Merah Putih

merah-putih

Seandainya Sinema-Indonesia.com masih aktif mereview film-film Indonesia, gue yakin, film “Merah Putih” yang konon skenarionya ditulis oleh dua orang bule bernama Connor Allyn dan Rob Allyn akan meraih nilai lima kancut atau lima kolor. Entah apa yang ada di otak dua orang bule ini, dari segi cerita yang diangkat alurnya aneh, ngalor ngidul gak jelas. Tidak ada konflik yang matang, serta tidak ada karakter yang kuat dari setiap tokohnya.

Jika menonton film ini, dijamin, sinetron Indonesia jadi akan terlihat lebih bermutu. Betul-betul miris rasanya menjalani siksaan menonton film ini. Rasanya aktor-aktor muda yang terlibat dalam film ini seperti bunuh diri bersama dalam karir akting mereka. Padahal tiga aktor yang berperan dalam film ini merupakan favorit saya, yaitu Lukman Sardi sebagai Amir, Dony Alamsyah sebagai Tomas dan T. Rifnu Wikana sebagai Dayan. Ketiga aktor tersebut sering tampil di layar lebar walaupun sekadar sebagai pemeran pembantu. Lukman dan Dony pernah bermain bareng dalam Sembilan Naga dan T. Rifnu Wikana, selain sering mendapat peran pembantu juga aktif dalam teater. Selain ketiga aktor tersebut, ada juga dua badut tambahan yang berperan sebagai tokoh-tokoh utamanya, yaitu Darius dan Zumi Zola. Terus terang gue sebenernya bingung juga, siapa tokoh utamanya saking tidak adanya karakter yang kuat.

Sepertinya India-India yang biasa membuat karya film picisan bisa berbangga hati dengan adanya film begitu banyak kekurangannya ini. Dari sgi kostum dan setting tempat.. waduh banyak sekali bolongnya.. mulai dari bangunan rumah yang sudah tembok, pakaian-pakaian yang masih tampak baru dan setting lokasi yang lompat-lompat gak keruan. Di tengah-tengah cerita hampir aja gue ngira film ini berubah jadi film horor, atau film misteri dan beralih lagi ke film roman. Banyak juga adegan yang janggal. Ketika mereka menghitung pasukan yang selamat, gue sebagai penonton mengira tinggal si tokoh-tokoh jagoan ini yang selamat (karena mereka juga menyatakan begitu).  Lha tiba-tiba waktu si Tomas nyerang ke camp Belanda.. dan menemukan tempat persenjataan, eh ada tentara Indonesia yang nongol bantuin ngangkut senjata.. setelah itu hilang lagi.. apa dia kesasar lagi shooting film tetangga sebelah, atau gimana?

Bingung sama tulisan gue yang loncat-loncat? Nah kalau baca ini aja bingung, dijamin nonton filmnya lebih bingung lagi, karena lebih loncat-loncat. Sudahlah gak usah ngelibatkan bule untuk ngejual film, kalau memang jelek mah jelek saja. Padahal daya jual film ini katanya karena menggandeng Adam Howarts, ahli efek khusus yang terlibat dalam Saving Private Ryan dan Black Hawk Down. Tapi entah efek di bagian mananya.. mungkin pas ledakan dari serangan Belanda yang tiba-tiba. Walau gue belum juga menemukan ke spektakuleran ledakan tersebut. Mungkin lain kali nyewa Noordin M. Top saja deh untuk sewa menyewa efek ledakan..  toh bisa pesan mulai dari low explosion sampe high explosion.

Ternyata, karya anak bangsa dahulu masih belum bisa dikalahkan oleh movie maker saat ini yang sudah kolaborasi dengan bule. Nagabonar 1 masih merupakan master piece film perjuangan, dengan skenario cerita yang matang dan alur yang jelas… So, apakah Anda rela membeli tiket untuk film yang sama sekali tidak layak tonton ini. Kalau memang punya nasionalisme tinggi, mending ikutan upacara saja dan merayakannya dengan ikut lomba 17an makan kerupuk deh. Benar deh dengan menonton film ini bukan berarti memiliki nasionalisme yang tinggi.

12 Responses to Merah Putih

  1. dody says:

    setuju sekali. kenapa film perjuangan indonesia harus ditulis oleh orang bule yg belum tentu mengenal pola kehidupan rakyat indo jaman dahulu.
    pemerannya tidak mencerminkan tampang2 rakyat indo jaman dahulu, dony tampangnya terlalu ganteng utk ukuran pejuang2 indonesia ketika itu.
    ‘janur kuning’ serta ‘kereta terakhir’ ataupun ‘cut nyak dien’ masih jauh lebih baik. mereka adl masterpiece buatan anak negeri, terlepas dr efek2 film yg saat itu tidak secanggih sekarang.

  2. morishige says:

    nah.. bikin2 gw mikir2 lagi mau nonton ni film atau nggak.😦

  3. Yohanes says:

    Wah, sadis nih review-nya. Yah saya harus mengakui bahwa ada kejanggalan dari segi setting, misalnya apakah akademi militer th 1947 di Indonesia yang masih kacau sudah established seperti itu … dan apa kalau pas kelulusan ya dansa dansi (akmil hollywood kali ya), masa seragamnya seperti itu (yg tentara pake jas dasi jaman itu setau saya cuman Jendral Sudirman – itupun di acara resmi), masa ada priyayi2 kebarat2an berani petentang petenteng di sekolah militer di jaman di mana sikap anti bangsa asing lagi panas2nya, dll. Setting juga, rasanya terlalu “bersih”, kurang “gritty”. Coba bandingan tampilanya dg film2 perjuangan Indonesia th 80-an spt Janur Kuning, Kereta Api Terakhir, Mereka Kembali, Bandung Lautan Api, bahkan yg “war action”-nya Imam Tantowi spt Pasukan Berani Mati dan Lebak Membara.. liat “feel”nya, kan beda banget.

    kecuali kalau ini memang dibuat setting surealis / fantasi “Once upon a time in Indonesian revolution”

    Lalu dari segi skenario, ada hal2 yang janggal di dialognya, misalnya terkait saat kelulusan, y kira2 bunyinya silakan bersenang2 dgn pasangan masing2.. lalu saat Dayan membunuh prajurit Belanda dr belakang saat di desa lalu berkata “merindukan saya?” (pasti maunya “miss me?”)… lalu guyonan soal Marius yg tidak becus nembak saat di barak sekolah, semua itu menunjukkan in seperti skenario yg dlm Bahasa Inggris ngga disesuaikan dg konteks Indonesia… lgsg diterjemahkan. bau hollywood-nya kental…

    Tapi saya kurang setuju kalo ini dikatakan total waste. Tunggu dulu seri 2 dan 3 (katanya trilogi kan?) At least mereka sudah berusaha, OK, memang terasa over promoted, tapi daripada cuma ngebacot tapi ngga ada inisiatif bikin, beraninya cuma bikin film horor dan teenlit? ya mungkin terpaksa dipancing film Indo rasa bule dulu, spy sineas lain tergerak utk bikin yg rasa Indonesia asli🙂 Apalagi Merah Putih ini laris manis.

    Terus terang saya lebih nyalahin produsernya, kenapa nggak ada usaha mengadaptasi skenario dan ide cerita yg rasa bule itu lebih ke Indonesia taste dan sikon. nggak salah bulenya 100%, mereka kan pake kacamata mereka, kacamata hollywood cliche, mereka ga ngerti sikon Indonesia kan? Produsernya yang mustinya tahu, eh, ini kok kurang Indonesia ya, coba saya hire penulis skenario Indonesia untuk membenahi… kan lebih baik jadinya? Ya seandainya…

    Mustinya Hashim dgn duitnya yg berlebih itu lebih berani nyewa org Indonesia drpd bule. yah, bule yg disewa paling di special effectnya aja, biar org2 kita belajar dulu… tp skenario dll mustinya pakai lokal…

  4. morishige says:

    @yohanes: bener kata orang. kalau bagus dipuji setinggi langit. nah, giliran jelek, kejelekannya bener-bener dicari-cari..:mrgreen:

  5. han says:

    kayaknya emang paling gampang kalo cari kejelekan atau kesalahan dalam film. apalagi film indonesia gt lo… kalo kita tidak mau filmnya jelek-jelek gitu, ya mbok dibantuin bikin yang bagus, ehm.
    daripada nonton sinetron, reality show yg gak real, film horor yang setting dan alur ceritanya membosankan …
    yah lumayan dong yang MERAH PUTIH ini bikin nuansa perfilman indonesia berbeda.
    mungkin aja abis bikin film ini ada yang mau biayain film2 perjuangan indonesia yang lebih bermutu.

  6. Endah says:

    Banyak film Indonesia yang sudah bagus…
    Nagabonar itu master piece Indonesia..

    Justru Merah Putih ini mempermalukan perfilman Indonesia yang sudah cukup maju. Coba lihat Opera Jawa, Photograph, Jagad X Code dan film-film Indonesia lain yang cukup bermutu..
    Bagi gue Merah Putih ini ga sebanding dengan karya-karya anak bangsa murni yang jauh lebih bagus dan diputar di berbagai negara…
    Coba lihat karya-karya Garin Nugroho, Riri Reza dan beberapa sineas Indonesia lain… Jangan sampai karya-karya mereka tercemar karya gak mutu macam Merah Putih ini…

  7. ASEP SETIAWAN says:

    paling tidak ini menjadi cambuk bagi sineas kita yang lain. yang mau membuat film sejenis/perang. masih banyak tema perang lain. misal palagan ambarawa. pertempuran 5 hari smg.yang belum di buat, atau meremake film2 perang dulu misal janur kuning, serangan fajar, dll. namanya juga udah lama gak muncul, terakhir kalau gak salah surabaya 45 ya.ini sebagai pelajaran bagi kita untuk berbuat yang terbaik bagi dunia film kita.

  8. adi says:

    saya sdh agak skeptis dr awal liat trailer film ini yg menampilkan tentara di awal republik dgn tampilan bersih & klimis. sepertinya memang riset-nya agak kurang

  9. acoest says:

    dnger2… merah putih 2 mulai penggarapan bln januari y?

  10. Satu bule hilang di Jawa says:

    Pertama “poster” yang suruh penduduk Indonesia melawan Belanda untuk merdekaan di bikin Pak Affandi (si pelukis nomor 1 dari Jogja) tahun 1946 (kalo tidak salah).

    Aku sangat suka kalau posternya ada juga di tembok jalan yang di lewatin tantara2 Merah Putih…Untuk realismnya.

    Kenapa aku sendiri pikir itu, dan semua orang produksinya tidak ? Budaya lokalku masih sangat kecil, kok mereka tidak pikir tentang sejenis detail2 segini ?

    Terus, MP 1 tidak sangat bagus. Semoga yang 2 dan 3 lebih asyik. Tapi sudah bagus tidak usah pilih film Indonesia cuma antara cinta-horror-komedi. Sekarang ada perang.

    Oh ya, satu hal lagi : Kenapa waktu ada Spiderman di bioskop Jogja, ada 5 ruangan untuk Spiderman, tidak ada pilihan yang lain ? penduduk Indo harus minta pilihan lebih banyak, kalo budaya filmnya mau maju. Jelas susa melawan film import kalo tidak ada support lokal untuk projeksinya…dan harus juga maju ganti suara pemainya, dengan intonasi suara kurang bosan daripada sejenis suara cinetron yang paling rendah. Itu sangat repot, gambarnya sering ok, tapi suaranya kaya badut yang mabuk.

  11. thole says:

    film yang bagus…
    film – film indonesia jarang yang kayak gini..
    yang ada film hantu plus – plus

  12. dhiniy says:

    bagus kok, hari gini jarang-jarang kn indonesia punya film perjuangan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: