saya benar-benar kehilangan arah, kehilangan pegangan. Hidup saya menjadi tak lengkap lagi. Penyemangat saya sudah tidak ada.

Hari ini saya baru saja membesuk mertua saya yang dirawat di rumah sakit. Sedih rasanya melihat orang yang telah melahirkan orang yang saya cintai tampak menderita. Semoga beliau dapat segera sembuh dan diangkat penyakitnya. Tak jauh dari rumah sakit, terdapat makam suami saya. Maka saya pun ke sana, menumpahkan kesedihan. Tetap saja rasanya berbeda. Beda dengan bisa mengobrol langsung, mendapatkan respon langsung dari dia.

Dahulu, saya begitu nyaman saat sedang bersama dia. Kami begitu klik, nyambung saat berinteraksi. Apa karena lahir dari satu rasi bintang yang sama ya. Yup, ulang tahun kami memang hanya beda sehari. Bedanya, dia empat tahun lebih tua dari saya. Angka empat bukan berarti angka sial, tetapi jika diumpamakan dengan kaki meja, maka angka empat menjadi suatu kestabilan, alias tak pincang. Tak heran kami begitu cocok. Saya berani bertaruh, jika kami masih sama-sama hidup, mungkin usia pernikahan kami bisa bertahan selama-lamanya.

Mengenal Togar lebih dari 15 tahun, tentunya akan tahu bahwa dia tulus dalam segala hal. Entah kebaikan dia karena didikan yang super hebat dari keluarga dan lingkungan atau karena dia begitu taat pada ajaran agamanya. Sebenarnya saya sudah agak berhati-hati memasukkan unsur agama pada tulisan blog saya. Tetapi memang sejujurnya saya sangat menghargai agama dimana umatnya bisa menyebarkan begitu banyak kebaikan berdasarkan dari ajaran agama yang dianut.

Pesan terakhir di malam hari sebelum dia meninggal esok harinya adalah “I love you too”. Dan keesokan harinya, pukul 11.04, tiba-tiba saya mengirimkan pesan yang begitu mesra untuk dirinya. Pukul 12 siang, orang-orang seluruh kantornya berusaha mengontak saya. Petang harinya, akhirnya saya berusaha percaya dia telah tiada. Ketika saya melihat surat keterangan, saya baca jam dia meninggal, yaitu pukul 11.30.

Di saat saya sedang uring-uringan saat ini, saya teringat bahwa saya telah mendaftar untuk menjadi peserta workshop menulis. Hasil dari workshop tersebut, salah satunya adalah mendapat kesempatan mempublikasikan tulisannya dalam satu novel yang berisi cerita-cerita pendek berdasarkan horoskop.

Sebenarnya saya sudah pernah bilang pada Togar mengenai workshop ini, dan ingin mengikutinya. Dia bilang terserah. Tetapi memang tertunda selama beberapa tahun. Kebetulan topik novel terakhir adalah untuk Capricorn. Nah, berhubung Aquarius belum terbit, harapan saya adalah tulisan saya nantinya terpilih untuk dapat diterbitkan di seri tersebut. Toh kami adalah contoh hubungan Aquarius paling kompak. Well mungkin melebihi Keenan dan Kugy dalam novel Perahu Kertas. Radar Neptunus kami lebih dapat bekerja dengan baik.

Blog saya mengambil nama Roro Mendut. Sedihnya kekasih Roro Mendut mati dibunuh, dan karena kecintaannya yang mendalam, Roro Mendut pun bunuh diri untuk menyusulnya.

Tulisan ini untuk Togar, orang yang telah menjadikan saya pacar pertama dan satu-satunya, istri satu-satunya, dan merasa dicintai sampai akhir hayatnya. Semoga nanti saya dapat mempersembahkan tulisan yang lebih baik lagi untuk kamu, kekasihku, love of my life.

I love you my beloved husband…

I love you Togar…

One Response to Love of My Life

  1. Bagus Eka says:

    Wow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: