Hari Ketiga di Thailand

Akhirnya kami makin yakin kalau kami salah strategi. Kami bangun pukul 9 siang, sambil menanti orang yang ambil mobil. Ternyata setelah tanya resepsionis di hotel, kalau mau ke Phi Phi Island seharusnya pesan tempat satu hari sebelumnya. Karena jemputan untuk tur ke sana berangkat pukul 7.30 pagi. Hu hu hu.. akhirnya kami memutuskan untuk melanglang buana saja dengan jalan kaki. Di perjalanan sempat mampir ke tempat jual souvenir, tapi kami ga tanya-tanya juga sih, soalnya gue sendiri punya satu misi, yaitu beli nomor hp supaya bisa balas SMS dan terima telpon dari seseorang yang curiga gue sengaja ga mau dihubungi. Selesai mengaktifkan nomor DTAC dengan nama produk Happy, seseorang itu langsung telpon. Sebenarnya Dian agak terganggu dengan telpon orang itu, karena menurut pendapatnya itu cukup mengganggu liburan gue dan melenceng dari tujuan utama gue untuk menjernihkan pikiran dan menghindari diri dari hal-hal yang kurang baik untuk hidup gue.

Eh ada yang kelewat, sebelumnya kami sempat mampir di warung nasi.. nasi hainam plus ayam rebus dengan kuah sup dan dua gelas es teh khas Thai yang pakai susu. Benar-benar kenyang, lagi-lagi hanya seharga THB 90. Lalu di perjalanan kami lihat tukang Taxi yang bersedia dibooking hanya dengan THB 550 untuk menjemput ke hotel pagi hari lalu berangkat menuju airport untuk kepulangan kami. Tapi kami mengurungkan niat karena memang uang kas semakin menipis. Di sepanjang jalan banyak stand-stand kecil yang menawarkan paket tur. Pergi ke Phi Phi Island memang sudah tak memungkinkan karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Saat tawar menawar harga paket tur ke pulau lain, orang itu kembali telpon dan marah-marah karena ternyata beberapa kali menelpon tapi gue ga terasa jadi ga kejawab. Segala tuduhan kembali dilontarkan. Padahal saat dia telpon ga keangkat itu gue memang sedang sibuk nawar sandal. Lumayan juga dari harga THB 400, kami bisa mendapatkan sandal cantik seharga THB 450 dua pasang.

Saat menambah uang kas dengan menukar sangu USD kami ke THB di Money Changer pinggir jalan, dia tetap telpon. Isi SMS mulai menyakitkan dengan kecurigaan, mosok iya seribet itu tukar uang sampai ga bisa terima telpon. Gimana gak ribet, kurs tiap stand Money Changer beda-beda, kami pastinya berharap rate yang terbaik, jadi memang loncat dari satu tempat ke tempat lain. Gara-gara telpon itu pula gue salah tukar uang, seharusnya gue cuma tukar USD 20 saja, malah harus tukar sampai USD 50. Akhirnya sampai pulang gue bawa kelebihan dana dalam THB. Di perjalanan pun gue sampai harus diceramahi Dian, dia memang teman yang baik. Kenyataan memang pahit, tapi seharusnya gue jangan terlalu nurut diatur oleh orang yang sebenarnya cuma mempermainkan gue. Saking kikuknya gue jalan, gue nabrak tiang listrik dan kaki gue tergores penyangganya cukup dalam. Besi tajam mengoyak kulit di bagian tulang kering gue sampai dalam. Darah tetap mengalir walaupun gue sudah diplester hingga beberapa lapis oleh Dian. Ternyata dalam perjalanan ini, gue harus diplester betulan. He he he…

Sebagai pengganti Phi Phi Island, akhirnya kami pergi ke Coral Island dengan biaya THB 600 per orang. Di sana kami snorkling, dan ngobrol sebentar sampai menanti pulang kembali ke Patong. Pantainya kurang menarik sih, agak-agak mirip dengan Kepulauan Seribu. Sebaiknya hati-hati jangan sampai tertipu saat mengikuti tur, pada saat berangkat menggunakan kapal kecil, kami tidak dilengkapi dengan jaket pengaman, padahal kapal yang lain disediakan. Pulangnya kami meminta perlengkapan pengaman tersebut demi keselamatan.

Di perjalanan, kami melewati Hardrock Cafe yang letaknya besebelahan dengan hotel Mariott di sekitar wilayah Patong. Sayang kami bukan tipe anak dugem, jadi memang tidak mampir ke sana. Sesampai di hotel, setelah cuci-cuci dan membersihkan badan, kami menyusuri pantai Patong. Pantai ini tidak sebersih dan seindah pantai Kata yang kami kunjungi di hari pertama. Mungkin karena memang lokasinya lebih ramai, harga makanannya pun standar tidak murah tapi juga tidak terlalu mahal. Di wilayah sekitar pantai ini kami menghabiskan sekitar THB 355 untuk makan berdua, ini pun tanpa minum, karena ternyata tempat makan kami tersebut hanya menyediakan minuman kaleng. Kami kembali menyusuri jalanan Patong dengan berjalan kaki. Menawar-nawar souvenir, harga souvenir di sini cukup mahal, menawarnya pun cukup sulit. Kalau apes bisa ketemu dengan pedagang yang galak bikin mood ngedrop. Untung akhirnya gue berhasil beli tas seharga THB 160 dari pedagang yang manis dan baik hati. Padahal kalau di Wat Chalong kemaren sih gue bisa dapat tas itu seharga THB 150. Yah tapi setidaknya kan gue udah tahu harga berkat survey-survey dulu.

Persediaan dua botol air hampir habis, daripada dehidrasi di jalan dan kondisi gue mulai ngedrop lagi maka kami memutuskan kembali ke hotel. Di perjalanan kami mampir ke mini mart, dan beli segelas Nestle Thai Ice Tea ukuran sedang seharga THB 18.. hihihi, murah yah. Kami menuangnya sendiri, jadi gelas kami isi sepenuh-penuhnya, dasar ga mau rugi. Kami juga sudah memesan Taxi melalui biro tur, akhirnya kami ambil Taxi seharga THB 550 yang mau menjemput jam 6 pagi untuk mengantar ke bandara. Yah liburan telah selesai.. kami harus bersiap-siap pulang dan menghadapi rutinitas lusa hari…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: