Kura-kura itu sudah tiada

Sepanjang perjalanan malam itu hujan lumayan deras, untung sesampai di parkiran kantornya air yang tercurah dari langit sudah mulai bersahabat. Tak perlu membawa payung, gue pun berlari kecil menuju lobby kantor. Banyak orang berkerumun di pintu depan lobby, tak ada yang gue kenal. Seorang editor baru menawarkan pertolongannya memasuki ruang edit bagian luar. Sesampainya di situ, gue pun terduduk, gue lihat dua sosok yang gue kenal, Ayu dan Tony. Ayu, yang dulu terasa kurang akrab memandang dengan ramah dan bersahabat. Sekilas gue pun memahami. Dia pernah mengalami apa yang gue rasakan, dan gue yakin dia tau apa yang gue tau. “Mau ke ruangan Socrates Ndah?”, tanyanya seraya tersenyum ramah. Gue pun bersalaman layaknya orang yang sudah berteman lama, dia pun mengantar gue ke ruang kerja Socrates. Dia dijuluki Socrates karena konon sering mengenakan kaos Socrates, pemain Brazil tahun 70-80an.

socrates

Masuk dalam ruangan tersebut, gue menepuk pundak Socrates dari belakang. Sekilas jadi ingat adegan Jill yang tiba-tiba kembali menghampiri Bailey setelah sekian lama menghilang. Socrates pun menoleh dan menampilkan reaksi yang sama seperti Bailey. Gue terdiam melihat patung Kuda kayu berukuran sedang yang terpajang di mejanya. Patung sepasang kura-kura dengan topi tani yang gue beli bareng dulu sudah tidak ada. Obrolan basa basi pun terlontarkan, tanpa mempedulikan beberapa anak baru yang cukup heran dengan keakraban kami berdua. Namun beberapa orang lama tampaknya cukup mahfum. Karena haus, gue pun minta minum. Dia mengambilkan termos botol minum dari tasnya. Lagi-lagi gue sedikit bertanya-tanya, kemana gerangan ya gelas biru melamin pasangan dari gelas minum gue. Gelas yang selalu gue bawa dan pakai di keempat (sekarang enam 2011) kantor yang pernah jadi tempat kerja gue.

Walau agak segan, gue akhirnya bertanya mengenai boneka penyu ungu. Turtle on the dashboard, sebutan si boneka itu dulu di antara teman-teman elektro. Memang sebenarnya bukan kura-kura, tapi toh cuma Socrates yang kekeuh menyebutnya sebagai penyu. Dia tau betul bahwa boneka itu pakai sirip penyu, bukan kaki kura-kura. Semua teman dekat kuliah gue memiliki boneka penyu ungu, masing-masing diletakkan pada dashboard mobil orang yang dulu menjadi pacar mereka. Dan semua pria itu kini telah menjadi suami mereka. Lain halnya dengan gue, dulu si penyu ungu itu gue letakkan di dashboard sahabat gue ini. Sempat sih gue coba ambil lagi waktu dia sedang di luar kota. Namun gue ga punya kunci mobil cadangannya he he he.. kejadian itu memang sudah beberapa tahun silam. Ketika gue tanya, dan kemukakan niat gue untuk minta kembali si penyu ungu, dia pun menjawab, dia tak tahu dan lupa. Mungkin Umi sudah membuangnya kata dia. Bagaimana gue sanggup marah, si kembar Umi – Lian adalah favorit gue, bahkan gue menyayangi mereka lebih dari keponakan gue sendiri. Masih teringat di otak gue bagaimana mereka berebutan minta duduk di pangkuan gue.

Gue perhatikan baju panjang lurik hijau yang tergantung di balik pintu, dan beberapa pernak pernik ciri khas Socrates. Celana jeans hitam LV yang terlihat sedikit kesempitan membungkus badannya yang gemuk. Bando kawat yang dia kenakan menahan rambutnya agar tak terurai kedepan. Saat itu dia mengenakan kemeja kotak-kotak merah dengan tulisan merk Walrus di kantung bagian atas. Gue gak memotretnya, dia paling anti difoto, dia bilang dia gak mau umurnya berkurang kalo terabadikan di media apa pun. Dia pun bercerita, walau sudah tak ada patung dan boneka penyu itu, namun dia memelihara empat ekor kura-kura di rumahnya. Dengan peragaan tangan dia pun menggambarkan besar si kura-kura. Hmm empat kura-kura hidup, layaknya empat bidadari mungil di dalam rumahnya. Kami pun tertawa berderai bersama, saat mengingat asal muasal si kura-kura. Gue dulu menjulukinya kura-kura, karena badannya yang pendek, jika membawa tas ransel kepenuhan yang entah apa isinya. Dia seperti kura-kura Galapagos.

Gara-gara si kura-kura itu pula, dia membuat id quratengil. Karena gue suka dengan nama id tersebut. Id itu pulalah yang gue gunakan hingga sekarang untuk berbagai login dan menjadi email permanen gue. Dia bilang lagi, iya Ton, makanya karena dia suka sama si quratengil, ya sudahlah boleh saja dia ambil alih id itu jadi miliknya. Dia merelakan id tersebut untuk tidak menjadi haknya lagi, gue pun merelakan berbagai pernik kura-kura yang sudah tersingkir, baik dari dashboard mobilnya dan dari meja kerjanya. Sebenarnya gue masih memiliki satu boneka penyu ungu. Tapi masih tersimpan dengan rapi di lemari gue. Suatu saat nanti, jika ada pria yang tepat, gue yakin, boneka penyu ungu itu akan menghiasi dashboard mobilnya.

10 Responses to Kura-kura itu sudah tiada

  1. Otoko says:

    semua punya kenangan indah. Dan rasanya itu yang akan membuat kita menjadi dewasa😉
    Pernah melakukan hal yang sama, tapi dia pun memilih untuk mencintai orang lain😉

  2. masyud says:

    Ndah… belum juga ya.. lanjutkan journey nya yak.. semoga akhirnya ketemu pemilik dashboard yg beruntung..

  3. codot says:

    naah gini dong klo bikin tulisan..

  4. Endah says:

    @otoko: ya, kenangan yang sangat indah, tapi semua tinggal kenangan…
    @masyud: iya nih, belum ada dashboard yang cukup layak dihiasi si penyu ungu
    @codot: gimana ya gus, wong nulisnya penuh penjiwaan dan emosi. Tepat sehari setelah ketemu sang pengayom yang bijak.. biar gak pernah kuliah filsafat tapi beliau kan banyak baca buku filsafat jadi lebih dalem gak asal jeplak…

  5. guntor says:

    ngumpulin mozaik dari masa lalu ya? sekarang kelihatan lebih indah atau malah bikin sedih?

  6. Mahendra says:

    mempunya kenangan indah itu menunjukkan kita hidup … raihlah cinta meski kamu tahu bahwa cinta itu bisa membawa kamu terbang ke langit dan membuat sayapmu habis terbakar ..tapi dengan merasakan cinta kamu akan merasakan hidup🙂

  7. budar says:

    kura-kura nya ga selalu harus menghiasi dashboard kan ?

  8. Socrates says:

    maaf, gue gak tau betapa berarti penyu ungu itu buat lo. Gue cuma takut untuk berharap lagi. Ditinggalkan oleh lo sangat menyakitkan. Semoga lo mendapatkan yang terbaik buat hidup lo…

  9. Mahendra says:

    @socrates .. menyakitkan itu bagus ..artinya sampeyan masih hidup🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: