Season of the Witch

Sebenarnya gue nonton film Season of the Witch ini sekitar pertengahan Januari lalu. Selepas dari jenuh menyusun salah satu buku. Bersama dengan senior idaman *halah penting banget ya, diceritain*. Seperti biasa, gue nonton film tanpa membaca resensi terlebih dahulu, agar lebih dapat mengikuti keinginan sang sutradara menggiring penontonnya. Jadi sebelum nonton, gue pikir film ini ada hubungannya dengan The Sorcerer’s Apprentice yang juga dibintangi oleh Nicolas Cage. Tetapi ternyata tidak ada kaitannya sama sekali.

Film ini mengambil setting abad 14. Dimana penyihir menjadi masalah yang sensitif. Setiap orang yang dicurigai sebagai penyihir akan langsung dieksekusi mati, tanpa pengadilan yang manusiawi. Kalau di Indonesia layaknya pembantaian orang yang dicurigai sebagai PKI pada jaman Orde Baru atau pemberantasan aliran-aliran yang dianggap sesat seperti Eden dan Ahmadiyah mungkin *tuh melenceng lagi kan reviewnya*.

Alur film ini agak sukar ditebak, penonton akan digiring untuk menduga-duga apakah penyihir itu ada atau tidak. Berawal di masa pembasmian penyihir yang tak pandang bulu. Bahkan perempuan dan anak-anak pun dibunuhi jika suatu perkampungan dianggap dipenuhi penyihir. Namun ada seorang ksatria kerajaan yang merasa bersalah saat membunuh seorang wanita di suatu desa. Maka dia pun membelot. Behmen (Nicolas Cage) namanya, memutuskan untuk desersi. Sahabat setianya, Felseon (Ron Perlman) memutuskan untuk turut menemaninya.

Desersi merupakan suatu kejahatan, untuk itu harus ada ganjarannya. Maka ketika ketahuan sebagai pasukan yang desersi mereka berdua pun dikurung dalam suatu tahanan. Dalam tahanan tersebutlah, mereka bertemu dengan seorang gadis kecil yang dituduh sebagai penyihir. Gadis kecil tersebut begitu ganas. Namun ternyata, justru mereka berdua yang sanggup menangani si gadis. Sehingga kedua ksatria tersebut ditugaskan untuk mengiringi perpindahan gadis kecil itu ke suatu tempat, dimana ada buku terakhir yang berisi mantera untuk memusnahkan penyihir.

Sepanjang perjalanan dipenuhi dengan teka-teki, apakah dia gadis biasa? Ataukah memang dia penyihir? Selain itu, beberapa pendeta dan putra altar yang mengiringi pun juga mengandung teka-teki. Apakah benar si pendeta telah memperlakukan si gadis dengan tidak senonoh? Akan lebih seru jika menonton langsung film ini. Akhir film begitu mengharukan dan tak terduga.

Psst… buat yang sempat baca blog gue yang judulnya Midnight Cupid at McD, ini film yang gue tonton sebelum akhirnya makan di parkiran McD itu lho.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: