Mencari Kedamaian

Hari ini hari Sabtu, 6 Desember 2014. Semalam saya memimpikan almarhum suami saya, dia tidur di kasur yang sederhana dengan sprei putih, sepertinya itu adalah sprei putih yang kami beli ketika baru pindah ke tempat tinggal kami. Sprei itu saat ini sedang saya pakai, sementara dia tidak pernah merasakan sprei ini selama hidupnya. Karena memang rencana kami adalah memakai sprei ini setelah kami sama-sama pulang ke rumah sekembalinya dia dari perjalanan dinas. Sayangnya dia meninggal ketika sedang dinas tersebut. Dalam mimpi tersebut kami tinggal di suatu apartemen mungil di Jakarta. Mungkin itu memang bagian dari keinginan saya kala itu, tinggal di Jakarta, di mana saya bisa dengan mudah ikut mencari nafkah.

Masalah mencari nafkah ini memang pernah menjadi pembicaraan kami berdua, karena pulau di tempat tinggal kami saat itu cukup menyulitkan saya dalam mencari mata pencaharian. Akhirnya saya bekerja secara jarak jauh, hanya sesekali saja ke Jakarta. Dalam mimpi tersebut, suami saya tampak muda, seperti ketika awal kami pacaran dahulu, ketika masih kuliah. Hari ini memang hampir 8 bulan semenjak kepergiannya, yaitu tanggal 10 April 2014. Tetapi saya terakhir berjumpa dengannya memang tanggal 5 April 2014. Jadi sudah tepat 8 bulan setelah saya tak berjumpa dengannya. Angka 8 memang menjadi favorit saya, bahkan tanggal kami menikah pun tanggal 8.

Saat ini saya bekerja di bilangan Kemang. Saya berusaha untuk lebih kuat dalam menghadapi segala hal ketimbang dahulu. Lebih sulit memang, apalagi selama 15 tahun kenal dengan almarhum suami saya tersebut, dia selalu menjadi tempat saya curhat. Ketika saya menikah di awal tahun ini, saya seperti meninggalkan sama sekali seluruh teman-teman dan keluarga saya hanya untuk bisa bersama dengan dia. Karena memang banyak sekali yang menentang pernikahan kami. Sesekali saya terasa ingin meledak karena kini segala hal disimpan sendiri, tak ada dia untuk berbagi. Saya tahu tak mungkin ada yang bisa menggantikan dia dalam hal ini, maka dari itulah saya yakin untuk tetap setia dengan dia.

Jalan keluar yang saya tempuh saat ini dalam mengatasi masalah adalah dengan lebih fokus secara spiritual. Sekitar sebulan setelah kepergiannya, salah satu teman saya mengajak saya ke salah satu tempat ibadah yang memang sedang merayakan hari besar. Tempat itu cukup jauh, sehingga minggu-minggu berikutnya saya mencari tempat yang lebih dekat dengan tempat tinggal saya. Agama ini sangat selaras dengan apa yang sudah saya latih sejak lama, yaitu menghindari tanha (thirst) ini adalah keinginan yang menjadi akar dari keserakahan.Untungnya sudah sejak lama saya melakukan praktek tersebut.

Bagi saya, agama ini penuh dengan kedamaian, pencapaian bagi umat agama ini adalah mencapai kesadaran atau pencerahan. Tentu saja ketika orang memiliki pandangan yang terang, sudah tak ada lagi bibit kejahatan dalam kesehariannya, semua dapat terjaga, baik dari pikiran, ucapan, maupun perbuatan.

Awal memasuki tempat ibadah sendirian, saya agak canggung. Namun penjaga tempat ibadah tersebut menyambut dengan ramah. Kini saya merasa telah menjadi bagian dari tempat ibadah tersebut, hampir setiap minggu saya tak pernah absen untuk beribadah di situ. Keseharian saya pun berusaha untuk selalu bisa menjalankan ajaran-ajarannya. Praktek keseharian tersebut mencakup, dana, sila dan bhavana.

Sebenarnya saya sudah berjodoh dengan agama ini sejak kecil. Hal ini terasa ketika saya sudah bisa memilih acara penyegaran rohani di televisi, selalu agama ini yang membuat saya nyaman. Paling jelas adalah ketika saya kecelakaan semasa SMA, saya seperti melihat salah satu sosok bodhisattva yang menyelamatkan saya. Pelan-pelan saya pun berusaha memahami ajaran agama ini, sayangnya saat itu jalur informasi begitu terbatas, akses internet tak semudah sekarang, buku-buku yang dijual untuk umum pun masih terbatas. Namun demikian ketika SMA tersebut, saya mulai menjadi vegan.

Ketika kuliah, untungnya jaringan pun semakin luas, ada perkumpulan khusus dalam naungan keluarga mahasiswa agama ini. Maka saya dapat mempelajari lebih mendalam, walau belum sempat benar-benar memasuki tempat ibadah. Kini saya memang beralih dari vegan menjadi pescetarian, tetapi paling tidak untuk praktek lain saya sudah dapat lebih selaras dengan ajaran yang ada.

Berdana, dengan tujuan dapat melepas tanpa mengharap apa-apa, murni hanya untuk menolong orang atau pun semua makhluk lain. Dengan berdana akan lebih mudah lagi melakukan praktek melepas kemelekatan. Praktek ini sebenarnya tak hanya sebatas materi, bisa berupa tenaga dan waktu. Lebih baik lagi jika berdana tersebut dapat menyelamatkan hidup, misalnya donor darah.

Berusaha menjalankan pancasila, yaitu tidak membunuh (bahkan hewan sekecil apa pun), tidak mencuri, tidak berzina, tidak berbohong dan tidak minum minuman dan makan makanan yang melemahkan kesadaran. Ajaran ini mirip dengan 10 perintah Tuhan yang dipegang teguh oleh suami saya, tentu saja perbedaan mendasar adalah butir yang berkaitan dengan Tuhan. Walaupun dia jarang ke tempat ibadah, tetapi 10 perintah Tuhan ini yang selalu dia pegang teguh. Seumur hidupnya dia pun tak pernah berzina. Dia pun rajin berdana, bahkan dia lebih banyak mengajari saya untuk menjadi orang yang lebih baik.

Hal yang paling membantu saya untuk kuat dan menjadi pengganti suami saya dalam hal curhat adalah bhavana. Ini adalah pengembangan batin dengan cara memusatkan pikiran pada suatu obyek. Dengan melakukan bhavana ini saya bisa memperoleh ketenangan, ketabahan, dan pada akhirnya akan memperoleh kesadaran yang lebih tinggi. Jika memperoleh penerangan yang sempurna, maka segala sesuatu dapat dilihat secara wajar sehingga dapat membebaskan diri dari segala penderitaan.

Berdana, sila dan bhavana, ini adalah cara saya dalam mencari kedamaian. Bahkan pertanyaan masa kecil saya yang tak terjawab oleh religi pun kini dapat terjawab oleh agama ini. Ya, agama ini memang berbeda dengan religi. Beberapa religi mengatakan bahwa Tuhan tak pernah memberi cobaan kepada manusia melebihi kemampuannya. Dahulu saya tak dapat menerima logika tersebut, karena pada prakteknya ada orang stress, gila dan bahkan bunuh diri. Bukankah kondisi tersebut merupakan dampak mendapatkan masalah di luar kemampuan seseorang? Ketika di agama yang saya pelajari ini, tak ada cobaan. Karena timbul pertanyaan, kenapa Tuhan yang begitu Maha Kuasa dan Maha Tahu perlu untuk memberikan manusia cobaan? Bukankah jika memang ada, sosok Adikuasa tersebut sudah tahu, sudah bisa mengatur dan sudah bisa menentukan manusia itu nanti bagaimana. Penjelasan dari pertanyaan saya adalah, hal yang menimpa manusia tersebut bukan cobaan, tetapi karma yang sedang berbuah, entah itu dari kehidupan sebelumnya atau kehidupan saat ini. Jadi hal yang terjadi pada kehidupan seseorang tidak melibatkan unsur Tuhan. Meditasi pun bukan ditujukan untuk meminta sesuatu pada Tuhan, inilah yang membedakan agama ini dengan religi.

Karma itu begitu adil, pasti akan berbuah. Cara mencegah agar karma buruk yang telanjur dilakukan tidak terlalu berdampak buruk adalah dengan melakukan kebaikan atau menabung karma baik sebanyak mungkin. Karma buruk memang pasti berbuah, begitu pula karma baik. Tak ada konsep netting dalam perhitungan karma. Namun bukankah dengan banyaknya karma baik yang berbuah, maka ketika karma buruk berbuah akan tak terlalu terasa? Logikanya seperti memasukkan sejumput garam dalam sekolam air, tentu asinnya tak terlalu terasa seperti memasukkan sejumput garam dalam segelas air.

Saya merasakan kedamaian yang ketenangan batin dalam menjalankan benar-benar agama ini dengan baik. Inilah yang saya jadikan jalan keluar ketika kini sendirian. Tentu saja tidak ada tempat curhat lagi seperti suami saya. Tetapi saya berusaha mencapai kedamaian, ketenangan dan pencerahan sendiri. Ajaran ini begitu damai dan paling masuk akal bagi saya. Banyak pertanyaan dapat terjawab. Semoga saja banyak orang yang juga terbukakan untuk menemukan esensi ajaran ini. Dengan demikian dunia pun dapat semakin damai dan indah.

Bila ada yang salah dalam tulisan saya ini, silakan dikoreksi, karena saat ini pun saya masih dalam tahap terus mempelajari ajaran ini.

Saat ini saya sedang sakit, semoga saja saya besok bisa sembuh dan dapat datang kembali ke tempat ibadah tersebut, melakukan puja bhakti, meditasi dan mendengarkan pembabaran dhamma.

Semoga semua makhluk berbahagia.

One Response to Mencari Kedamaian

  1. […] ketika mengalami goncangan. Pengalaman pribadi saya pun telah saya tuliskan dalam tulisan “Mencari Kedamaian” yang dimuat dalam blog saya. Bendera agamanya bisa berbeda-beda, hal ini tergantung orang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: