Janda Kembang

Heran kan gue nulis review ini duluan ketimbang film Jamila dan Sang Presiden. Nanti dulu ya, setelah ini. Seperti biasa gue akan mulai dengan intro yang nggak penting. Seharusnya jadwal gue hari ini adalah nulis artikel dan sinopsis. Apalagi deadline artikel sebenarnya hari Jumat kemarin, sedangkan sinopsis sudah diuber-uber oleh sang editor (he he he peace Sa :)>- ). Tapi karena agak suntuk, sekalian beli Aqua galon, gue putuskan nonton film ini di 21 terdekat.

Seperti biasa kalau nonton sendiri gue terlambat masuk studio, karena ritual beli tiket dan cemilan dilakukan secara seri bukan paralel (makin ga penting saja bahasannya ya). Ternyata isi cerita film ini juga tidak terlalu penting. Diawali dari Selasih (Luna Maya) yang menjadi pendatang di daerah Pulo Bantal yang secara tidak sengaja (mungkin ini bukan awalan, tapi kan tadi gue udah bilang, gue telat masuk studio) akhirnya harus nyanyi bersama orkesnya Dodi Irama (Ringgo Agus Rahman) yang saat itu menjadi Wedding Singer. Sontak saja semua mata beralih memandang kecantikan Asih.

Laki-laki dari berbagai kalangan dan usia pun menjadi tergila-gila. Tentu saja hal ini membuat Yuli Nada (Sarah Sechan) istri Dodi Irama menjadi sirik dengan kedatangan Asih. Dengan penuh kecemburuan, Yuli dengan perawakan pendek dan rambut bondol ini selalu saja menghasut tetangga dan menyalahkan Asih atas segala sesuatu. Segala hujatan diluncurkan pada Asih, mulai dari perempuan bayaran, punya jampi-jampi, perebut suami orang sampai harga sembako yang naik. Asih yang didramatisir menjadi perempuan lemah (duh sinetron banget ya, Hanung lagi-lagi kau rendahkan dirimu dengan film yang terlalu lebay) tentu saja tak bisa melawan.

Sebagai pendatang, Asih butuh tempat tinggal dan pekerjaan. Oleh karena itulah Asih ditempatkan menjadi penyanyi pada ben Dodi Irama menggantikan Yuli yang cegukan. Malangnya nasib Asih, kendati mendatangkan banyak tawaran manggung untuk ben Dodi Irama, namun tetap tak punya uang. Hal ini disebabkan Yuli yang terlalu keji merampas uang Asih dengan kamuflase harus bayar sewa kostum dan make up. Kejelekan sifat Yuli ini bahkan membuat Dodi menyesal telah menikahi Yuli. Berkali-kali Dodi mengatakan Yuli tak punya otak (well seperti ulasan gue sebelumnya, mungkin sih punya otak tapi sistem operasinya lupa diinstal). Saat Yuli minta diceraikan, Dodi tentu saja menyambut dengan gembira. Eh si Yuli mulai deh mengungkit-ungkit kekayaannya bahwa harta mereka sebenarnya dimodali oleh orang tua Yuli. He he he.. tapi dia sendiri padahal ga buka usaha tuh untuk mengembangkan hartanya, malah ngerampas pendapatan Asih.. uppps..

Selain dipanggil untuk pentas di pernikahan, ben Dodi Irama juga sering digunakan untuk kampanye. Barrack O’Dewa (Juhana P Project) yang sedang berkampanye pilkades merupakan pelanggan tetap ben ini. Raja, anak Dewa dan temannya keduanya pun mengidolakan Asih. Bahkan tukang sayur dan pak RT pun kerap kali menyatroni rumah kontrakan Asih. Entah itu sekedar mengintip atau membawakan makanan. Karena ya itu tadi, alasannya Asih tak punya uang karena Yuli terlalu jahat memeras Asih.

Kecemburuan Yuli yang membabi buta membuatnya mengumpulkan ibu-ibu untuk bertindak anarki merusak rumah Asih dan membakarnya. Mungin hikmah ini yang ingin ditarik dari film ini. Terkadang tanpa alasan yang jelas, asal ada kompor orang yang bisa dengan lihai menghasut membangkitkan kemarahan. Orang-orang bisa bertindak beringas menghancurkan dan membakar rumah hanya karena dituduh berpotensi membuat orang berbuat di luar norma. Agak didramatisir mungkin. Tapi menuju ending, terlalu banyak gap pada film ini.

Setelah peristiwa pembakaran rumah, tiba-tiba penduduk desa kembali ke rutinitas normalnya. Semua kembali seperti sedia kala saat Asih belum pernah ke tempat tersebut. Film ini mulai menggiring rasa penasaran penontonnya, ke mana gerangan si Asih. Menjelang ke ending.. cerita mulai terlihat maksa.. Berita di tv tentang pejabat yang bebas dari tuduhan korupsi sekalian berita orang hilang. Ternyata Asih adalah istri si pejabat yang sempat ditangkap itu.. well cerita makin gak masuk akal.. Istri pejabat tiba-tiba gak punya uang sampai harus jadi penyanyi ben kelas bawah? Well, siapa gerangan nih yang susun ceritanya, yang jelas bukan gue lho.. Di sini penonton masih dibiarkan bertanya-tanya, kemana gerangan si Asih.

Endingnya.. Ben Dodi Irama manggung lagi di acara kampanye Pak Dewa. Kali ini penyanyinya sudah kembali ke si bondol Yuli. Gap film benar-benar terlalu mencolok saat si pejabat datang didampingi Asih. Kemudian Asih diminta Pak Dewa untuk menyanyi di atas panggung. Lho, kapan Asih ketemunya? Siapa yang nemuin? Siapa yang ngelaporin juga? Kan jelas-jelas saat rumahnya terbakar dia terduduk pingsan. Alur cerita film ini terlalu maksa, banyak bertaburan aktor dan aktris yang lumayan tenar, tapi kualitas aktingnya pun biasa saja. Paling adegan yang sedikit menggelitik adalah parodi dari video klip Yovi and the Nuno…

2 Responses to Janda Kembang

  1. se_indonesia says:

    film x janda kembang g rame karena goyangan x sandra dewi g hot. cba goyang x pake baju tengtop aja klo engga ada sex” x dikit…………?
    pasti rame bgt..?

  2. viking_persib says:

    film’nya janda kembang g rame karena goyanganya luna maya g hot.
    coba klo gayangnya cma pake tengtop klo engga ada sex2 dikit n apa l9 g pake daleman seperti BH pasti rame bgt..?
    kan luna maya bodinya kurus pasti g ada susu/buah dadanya kan gpp…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: