The Godfather trilogy

Tiba-tiba gue pengen ngereview film trilogi ini walaupun gue nonton film ini Agustus tahun lalu. Ini semua gara-gara si Nenni yang nelpon gue kayak orang kebakaran jenggot (eh dia kan ga punya jenggot, jilbab deh) karena gue dapat karakter Michael Corleone. Cukup aneh sebenarnya, sebab gue dan ada satu orang lagi yang dapat karakter Michael Corleone sebenarnya lebih menyukai karakter Vito Corleone.

Alkisah di film Godfather pertama digambarkan karakter Vito Corleone, seorang pimpinan mafia yang sangat berkuasa. Dia bisa menyingkirkan siapa pun yang menghalangi niat dan usahanya. Pada saat itu Michael Corleone yang tengah di mabuk cinta dengan Kay justru tidak suka dengan kegiatan mafia tersebut. Dia bahkan bilang ke Kay bahwa tidak ingin terlibat sedikit pun dengan kegiatan mafia keluarganya. Dia tidak suka dengan kekerasan dan organisasi mafia yang penuh intrik. Namun ternyata prinsip itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat, bahkan Michael bisa bermetamorfosa menjadi pimpinan mafia yang keji dan tidak pandang bulu jika dibandingkan dengan ayahnya. Saat Vito tertembak, ketika dirawat di rumah sakit justru Michael yang paling peduli dan memegang peranan penting saat menjaga ayahnya dari serangan berikutnya. Berbeda dengan ayahnya yang lebih bijaksana dalam bertindak untuk memperoleh solusi terbaik, Michael sanggup menghabisi saudara sendiri jika dianggap berkhianat. Cukup ironis, orang yang tadinya begitu menghindari tindak kekerasan justru ringan tangan dalam membalas dendam.

Tidak konsisten atau fenomena mengingkari omongan sendiri merupakan hal biasa di Indonesia. Duh, jadi ngelantur, hampir saja ngomongin para caleg stress yang sering ingkar janji. Mending kembali ke bahasan awal The Godfather. Pada Godfather kedua justru cerita berkembang semakin menarik, karena film ini justru banyak kilas balik ke belakang mengenai asal muasal kenapa Vito bisa menjadi seorang mafia besar. Vito jaman muda ini dimainkan secara piawai oleh Robert de Niro. Saat masih kecil, seluruh keluarga Vito dibunuh oleh mafia yang berkuasa di Corleone. Tak terkecuali Vito yang diincar untuk dibunuh juga agar tidak dapat balas dendam kelak di kemudian hari. Namun berkat perjuangan ibunya yang akhirnya terbunuh juga, Vito berhasil lolos ke Amerika. Sesampai di Amerika, Vito sempat membisu. Daerah asalnya, Corleone inilah yang akhirnya menjadi nama keluarga Vito.

Ketika beranjak remaja Vito sudah terlihat bijaksana, banyak memberi solusi bagi tetangga sekitar. Banyak orang mengunjungi rumahnya hanya untuk berkeluh kesah. Sebisa mungkin dia mencarikan jalan keluar, sehingga Vito menjadi orang yang disegani di komunitas tersebut. Film kedua ini sebenarnya bukan bagian dari novel legendaris The Godfather, namun justru gue paling menyukai film kedua ini.

Pada film ketiga, cerita sudah mulai berkembang ke generasi ketiga Corleone. Kedua anak Michael yaitu Anthony dan Mary memiliki sejumlah konflik dengan ayahnya. Michael berharap agar Anthony menjadi seorang pengacara agar bisa menggantikan peran Tom Hagen (nah si Nenni dapetnya karakter Hagen ini nih), saudara angkat Michael. Sedangkan Anthony sendiri ingin menjadi seorang penyanyi. Padahal pada film pertama Michael juga memilih karir sendiri untuk tak terlibat kegiatan mafia. Lain halnya dengan Mary yang merupakan anak kesayangan Michael. Mary sendiri terlibat hubungan asmara dengan sepupunya, Vincent yang dimainkan oleh Andi Garcia. Tentu saja Michael tidak setuju dengan afair tersebut, Mary mati tertembak seusai menonton opera dengan Michael. Saat itu Mary sedang bertengkar dengan Michael menentang keputusan ayahnya yang menyuruhnya menyudahi hubungan dengan Vincent. Si penembak segera dibunuh oleh Vincent, Michael menangis dan mengangkat badan Mary yang berlumuran darah, sementara Kay menjerit sangat histeris.

Beberapa tahun berlalu, Michael tua terlihat duduk di halaman depan vilanya di Sisilia. Melepaskan kacamatanya perlahan, menjatuhkan jeruk dari tangannya. Kemudian dia merosot dari kursinya hingga terjatuh ke tanah dan akhirnya mati dalam kesendirian.

Makanya gue heran, kok karakter seperti ini yang diinginkan Nenni. Gue pribadi sih lebih suka jadi Tom Hagen yang loyal dan cerdas atau sekalian jadi Vito Corleone sosok bijaksana yang pasti disukai banyak orang. Saat mati, banyak orang-orang yang kehilangan Vito. Sedangkan Michael lebih dahulu kehilangan orang-orang yang dicintainya. Apollonia, istri pertamanya mati dalam mobil yang dipasangi bom untuk membunuh Michael. Kay, istri keduanya meninggalkan Michael karena tidak suka dengan tindakan-tindakan Michael yang sudah keterlaluan dalam membalas dendam. Mary, anak kesayangannya mati terbunuh juga akibat tembakan meleset yang sebenarnya ditujukan untuk Michael. Dia banyak kehilangan orang tersayangnya… So, Nen.. lo masih mencak-mencak karena nggak punya karakter Michael. Sama saja misalnya lo jadi pelopor yayasan anti kekerasan, tapi lo bisa bertindak premanisme dan hajar bleh demi membela kepentingan lo dan komunitas lo.. Dengan kata lain.. munafik…

2 Responses to The Godfather trilogy

  1. LUCIUS says:

    freak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: