Panggung dari Perempuan

Sebenarnya gue kurang tertarik menonton teater kali ini. Karena lumayan mahal dengan lakon yang rasanya kurang menggigit. Selain itu teman yang biasanya mendampingi nonton pun sudah tak ada, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Untungnya tiba-tiba Naya tertarik untuk ikutan nonton, akhirnya kami pun janjian ketemu di TIM untuk beli tiket on the spot.

Pertunjukan kali ini terdiri dari 4 naskah dari 4 sutradara perempuan, keempat naskah tersebut adalah:

  • Water Closet, karya sutradara Maya Hasan
  • 4 Musim Berlalu…??? karya sutradara Resinta ‘Cen2x’ Tasiana
  • 1 Rumah 3 Tangga, karya sutradara Fitri Fajara
  • Dug… Dug… Dug… karya sutradara Mima Yusuf

Naskah pertama “Water Closet” berlatarkan toilet, lakonnya menceritakan mengenai artis yang bersiap-siap tampil dan berlatih dalam toilet. Akhirnya LO dan janitor pun ikut serta dalam latihan musik tersebut. Aransemen musik cukup memukau, suara para penyanyi-penyanyinya pun patut dapat acungan jempol. Dan tentu saja kejutan yang lumayan mengesankan untuk gue adalah kehadiran Andy /rif yang menyanyikan “Bunga”. Sebagai penggemar Andy, gue cukup terhibur menyaksikan penampilannya.

Bumper antara naskah satu dengan naskah selanjutnya pun terdapat penampilan 1 aktris dan 2 aktor, sayangnya lafal mereka kurang jelas. Jadi gue kurang begitu menangkap maksudnya.

Naskah kedua yang dibawakan adalah 4 Musim Berlalu…??? Pemainnya terdiri dari 4 aktris wanita utama dan 3 aktor pemain pembantu. Keempat peran wanita tersebut memiliki persoalan yang berbeda seputar cowok. Tokoh wanita pertama adalah istri dari seorang pelaut. Suaminya bisa berbulan-bulan tidak pulang ke rumah. Alhasil, rasa kesepiannya diobati dengan chatting dan akhirnya mendapatkan selingkuhan seorang pria konvensional muda yang mungkin hanya seumuran anak kuliahan. Tokoh wanita kedua juga memiliki persoalan yang tak kalah pelik, dia merupakan WIL dari seorang pria beristri. Namun si wanita ini juga sudah mempunyai anak hasil pernikahannya dengan seorang suami yang meninggalkannya ketika hamil 7 bulan. Sebelum dia jadi peliharaan si pria kaya, dia adalah seorang wanita karir. Tokoh wanita ketiga cukup muda karena masih kuliah menginjak semester akhir. Dia memiliki pacar seorang anak SMU dan seorang eksekutif muda yang siap sedia memenuhi semua kebutuhan materialnya dan juga kebutuhan seputar kepuasan seks. Tokoh wanita terakhir lebih menakjubkan, tak ada pria yang jelas dalam hidupnya. Dengan mudahnya gonta-ganti pasangan kapan saja ia mau. Namun endingnya akhirnya mereka semua melepas seluruh pria tersebut dan hanya mengandalkan pertemanan antara mereka berempat.

Jeda istirahat, lalu tampilah naskah ketiga yang berjudul “1 Rumah 3 Tangga” bercerita tentang seorang wanita yang berpoliandri memiliki 3 suami. Berlatarkan ruang tunggu rumah sakit, ketiga suaminya menunggu kelahiran anak mereka dengan was-was. Agak praktis sih memiliki 3 suami, setiap suami memegang peran masing-masing dan penghasilan bersumber pada 4 mata pencaharian sekaligus. Hmmm menarik juga nih…

Naskah terakhir berjudul “Dug… Dug… Dug…” yang berlatarkan metromini. Menarik sih, banyak sindiran-sindiran halus yang merupakan kejadian nyata yang sering terjadi dalam kendaraan umum ini. Ternyata maksud dari judul ini adalah teriakan si kenek ketika menawarkan rute Ciledug.. halah.. lumayan lucu ketika pemeran tukang jual lap dan penampilan Suzuki sebagai seorang motivator dalam metromini. Gue pribadi sih setengah ngantuk saat nonton pertunjukan ini. Dan mikirin gimana cara nyetir pulang sementara gue masih pusing dan ngantuk banget. Pertunjukan ini cukup ringan dan menarik sih, tapi apa daya teater Peqho memang belum sekaliber teater Gandrik dan teater Koma.

One Response to Panggung dari Perempuan

  1. ajibonkna says:

    makanya, kalo mau nonton teater itu mandiri, gak bergantung ke teman. makanya, kalo mau nonton teater itu siapin mental untuk mengeluarkan hanya max 50 ribu dan tidak men-judge- cerita tidak menggigit sebelum nonton ( kayak orang indonesia kebanyakan ). makanya, kalo nonton teater itu tidak sekedar yang main stream atau establish, jadi lebih progress melihatnya. pernahkah teater koma dan teater gandrik mementaskan 4 naskah dengan 4 sutradara perempuan dalam satu malam? berapa penulis naskah perempuan dan sutradara perempuan yang dihasilkan oleh kedua teater mapan itu? lebih rajin nonton pertunjukan teater ya, tapi dengan lebih peka dan kritis melihatnya. nonton teater itu jangan kepaksa, biar ‘experience feel’ nya bisa lebih lepas dan cerdas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: