Jagad-X-Code

jagad

Gue sangat bersyukur akhirnya bisa menyaksikan film ini. Film ini berlokasi di Yogyakarta dengan mengambil setting kehidupan masyarakat yang bermukim di Kali Code. Arsitektur rumah-rumah di bantaran Kali Code ini dirancang oleh penulis favorit gue, Romo Mangunwijaya. Terus terang dari kecil gue pengen bisa melihat rancangan bangunan yang mendapat penghargaan dari mancanegara ini. Untung saja pemerintah tidak jadi menggusur bangunan ini. Aneh memang, di luar negeri dapat pengakuan, di negeri sendiri nyaris disingkirkan. Demi misi kemanusiaan Romo Mangun mendirikan pemukiman yang layak ditempati oleh penduduk miskin Kali Code. Bangunan ini tidak tampak kumuh, bahkan tertata apik. Sanitasi bersama disediakan di lokasi pemukiman tersebut. Cerita yang diangkat film ini sederhana tidak terlalu muluk, seharusnya sih bisa sedikit menyinggung mentalitas koruptor papan atas. Dimana moral penduduk miskin yang segan berbuat jahat walau kepepet sekalipun.

Film ini didukung juga oleh seniman-seniman Jogja kawakan seperti Butet Kertaredjasa, Djaduk Ferianto dan Didi Nini Thowok. Memang sih penampilan mereka bukan tokoh sentral, namun lumayan kocak untuk disimak. Mudah-mudahan film garapan Herwin Novianto mendapat penghargaan yang cukup layak. Sebab muatan film ini cukup berbobot, didukung pula oleh pemilihan gambar yang terlihat profesional dan tata suara yang bagus. Walaupun tergolong dalam genre film komedi, namun hikmah film ini tak kalah bagusnya ketimbang film Laskar Pelangi. Ada moral yang ditonjolkan di film ini, dan patut untuk terus dipertahankan.

Eksplorasi pemukiman di Kalicode sudah dimulai dari awal film ini. Bagaimana interaksi masyarakat di dalamnya, disampaikan dengan kocak mungkin, yaitu dengan pengejaran monyet lepas. Setelah itu beralih ke problema tiga anak muda yang hidup pas-pasan. Ketiga anak muda ini diperankan oleh Ringgo Agus Rahman sebagai Jagad, Mario Irwiensyah sebagai Bayu dan Opi Bachtiar sebagai Gareng. Sayangnya gue tetap melihat Ringgo kurang pas untuk berperan sebagai pemuda Jogja, mungkin karena terlalu identik dengan gaya sundanya. Namun tampang lugu kedua pendampingnya juga cukup layak diacungi jempol.

Ketiga pemuda ini akhirnya dipertemukan dengan Semsar (Tio Pakusadewo), seorang preman yang ditugasi mengambil Flash Disk dari tas seorang gadis (diperankan oleh Febi Febiola). Proyek ini diserahkan Semsar pada Jagad cs dengan imbalan 30 juta rupiah, setelah melewati diskusi yang cukup pelik karena di antara mereka tidak ingin berbuat jahat walau semiskin apa pun, sementara yang lain tergiur oleh imbal hasil yang tidak kecil. Sederhana, tapi cukup mengena, akihrnya mereka setuju mengambil proyek tersebut. Padahal baik Jagad cs maupun Semsar tidak ada yang tahu Flash Disk itu apa. Demi mulusnya operasi tersebut, Jagad cs dibekali satu ponsel dan uang satu amplop.

Sebelum menjalankan operasi, mereka menyempatkan diri makan terlebih dahulu di RM Padang. Pemilik rumah makan ini diperankan oleh Butet Kertaredjasa. Mimik lucunya seperti biasa cukup menghibur penonton. Sayang dari segi harga makanan kurang masuk akal. Untuk makan berdua saja mereka menghabiskan uang Rp 40 ribu, mereka tak bisa bayar karena ternyata uang dalam amplop hanya sebesar Rp 20 ribu dengan recehan Rp 1000. Lagi-lagi contoh moralitas dan keluguan ditonjolkan di sini. Alih-alih kabur tidak membayar, mereka tetap menghampiri untuk bayar dengan menawarkan ponselnya. Akhirnya pemilik rumah makan menghargai ponsel tersebut seharga Rp207.500. Lagi-lagi ditemui kejanggalan harga, karena kurang uang receh, diganti dengan satu kerupuk dan beberapa bungkus permen. Halah kerupuk mana dapat Rp 500 per buah, pakai ditambah permen segala lagi.

Tak jauh dari lokasi operasi yang akan dilakukan tampak tukang cukur yang diperankan oleh Didi Nini Thowok sedang asyik mencukur kliennya sambil melantunkan tembang jawa yang liriknya cukup nakal. Saat akan melaksanakan operasi, Jagad cs juga terlihat begitu saat akan mencuri, karena memang masing-masing dari mereka mengalami pertentangan bathin. Operasi tidak berjalan mulus, sempat terjadi adegan kejar-kejaran dan menimbulkan kegaduhan. Kocaknya ketika pada berteriak copet, mereka sempat tidak sadar bahwa merekalah copetnya. Klien si tukang cukur pun ikut aktif mengejar Jagad cs. Malangnya, saat kegaduhan berlangsung, ada seorang maling cilik yang diperankan oleh Tika Putri mencuri alat cukur si tukang cukur ini. Regina (Tika Putri), sebenarnya mencuri bukan karena kebutuhan tetapi memang punya bawaan kleptomania, dia sendiri adalah anak seorang pejabat kaya. Proses pencukuran jadi terhenti, akibatnya potongan rambut si klien panjang sebelah he he he…

Misi pencurian tas berhasil, kini tinggal mencari, mana benda yang bernama flash disk? Akhirnya mereka memilih parfum tabung kecil bertuliskan Ladies sebagai benda yang dijuluki flash disk. Semsar berhasil dihubungi dengan mengadali Jeber (Desta Club Eighties) yang memiliki dua ponsel. Satu lagi hal yang cukup menyentil, Jagad cs tidak berniat mencuri ponsel, jadi setelah menggunakan ponsel seperlunya hanya untuk mengontak Semsar, Jagad mengembalikan ponsel tersebut. Ternyata walau miskin, mereka tidak dikuasai nafsu untuk mengambil hak orang lain.

Malangnya saat menanti Semsar sambil makan bakso, justru benda yang dipikir flash disk itu dicuri oleh Regina. Peristiwa inilah yang mempertemukan Regina dengan Jagad cs. Regina sempat minggat dari rumah dan numpang di tempat Jagad di Kali Code. Berbagai adegan demi adegan, kadang menyentil. Salah satu contohnya saat Tiara menemukan tas tangan hasil copet Jagad cs. Tas tersebut langsung diambil, tapi ternyata bukan untuk diambil demi kepentingan pribadi. Tapi ia hanya ingin mengamankan, karena mengira tas itu milik Regina, Tiara menitip pesan pada ibu Jagad bahwa telah menemukan tas Regina. Kejanggalan kembali ditemui, karena justru Tiara seorang ibu-ibu gendut yang lebih tahu apa itu flash disk.

Setelah melewati adegan-adegan action saat menyelamatkan Regina dari sanderaan Semsar, akhirnya flash disk berada di tangan Jagad cs dan Regina. Regina pun mencari tahu isinya, yang ternyata berisi daftar para koruptor. Ayah Regina terlibat korupsi. Seperti halnya kasus Madoff yang kasusnya terungkap berkat laporan dari anaknya sendiri. Maka ayah Regina juga akhirnya diamankan oleh polisi, entah karena Regina dan Jagad cs melaporkan temuan mereka ke polisi atau entah apa. Seperti layaknya film Indonesia yang sering terjadi gap di ending, begitu pula halnya dengan film ini. Entah karena keterbatasan durasi atau apa, jadi tidak mudah diterima logika. Mosok iya para koruptor dapat dengan mudah ditangkap hanya dengan laporan yang mengandalkan isi flash disk. Seandainya ya.. duh rasanya pemberantasan korupsi di Indonesia bisa melalui proses yang lebih cepat…

Tapi sebagai tontonan menghibur, film ini sangat layak ditonton, apalagi dengan ilustrasi musik yang diaransemen oleh Djaduk Ferianto. Beberapa pemeran film ini memiliki bekal pengalaman di teater, mungkin karena itulah akting para pemerannya sudah cukup pas dan tidak terlalu berlebihan. Ray Sahetapi yang berperan sebagai ayah Regina juga tampil tidak mengecewakan. Mungkin ya itu tadi, Jagad kurang pas jika diperankan oleh Ringgo.

One Response to Jagad-X-Code

  1. de says:

    bagaimana caranya supaya konek internet lebih cepat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: