Teater Roro Mendut

Sebagai pemilik blog dengan nama Roro Mendut, tentu hukumnya wajib untuk nonton pementasan Roro Mendut. Terus terang agak kecewa dengan alur cerita yang banyak dipelintir saat pementasan, padahal di sinopsis booklet yang diberikan sudah lumayan benar. Ditambah lagi banyak kesalahan teknis berupa buruknya audio untuk suatu teater dengan harga tiket yang cukup mahal ketimbang harga tiket dari teater-teater yang lebih berpengalaman seperti Teater Koma dan Teater Gandrik.

Sempat disebutkan bahwa Roro Mendut adalah anak dari Adipati Pragolo, seorang Adipati dari kadipaten Pati. Padahal pada versi Mangunwijaya, Roro Mendut adalah seorang anak nelayan dari pesisir pantai utara yang diboyong oleh Adipati Pragolo untuk dijadikan selirnya. Namun pada beberapa versi memang Mendut diasuh Adipati Pragolo sejak kecil, tetapi pada versi ini justru Pragolo yang mempersembahkan Mendut ke Wiroguno. Sedangkan versi teater ini lebih mirip versi Mangunwijaya, dimana Roro Mendut merupakan rampasan perang ketika Pati berhasil ditaklukkan oleh Mataram. Mungkin cerita ini dipelintir agar tidak menimbulkan pertanyaan, mengapa Roro Mendut begitu gigihnya menolak dijadikan selir oleh Wiroguno sedangkan saat diboyong ke Pati dia tidak menolak.

Pada pementasan di siang hari, mic Adipati Pragolo sudah jelas noise, entah mengapa ketika ada kesempatan ganti adegan, mic tersebut tidak diganti dan tetap menggunakan mic yang noise.

Saat Pati sudah dapat ditaklukkan oleh Wiroguno, Roro Mendut pun diboyong ke Wirogunan. Ketika adegan percakapan antara Nyai Ageng (istri Wiroguno), Wiroguno dan Roro Mendut, tidak disebutkan asal muasal mengapa Roro Mendut mengambil solusi untuk berjualan puntung-puntung rokok bekas hisapannya. Terkesan Roro Mendut melakukan itu hanya karena tidak ingin terkurung di Wirogunan. Padahal hal tersebut adalah cara Roro Mendut agar dapat membayar pajak yang ditetapkan oleh Wiroguno. Malah di adegan tersebut ketetapan pajak justru dikenakan jika Roro Mendut mau keluar berjualan rokok. Itu pun hanya dibilang hasil lintingan Roro Mendut, bukan puntung hasil hisapan Roro Mendut.

Asal Pronocitro juga digambarkan dengan latar orang-orang desa yang banyak membawa cangkul, seolah-olah dia dari daerah pertanian. Padahal Pronocitro adalah anak Singobarong yang merupakan pengusaha lautan.

Akhir cerita Roro Mendut pun ada berbagai versi. Teater ini memilih akhir cerita Roro Mendut yang bunuh diri menyusul kekasihnya, Pronocitro. Pada versi yang lain, Roro Mendut terbunuh oleh keris Wiroguno saat melindungi Pronocitro yang akan kalah bertarung melawan Wiroguno. Keris tersebut membunuh Roro Mendut dan Pronocitro sekaligus.

Mungkin ekspektasi saya terhadap teater Roro Mendut yang dipentaskan di Teater Jakarta, TIM pada 14 April 2012 ini terlalu besar, sehingga ketika ada beberapa cerita yang dipelintir agak kecewalah saya… Padahal jika membaca sinopsis pada booklet yang dibagikan, alur ceritanya sudah benar walau banyak sekali typo error pada ejaan beberapa konten booklet. Termasuk profil Pronocitro yang isinya masih profil Wiroguno. Sayang sekali, untuk tiket yang lebih mahal ketimbang teater senior, banyak sekali kekurangan teknis di sana sini. Ada baiknya jika para sosialita menjadikan teater-teater senior sekelas Teater Koma dan Teater Gandrik sebagai acuan. Agar penggemar teater tidak kecewa dengan pementasan yang hanya sekedar menjual artis-artis ternama, namun dengan konsep yang kurang matang.

Tabik,

Seorang penggemar Roro Mendut.

Pragolo, Istrinya dan Mendut

Mendut dan Pronocitro

Para Pemain

4 Responses to Teater Roro Mendut

  1. kikishab says:

    hi, aku udah baca tulisan kamu, aku mau nanya dong hehe, yg jadi adipati pragolo nya siapa ya? dan apa benar ada tio pakusadewo di dalam acar ini? terimakasih🙂

  2. Anonymous says:

    Untuk kritiknya saya ucapkan terimakasih……namun anda mungkin tidak banyak menyimak dari pagelaran2 sejenis…seperti misalnya Bedoyo Ketawang,,,,dari jumlah menit yang biasanya secara tradisi…bisa berlangsung lebih dari 3 Jam..namun mayoritas pentas kecuali di Keraton2 (pd acara tertentu) sudah menjadi 1 jam an…..jumlah penari juga sudah berkurang…
    Mengenai roro mendut,,,dicerita ini kan tidak usah di paparkan darimana asal muasal roro mendut …. dan utk cerita juga adalah skenario baru…jadi semua legenda yang ada …adalah tokoh2nya…dan pendamping tokoh.

    Yg tetap bertahan adalah nuansa wayang orangnya,,,,pakaian..walaupun sudah di sederhanakan juga…kan kita tau kalo mau nonton asli wayang orang…mari kita pergi ke Sriwedari solo..

    Nah harusnya Anda sebagai pencinta tari budaya Indonesia , khususnya … berbangga hati dan trenyuh…bahwa budaya tari jawa ini masih di lestarikan dan dikembangkan sesuai dgn jamannya…oleh Ibu2 yang anda anggap Socialita itu.

    Mengenai rokok yang tidak di hisap oleh mendut,…itu dikarenakan kita menghormati undang2 ttg rokok…sudahlah tak usah kita bahas itu..kan tidak perlu..ini nama nya tata krama….

    terima kasih..

    wass…..CARMANITA (pemerhati seni)

    • Endah says:

      maaf, kalau saya biasa nonton teater yang jelas2 lebih dari 3 jam🙂
      tolong jangan menghakimi saya kalau belum mengenal saya..
      Kalau saya tidak pernah mengulas Teater Koma dan Teater Gandrik pada blog ini karena saya memang selalu puas dengan pementasan mereka.
      Kalau mau bukti, monggo lihat2 buku panduan dan tiket teater yang selalu saya tonton🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: