Perempuan Punya Cerita

Film ini terdiri dari empat potongan cerita, masing-masing cerita disutradarai oleh Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo dan Fatimah T. Rony.

Cerita Pertama adalah “Cerita Pulau” yang mengkisahkan perjuangan seorang bidan di pulau kecil. Sumantri (diperankan oleh Rieke Diah Pitaloka) yang mengabdikan diri untuk membatu kelahiran bayi-bayi mungil dari satu desa ke desa lain di pulau tersebut. Sumantri ini sangat perhatian pada tetangganya yang memiliki keterbelakangan mental (diperankan oleh Rachel Maryam). Awalnya mungkin agak jumping, tadinya gue pikir si anak idiot ini adalah anak Sumantri. Beberapa pemuda bengal sudah mengincar untuk menggagahi perempuan dengan ketebelakangan mental ini. Adegan pemerkosaan tidak ditampilkan secara vulgar, yang penting pesan tersampaikan. Ketika tokoh yang diperankan Rachel ini hamil, maka Sumantri dihadapkan pada kondisi dilematis apakah dia akan membantu pengaborsian tersebut. Sumantri sendiri dihujat melakukan mal praktek dan dituduh dukun aborsi, akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan pulau tersebut.

Cerita kedua mungkin jadi favorit gue, diperankan oleh Fauzi Baadila dan Kirana Larasati. “Cerita Yogya” menggambarkan pergaulan bebas yang terjadi di kota gudeg ini. Hubungan seks pra nikah seperti sudah menjadi hal yang wajar di tempat tersebut. Warnet merupakan salah satu pemicu, karena banyak anak-anak yang sedari SMP sudah dapat mengunduh gambar-gambar atau film porno dari warnet tersebut. Safina (diperankan oleh Kirana Larasati), awalnya tidak tercemar oleh pergaulan bebas tersebut. Jay (diperankan oleh Fauzi Baadila) mengaku sebagai mahasiswa yang sedang melakukan riset, cepat membaur dengan kumpulan anak-anak sekolah teman-teman Safina. Agak aneh sih, bagaimana si Jay bisa cepat akrab dengan pergaulan anak-anak SMP. Bahkan dengan mudahnya mengorek keterangan tentang pernikahan dini yang terjadi pada salah satu teman Safina tersebut. Mirisnya penentuan sang pengantin pria dilakukan dengan pengundian. Orang yang menghamili bisa lepas dari tanggung jawab tersebut.

Safina yang memiliki prinsip untuk tidak menyerahkan kehormatannya, akhirnya luluh juga melihat Jay. Karena Jay terlihat lebih bertanggung jawab ketimbang teman-temannya. Bahkan Jay terlihat tidak tergiur oleh seks semata. Namun tiba-tiba Jay menghilang, dan berita mengenai pergaulan bebas yang terjadi di Yogya ini dimuat di surat kabar. Saking menghebohkannya, maka murid-murid sekolah tersebut pun diliput televisi. Nun jauh di kantor redaksi di Jakarta, Jay dijemput tunangannya melihat pemberitaan di televisi. Tampil Safina yang begitu kecewa terhadap tindakan Jay. Sedih memang, sudah menjunjung tinggi nilai, dan semuanya tergadaikan begitu saja. Kenyataan memang pahit.

“Cerita Cibinong” diperankan oleh Shanty sebagai Esi. Seorang petugas kebersihan di cafe dangdut. Berjuang mencari nafkah demi menghidupi putrinya semata wayang. Ketika mengetahui pacarnya melecehkan putrinya, dia pun kabur meminta pertolongan dari salah satu penyanyi di cafe dangdut tempatnya bekerja. Awalnya seakan-akan hidupnya tertolong, namun ternyata persoalan yang dihadapi lebih berat lagi. Demi ketenaran si penyanyi dangdut yang menolongnya ini malah menjual anak Esi untuk dijadikan pekerja seks.

“Cerita Jakarta” cerita ini mengisahkan seorang istri yang tertular virus HIV dari suaminya yang meninggal karena AIDS. Mertuanya begitu membencinya karena menganggap justru sang istrilah penyebab kematian anak laki-laki mereka. Si istri harus menghadapi bagaimana hartanya diambil oleh para penagih utang suami, dan mertua yang ingin merebut hak asuh anak perempuannya.

Keempat cerita tersebut mengisahkan lika-liku pedihnya kehidupan yang harus dihadapi perempuan. Prinsip yang harus digadaikan dan risiko yang harus diterima…

One Response to Perempuan Punya Cerita

  1. Denmas says:

    Ketika kita melihat sesuatu dan kemudian melakukan separasi, memang akan terlihat bagaimana sesuatu tersebut menjadi sangat jelas. Namun separasi masalah menimbulkan masalah tersendiri, yaitu pendekatan menyeluruh (holistic approach).
    Kisah seorang perempuan yang dihianati mungkin akan terus mengisi lembaran sejarah manusia. Dan itu bagaimanapun tidak bisa dihapuskan. Diminimalisir sekalipun akan membutuhkan tenaga, waktu dan pemikiran yang tak akan habis-habisnya. Karena sifat dinamis dari hidup dan kehidupan itu sendiri.
    Yang menjadi pokok-nya adalah bukan bagaimana perempuan-perempuan tersebut hidupnya tergadaikan, tetapi bagaimana perempuan tersebut mampu bertahan. Saya yakin yang tergadaikan dan hidupnya terancam tidak sedikit. Tapi masing-masing dari mereka mempunyai aksi dan reaksi tersendiri. Bagaimana mereka menghadapinya, itu yang harus menjadi fokus di sini.
    Masalah pria bejat, saya rasa juga bukan sesuatu yang asing lagi. Tapi itu bukan sebuah justifikasi bahwa semua orang memang menginginkan hal tersebut. Ketika proses separasi gender dilakukan dalam film di atas, akan muncul kesan bahwa semua pria ingin enaknya saja, tapi tidak ingin menanggung beban tanggung jawab sekecil apapun. Itu suatu miskonsepsi atas gender tertentu, dan itu harus dihindari.
    Jadi fokus dari film-film di atas adalah bagaimana wanita atau perempuan yang harkat dan martabatnya telah terengggut sedemikian rupa mampu bangkit dan kembali dalam suatu siklus kehidupan “normal”. Dan bagaimana orang-orang yang ada di sekitarnya membantu wanita tersebut untuk kembali. Karena saya yakin, Tuhan tidak akan pernah memberikan beban melampaui kemampuan makhluk untuk menghadapi permasalahn yang ada, termasuk didalam hal ini ada tidaknya orang yang mau membantu melewati masa-masa berat tersebut.
    Jarang ya ada film yang mengangkat lika-liku pedihnya perjuangan seorang lelaki…hehehe…

    Anyway, nice article…keep up good working…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: