Milk

Beralih dari resensi dua film ringan untuk menghangatkan otak, gue beralih mencoba mengulas film yang lebih serius. Seperti biasa, film favorit gue adalah yang berdasarkan kisah nyata. Harvey Milk (Sean Penn) seorang aktivis gay yang mencoba terjun di dunia politik. Sebenarnya keinginannya ini terinspirasi oleh perlakuan yang tidak adil saat dia membuka usaha toko kamera dengan kekasihnya, Scott Smith (James Franco). Beberapa kali gagal pemilihan, akhirnya dia berhasil terpilih sebagai supervisor kota dan membuat perubahan dengan menentang peraturan tentang diskrimasi terhadap pekerja gay. Beberapa adegan intim pasangan gay tidak digambarkan secara vulgar. Plot dengan alur yang mundur maju lumayan nyaman disimak walau ada sedikit cerita yang terloncat. Entah karena gue kurang begitu menyimak dengan serius atau memang ada alur yang sedikit lompat. Film ditutup dengan adegan yang agak tragis, namun memang sudah diceritakan pada awal film. Mengenai penembakan sang walikota, George Moscone (Victor Garber) dan Milk. Namun kematian mereka justru tidak memupuskan perjuangan para kaum homoseksual.

Beberapa adegan demonstrasi dan kekisruhan saat pemilu digambarkan seperti potongan berita televisi. Setting cerita betul-betul disesuaikan dengan kondisi taun 1970an, saat diskriminasi terhadap kaum homoseksual benar-benar terlihat jelas. Homoseksual dianggap penyimpangan seks yang merusak generasi muda sehingga harus dibasmi dari segala aspek kehidupan. Guru-guru yang diindikasikan gay dipecat dari sekolah. Tanpa sadar mereka merusak esensi dari hak asasi manusia, dan ajaran untuk dapat menerima dan bertoleransi terhadap orang yang berbeda.

Film diawali dengan Milk yang sedang merekam suaranya, sebagai pesan-pesannya jika dia sudah mati tertembak. Kemudian flash back, ke awal mula perkenalan Milk dengan Scott di salah satu sub way.  Mereka pun menghabiskan malam bersama demi merayakan ulang tahun Milk ke 40. Kemudian hari demi hari mereka lewati dengan keromantisan dan perjuangan hak kaum gay. Bagaimana Milk berjuang agar bisa menjadi seorang politisi. Turun-turun ke jalanan, untuk merekrut simpatisan.

Saat Milk sudah terpilih, entah kenapa ada cerita sedikit lompat. Gue gak tau kapan dia putus sama Scott. Tiba-tiba datang Jack Lira (Diego Luna) seoran gay yang begitu girly dan jadi kekasih baru Milk. Scott hanya memantau perjalanan karir politik Milk dari televisi. Sebenernya gue agak sedih di sini, karena terlihat kalau sebenarnya Milk dan Scott lebih pas jadi pasangan karena saling support. Scott bisa jadi partner yang imbang jika berdiskusi soal politik. Sedangkan Jack, nyaris gak punya otak. Tak ada obrolan berbobot yang bisa dilakukan Milk dengan Jack. Seolah-olah Milk hanya jadi tempat bergantung Jack. Kesibukan politik Milk yang menyita waktu, membuat Jack mulai rewel. Karena tak bisa tiba di rumah lebih awal, Jack pun cari perhatian dengan gantung diri hingga mati. Di saat kesepiannya, terkadang Milk menelpon Scott.

Dari sisi politik, lawan-lawan Milk banyak yang beradu pendapat melalui media. Namun siapa nyana, justu kematiannya ada di tangan rekannya. Dan White (Josh Brolin), salah satu anggota dewan supervisor San Fransisco yang kurang terlalu dapat dukungan saat mengajukan kebijakan-kebijakan politik akhirnya mengakhiri hidup sang aktivis gay dan walikota San Fransisco. Namun perjuangan Milk tidak berhenti, tim pendukungnya terus menggalang solidaritas kaum homoseksual untuk terus memperjuangkan hak-hak mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: