Ingin Berpaling

Sejak awal 2007 pendamping setia gue sudah menemani baik dalam suka dan duka. Sangat mendukung gue dalam hal tulis-menulis artikel juga sebagai asisten pribadi dalam kegiatan sehari-hari. Bahkan sejak gue dilimpahkan tugas untuk mengirim SMS news ke seluruh klien, dia pun yang setia menunaikan pekerjaan itu. Tapi entah kenapa, belakangan ini dia agak sering sakit-sakitan. Kerjaan yang seharusnya otomatis dia lakukan dengan cepat, mendadak sering gagal. Apakah dia kelelahan karena terlampau banyak gue bebani tugas-tugas. Apakah gue terlalu tega melimpahkan begitu banyak kerjaan ke dia. Atau.. karena gue mulai tergoda untuk menggantikannya?

Pendamping gue ini sebenarnya sudah sempat sakit parah dua kali. Biaya pengobatannya juga ga kecil. Tapi gue lebih memilih untuk memulihkan dirinya ketimbang menggantikannya dengan yang lain. Walaupun pada awalnya gue bukan jatuh cinta padanya. Jadi ingat, pertama kali gue menyeleksi pendamping gue ini adalah dengan pertimbangan penulisan artikel di salah satu majalah Gramedia. Syarat utama adalah menggunakan firmware Symbian S60 3rd edition. Pilihan pertama gue jatuh pada Nokia E70, tapi entah kenapa tipe tersebut sama sekali tak ada di pasaran. Setiap kali mencari Nokia E70 pasti deh yang disodorin penjaga toko Nokia N70. Terus terang gue sama sekali nggak tertarik dengan Nokia N70, apalagi dia tidak memenuhi syarat untuk kebutuhan gue nulis artikel. So, pilihan gue beralih ke Nokia N80. Sedikit lebih mahal memang, tapi toh daripada gue ga ada fasilitas untuk mereview aplikasi sesuai orderan. Akhirnya gue mendapatkan pilihan kedua gue ini. Walaupun gue tidak jatuh cinta dengannya, tapi gue cukup setia.

Sudah lebih dari dua tahun gue didampinginya. Menemani gue berpetualang ke mana-mana, toh ada Nokia Maps yang sanggup menunjukkan arah selama gue berada di Asia Pasifik tanpa harus online. Kalau ingin mengotak-atik file-file office pun sanggup dilakukan di ponsel gue ini. Kamus yang terdiri dari Idioms, Pocket English dan Thesaurus juga gue benamkan dalam asisten pribadi gue ini, jadi tata bahasa gue lumayan lah. Gak terlalu ngawur gitu kalau sedang baca or nulis, ehm.. tapi nulis SMS sih gak perlu kamus juga kali ya.. he he he. Ketika dia mulai sedikit rewel, gue senantiasa mengganti baterainya dengan yang original dan baru tentunya. Tentu saja kapasitasnya juga gue upgrade, masih pakai mini SD sih tapi gue optimalkan jadi 2 GB.

Karena loyalitasnya bantu gue dalam segala pekerjaan, mungkin dia lelah. Sekarang proses pengiriman SMS klien suka ngadat. Sering gagal, akibatnya gue jadi agak lama melakukan kerjaan gue ini. Atau mungkin juga dia punya firasat (entah kenapa, gue kadang mikir barang elektronik pun punya perasaan), gue belakangan tertarik dengan sesama tipe N. Namun mengingat penyakit pendamping gue ini di kabel fleksi, gue cenderung untuk ga milih tipe sliding or flip. So pilihan gue pastinya ke ponsel Candy Bar. Jadi ingat ponsel candy bar Motorola Timeport 7689 yang kadang masih gue pakai itu. Walaupun masih pakai antena dan monokrom, entah kenapa gue lebih nyaman pakai dia ketimbang Philips model flip yang kadang gue pakai juga. Philips itu lebih sering bertengger di dus, padahal gue sudah upgrade dengan micro SD Blackberry 1 GB punya Lia. Apa daya gue sempat salah beli micro SD 2 GB, kok ya ndilalah gue ga ngecek dulu ternyata si Philips ini cuma support sampe 1 GB aja. Untung Lia bersedia menukar micro SD Blackberry-nya dengan micro SD 2GB gue.

Awalnya sempat sih dulu agak pengen ke Nokia N78, tapi setelah dipikir-pikir, kurang ok ah. Resolusi kamera sama aja dengan pendamping gue saat ini. Udah gitu, tombolnya kecil-kecil, cuih, udah kecil nomor serinya N78 lagi. Well, gue ga suka dengan angka 78, aneh aja menurut gue. Apalagi Novi udah pake Nokia N78, malas deh kalo dianggap niru-niru. He he he.. kapan nraktir ke ambassador or Pancious lagi Nov?

So, walaupun gue yakin gue ingin tetap setia dengan Nokia N80 yang terus terang gue gak pernah jatuh cinta ini. Gue punya alternatif untuk berpaling ke Nokia N79, dari segi desain rasanya lebih seksi, dan angkanya juga sesuai tuh dengan angka yang gue suka. Resolusi kamera pun sudah 5 megapixel. Tapi ada juga hal-hal yang masih menahan gue untuk belum berpaling padanya, yaitu segi harga, duh masih mahal ya.. dan absennya fitur infrared. Padahal laptop gue masih mengandalkan infrared on board sebagai koneksi perangkat nirkabel. Kalau mau pakai bluetooth, kudu masang bluetooth dongle dulu. Gue udah punya bluetooth dongle sejak tahun 2003 sih, tapi.. laptop gue juga agak-agak krisis USB. Dari dua USB yang tersedia, salah satunya agak-agak eror akibat kesambar petir. Hmm jadi gimana ya.. apakah sudah waktunya gue berpaling ke Nokia N79? Sebenarnya agak-agak mupeng juga dengan Nokia E75, cuma gimana ya..  slidingnya itu membuat gue berpikir dua kali.

Atau hmm.. ada yang berniat menyumbangkan Nokia N79 or Nokia E75 mungkin? Ehm ehm.. jadi ingat kiriman SE K700 beberapa tahun lalu. Maaf kalau gue dulu terlalu gengsi nerimanya, soalnya saat itu gue lebih pilih pakai Nokia 6230 dan memang waktunya berbarengan. Saat gue pensiunkan Philips fisio 826 gue tahun 2004 silam, gue langsung merekrut si Nokia 6230.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: