Menjalani Agama dengan Kebijaksanaan

Lagi-lagi masalah agama, ini hal yang sensitif, lalu kenapa dibicarakan terus?

Jangan khawatir, pada tulisan ini saya tidak mengulas atau menjelekkan dari sudut pandang agama tertentu. Mungkin hanya sekedar berbagi pengalaman betapa menyenangkannya menjalankan agama dengan bijak.

Beberapa waktu yang lalu, saya sudah sampai di titik muak dengan teman Facebook yang sibuk menjelekkan atau sok merasa terancam dengan agama tertentu. Saya merasa terganggu, jika dia terus menjadi teman saya, tentu saja saya akan terhalang mendapatkan berkah utama. Karena dalam salah satu sutta disebutkan: “Tak bergaul dengan orang-orang dungu, bergaul dengan bijaksanawan, dan menghormat yang patut dihormat, Itulah berkah utama

Dengan membaca statusnya yang menghasut untuk membenci agama lain, walaupun itu bukan agama saya sekalipun, maka saya terganggu. Hanya orang dungu yang dapat melakukan hal hasut menghasut seperti demikian. Maka saya pun hanya satu kali menegur, dan langsung menekan tombol unfriend, karena saya tahu, toh setiap komentar saya yang meminta dia untuk menghilangkan kebencian dan menanam benih kebaikan dan perdamaian akan selalu dihapus. Saya pun tahu, dengan saya berkomentar, dampaknya juga buruk bagi tembok Facebook saya, karena akan muncul pada newsfeed.

Saya juga tidak suka jika agama tertentu dituduh melakukan -sasi-sasian. Jika pun iya, jika memang mengajarkan kebaikan mengapa tidak berlomba-lomba saja mengajarkan kebaikan. Apakah orang akan mudah beralih dengan -sasi-sasi yang dilakukan suatu agama? Jika pemahaman terhadap semua agama mendalam, tentunya orang tak akan mudah beralih bukan? Apalagi jika setiap tarikan dan hembusan nafas dilakukan sesuai ajaran agama masing-masing yang saya yakin pada dasarnya semua agama memilih untuk melakukan kebaikan bagi sesama.

Kini setiap saat saya memang lebih mudah menjalani agama dengan bijak, karena lebih sering bersama dengan seseorang yang seiman untuk berdiskusi. Setiap tindakan selalu dibahas, apakah ini melanggar sila atau tidak. Kendati bagi saya dia sering melanggar sila, tetapi dia selalu bilang bahwa jalani saja dengan bijak. Semua ada konsekuensi, bila terjadi pelanggaran sila, toh roda karma akan terus berjalan sesuai dengan perbuatan dia. Dari dia pun saya semakin yakin bahwa doa itu memiliki sifat universal dan dapat lintas agama, asalkan setiap doa dilakukan dengan niat yang baik dan untuk kebaikan. Bukan untuk mencelakakan orang lain. Dia dekat dengan orang berbagai lintas agama, bahkan orang tua, adik dan kakaknya pun hampir semuanya berbeda agama. Namun dia senantiasa terus mendoakan yang terbaik untuk semua, bahkan dia pun rajin mendoakan mendiang suami saya.

Saya sangat bersyukur dengan adanya musibah yang menimpa saya, pelan-pelan saya berusaha menjadi lebih bijaksana akibat lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang bijaksana. Di sekitar saya kini lebih banyak yang berpikiran bijaksana, justru ketika saya berani menanggalkan lingkungan orang-orang berpikiran dangkal yang konon memiliki level pendidikan tinggi dari lembaga pendidikan ternama. Dari teman saya ini pula saya mengetahui, bahwa pengalaman yang saya alami merupakan hal yang biasa terjadi ketika orang mengalami musibah yang sama.

Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan salah satu temannya yang sedang berada di persimpangan agama. Seluruh agama telah dia coba pelajari ketika dia ditinggal mati istrinya. Ternyata memang orang selalu berusaha mencari pendekatan spiritual atau ketenangan batin ketika mengalami goncangan. Pengalaman pribadi saya pun telah saya tuliskan dalam tulisan “Mencari Kedamaian“. Bendera agamanya bisa berbeda-beda, hal ini tergantung orang masing-masing.

Orang yang dikenalkan oleh teman saya ini beralih dari satu agama langit ke agama langit lain, dan dia mencoba konsisten di situ karena menemukan kedamaian di situ. Awalnya saya agak tidak terima, karena menurut saya agama yang dia pilih cukup radikal dan punya kecenderungan merusak perdamaian. Tetapi melihat kepribadiannya, hampir tidak mungkin dia akan berlaku seperti itu. Dia memahami agama yang baru dia anut, dan menjalaninya dengan kebijaksanaan, justru melebihi orang yang mungkin lebih lama memeluk agama tersebut, dan tak paham betul ajaran agamanya lalu sibuk berteriak-teriak melakukan kekerasan atas nama Tuhan. Tindakan yang justru mencoreng agama mereka sendiri.

Pada suatu titik tertentu, saya yakin semua orang memang akan berusaha mencari kedamaian secara spiritual, mencari ketenangan batin. Harapan saya adalah agama apa pun dijalani dengan bijak. Dengan kembali eling, tetap mengandalkan logika mana yang baik dan buruk, tentunya tidak akan ada lagi orang-orang yang saling menghakimi karena tidak bijak menafsirkan agamanya sendiri. Pada dasarnya semua orang rindu akan kedamaian, masing-masing mungkin akan menemukan pada agama yang berbeda-beda. Hanya mungkin waktunya saja, ada sudah tiba saatnya, ada yang belum, semua tergantung kondisi dan karma yang akan berbuah.

Hal yang terpenting adalah jangan sampai merasa suatu agama tertentu paling benar, sehingga pemeluk agama lain harus dibasmi. Yakinlah bahwa semangat dan ide semua agama adalah demi perdamaian dan kebaikan. Jika dunia ini damai, tentunya kita sudah punya surga sendiri di muka bumi ini bukan? Tidak perlu menanti janji setelah bumi musnah dan kehidupan berakhir.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: