The Ugly Truth

The Ugly Truth

Kalimat pertanyaan yang paling berpengaruh bagi gue dari film ini adalah “They say they want true love? But all they want is a check list. Is he Perfect? Is he handsome? Is he a doctor? For you men who fit the criteria. Do catch yourself, because the’re not sleeping with you. You’re sleeping with the carefully calculated sad of full choices…. A girl need for two guys, will always choose the better one with a resume.” yang dikatakan oleh Mike Chadway (Gerard Butler), salah satu talent kepada produsernya, Abby Richter (Katherine Heigl) . Menyedihkan ya, suatu ironi bahwa terkadang memang kita mencari-cari pasangan berdasarkan daftar kriteria-kriteria yang sudah kita tentukan. Kriteria yang cenderung sempurna, yang nyaris sulit ditemukan. Tapi ketika memang benar orang yang menyandang segala predikat tersebut ada. Apakah benar-benar cinta yang dirasakan satu sama lain? Apakah kita sanggup tidur dengan sebuah daftar tanpa jiwa? Dan bagi Anda, pria yang sesuai dengan daftar tersebut, apakah Anda bersedia tidur dengan seorang wanita menyedihkan yang begitu memperhitungkan pilihannya. Kenyataan buruk lain lagi adalah… Jika wanita dihadapkan dengan dua pilihan pria, apakah benar dia akan menentukan pilihan ke pria yang memiliki riwayat hidup lebih baik? Komedi sinis ini cukup menggelikan dan bisa menjadi hiburan ringan.

Film diawali dengan suatu program variety show, yang diproduseri oleh Abby. Mereka dihadapkan oleh persoalan semakin menurunnya rating acara. Di sisi lain, progam lain yang dipresenteri oleh Mike, ratingnya sedang meroket. Sebuah acara rendah moral, yang mengungkapkan kenyataan-kenyataan buruk yang terjadi seputar hubungan romansa, The Ugly Truth. Pada suatu malam, tak sengaja Abby terjebak menjadi salah satu penelpon responder acara tersebut. Berusaha mematahkan pendapat Mike dengan argumennya mengenai gambaran seorang pria sempurna. Tak ayal lagi, telponnya malah menjadi bahan olokan.

Tak dinyana, keesokan paginya acara tersebut justru menjadi bagian dari variety show asuhannya. Berbagai pakem kesopanan ditubruk. Mike yang liar memang sanggup menaikkan rating, namun Abby sendiri kurang suka dengan wajah baru acara tersebut. Berbagai friksi sering timbul.

Pada kehidupan Abby sendiri, sang tokoh pria dengan kriteria sempurna telah ditemukan. Secara tak sengaja kucing kesayangannya mempertemukan Abby dengan tetangganya, seorang dokter, dengan badan sempurna dan kepribadian yang dia idamkan. Apakah Abby mampu menaklukan pria tersebut?

Ternyata Abby memang tidak memiliki tips dan trik jitu untuk memikat pria. Apalagi kepribadiannya sebagai wanita yang dominan dan senang mengkritik bukanlah tipe idaman pria. Melihat peluang tersebut, Mike yang jago dalam urusan pikat memikat pun membuat kesepakatan dengan Abby. Dia bersedia memandu Abby untuk mendapatkan pria idamannya tersebut, dengan kompensasi Abby mau bersikap lebih kooperatif dengannya saat bekerja.

Standar film komedi Hollywood yang mudah ditebak arahnya, alih-alih Abby dan sang pria idaman bersatu. Malah Abby dan Mike akhirnya saling jatuh cinta. Dibumbui dengan adegan-adegan konyol, dimana Abby tidak sengaja memakai celana dalam getar pemberian Mike untuk presentasi di hadapan para direksi. Adegan romantis saat mereka mulai merasakan cinta. Dan the moment of truth, ketika Abby harus memilih sikap. Apakah akan menjalani malam romantis dengan sang dokter idaman yang memberi kejutan saat menyambangi hotel tiba-tiba. Atau mengikuti kata hatinya bahwa, dia mencintai orang yang dia anggap memiliki karakter yang buruk. Mike pun tidak tahu sikap yang diambil Abby, dia merasa tak mungkin bersaing dengan daftar sempurna Abby tersebut.

Adegan favorit gue ada di ending film, saat di balon udara. Ketika Mike mengucapkan kata-kata yang gue kutip di paragraf awal review ini. Saat Mike mengucapkan bahwa dia juga tak tahu kenapa mencintai seorang wanita psiko. Abby bukannya nyadar malah marah-marah karena merasa dikatai psiko. Kembali mereka beradu mulut, Mike yang protes bahwa Abby bahkan tak menyadari Mike menyatakan cinta, karena hanya kata psiko yang didengar Abby. Abby malah berceramah soal bahasa… he he he.. seperti siapa ya… Bukan tontonan serius memang, tapi gue suka.. sebagai cewek yang sedang terpuruk menghadapi kenyataan, gue cukup terhibur…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: