Satu Jam Saja

Tadinya tertarik nonton film ini gara-gara sampul cover dua cowo tampan idaman, Vino G Bastian yang berbadan seksi dan Andhika Pratama dengan tampangnya yang imut-imut. Alhasil niat terhibur, malah jadi terisak-isak sedih. Film ini bercerita tentang persahabatan tiga insan manusia yang berakhir tragis. Gadis (Revalina S. Temat), Andika (Vino G. Bastian) dan Hans (Andhika Pratama) awalnya saling bersahabat. Begitu pun kedua orang tua Gadis dan Andika.

Entah apakah ada cinta sepasang insan manusia di antara para sahabat itu atau tidak. Ketika Hans dan Gadis dalam suatu misi memberikan kabar gembira mengenai beasiswa yang diraih oleh Andika. Malah terjadi suatu musibah. Hans mengambil kesempatan saat sedang berdua di perjalanan. Hingga akhirnya Gadis pun hamil. Sempat kebingungan, kabur dari rumah dan berencana menggugurkan kandungan.

Andika yang baru mengetahui perihal Gadis hamil pun sebisa mungkin mencoba mengatasi permasalahan. Mencari Hans, agar dia mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun Hans terlalu pengecut, melarikan diri begitu saja. Seolah ingin lari dari kenyataan. Padahal toh dia belum ada tanggungan. Gadis pun tak menagih apa pun pada Hans, bahkan ingin mengambil jalan keluar sendiri. Entah kenapa pada bagian ini pun gue udah terisak terharu, nggak biasa-biasanya gue tersentuh nonton film Indonesia. Syukurlah ada seorang pangeran yang bersikap ksatria, Andika pun merelakan tak mengambil beasiswa. Mengorbankan masa depannya sendiri untuk menanggung hal yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya. Andika menikahi Gadis. Tak dinyana, ternyata Andika mencintai Gadis, sekalipun hati Gadis tidak untuknya.

Ihiks ihiks.. seandainya.. seandainya ada sosok Andika itu di hidup gue.. halah jadi curhat colongan :p. Sebagai kepala keluarga, maka Andika pun berusaha mencari nafkah untuk Gadis. Terlihat beberapa adegan agak konyol ketika mereka agak kaku dalam berkomunikasi. Seperti perubahan kata ganti, dari “lo-gue” menjadi “kamu-aku”. Bagaimana dengan Hans? Ternyata dia pun tak semonster yang kita kira. Dia sebenarnya juga kalut dan bingung harus mengambil langkah apa, toh usianya juga terlalu muda. Penyesalan melanda dirinya. Beda mungkin ya sama oom2 pengecut yang pergi gitu aja ketika menghamili anak orang, melengos dari tanggung jawab. *Semoga Tuhan membalasnya*. Doh, ulasan gue makin di luar konteks nih. Intinya sih Hans, pengen membayar kesalahannya dan mengambilalih tanggungjawab dari Andika.

Alur film terasa lambat, dengan beberapa adegan yang terkadang terasa loncat sana loncat sini. Seperti ketika si Hans tiba-tiba diperbolehkan masuk ke ruang perawatan Gadis sudah lengkap dengan kostum ruang steril. Masalahnya, dia kan bukan keluarga atau kerabat yang bisa seenaknya masuk begitu saja. Tapi nggak tau juga sih, persisnya peraturan di RS :p

Banyak aktris-aktris wanita senior yang turut meramaikan film ini, seperti Rima Melati, Marini, dan Widyawati. Asyiknya film ini terasa lebih mengharukan dengan akhir yang tidak happy ending. Sampai mati pun, Gadis tidak pernah mencintai Andika satu jam saja. Padahal lelaki itu sudah banyak berkorban baginya. Tragis, tapi menyentuh… tidak terlalu buruklah untuk suatu film Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: