Sepuluh

Yeah di tahun 2009 ini gue kembali mereview film. Mohon maaf jika selama setahun lebih gue sempat absen membuat resensi, itu semata-mata masalah pribadi, alias rada sungkan mengkritik karya pacar sendiri he he he. Berhubung sekarang gue udah ga ada sangkut pautnya sama orang dari dunia perfilman, tapi hobby nonton terus berlanjut, so gue mo berkeluh kesah mengenai film yang sangat mengganggu gue ini.

Tepatnya hari Minggu 8 Februari 2009, gue SMS beberapa temen dekat gue untuk nonton film Sepuluh karya Henry Riady. Akhirnya gue nonton bertiga bareng temen kantor gue (Evi) dan teman gue dari komunitas pencinta buku (Nanto). Sayangnya sang redaktur favorit gue (Agus) ga ikutan, walaupun akhirnya nyusul juga.

Bete kan baca tulisan gue, kapan mulai review filmnya? Kok malah ngebahas latar belakang nulis lagi dan nonton sama siapa. Percaya deh sama gue, baca dua paragraf di atas lebih mending ketimbang nonton film ini. Walaupun katanya film ini berdasarkan kisah nyata, tapi kontennya terlalu banyak didramatisir. Dan seperti biasa Agus Melasz tetaplah seorang Agus Melasz, dengan gaya akting yang gitu-gitu saja (akhirnya puas juga gue bisa nyela orang ini setelah memendam kritik bertahun-tahun lamanya karena beliau cukup baik dalam mendidik kedisiplinan) menjadi seorang penjahat. Tepatnya menjadi Dargo sang mucikari merangkap bos anak-anak jalanan.

Intro film ini dimulai dari seorang pecandu bernama Aditya (sumpah pemerannya mirip banget sama Bayu – see gue bener-bener melampiaskan dendam saat menulis review ini) yang sudah benar-benar sakau dan memutuskan untuk menjual anaknya ke Dargo tanpa pengetahuan Yanti (Rachel Maryam). Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, setelah anaknya hilang, dan Yanti tertabrak mobil, bencana berikutnya adalah penggerebekan rumahnya. Tentu saja polisi menemukan narkoba. Sekali lagi penangkapan Yanti tanpa prosedur pada umumnya, tanpa surat penggeledahan.

Sesuai judul film, Yanti dipenjara selama sepuluh tahun. Setelah menghirup udara bebas, dia bekerja sebagai buruh cuci, walau nantinya cerita makin absurd. Karena si Yanti ini lebih banyak berbelanja, bahkan hampir tak pernah nyuci. Mungkin karena film ini sarat sponsor, di antaranya adalah Hypermart dan produsen barang konsumsi rumah tangga, Orang Tua.

Jalan cerita mudah ketebak, Yanti tanpa sadar bertemu dengan anaknya yang sudah berumur sepuluh tahun. Seorang gadis kecil jalanan dengan panggilan Mongky (sontak gue dan Nanto berkomentar, hah Mingke? ini Tirto Adi Suryo versi cewe ato gimana?) yang bersahabat dengan anak jalanan lain bernama Darius. Si Mongky ini walau penyakitan lumayan jago berantem, setelah berhasil mengalahkan Saring, si mandor anak jalanan, dia diangkat jadi mandor yang mengumpulkan setoran.

Di sisi cerita yang lain Thomas (Ari Wibowo), mantan pacar Yanti yang memiliki anak penyakitan juga sedang ngobrol dengan temannya seorang detektif yang sedang menyelidiki mengenai anak jalanan dan transaksi organ tubuh ilegal. Duh pengembilan gambarnya, sumpah deh.. sinetron abis, gayanya juga sinetron abis.. mungkin memang Ari Wibowo dan temannya itu cocoknya main sinetron saja.

Yanti sudah pernah ditolak datang ke rumah orang tua suaminya, namun ketika sedang jalan-jalan di Monas dengan Mongky, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata tetangga suaminya itu memberi kabar kalau suaminya sedang kritis. Sekali lagi, booo dari segi cerita itu lho, gimana tetangga tiba-tiba punya no hp si Yanti itu, kapan punyanya? Emang waktu di penjara dulu boleh punya hp?

Damatisir kembali diekspos saat Yanti bertandang ke rumah orang tua suaminya, sekali lagi dia ga boleh masuk. Sampe basah kuyub, duh sayang banget henponnya nanti rusak lho. Baru deh sang tetangga sok pahlawan bawa payung datang menghampiri ibu sang suami, dengan sedikit persuasi sang ibu luluh. Akhirnya sang ibu dan Yanti saling bermaaf-maafan. Helooooo, kenapa baru datang setelah hujan-hujanan? Dan gampang banget bujukinnya.

Si Aditya, alias Bayu gadungan ini, sumpah mukanya mirip banget Bayu, pengen rasanya ngelempar sepatu ke layar bioskop. Sayang gue pake sandal. Saat ditanya mengenai anak merka, si suami ini nulis di kertas tentang dimana dan ke siapa si anak dijual.

Karena alurnya lambat, dan gue cape juga nulis tentang betapa jeleknya film ini, kita langsung saja ke masa-masa kritis. Singkat kata, si David, anak pak Thomas yang pake kaos bola nomor 10, ternyata punya kelainan ginjal dengan golongan darah AB. Sementara si Mongky yang juga dalam keadaan jantung kritis juga bergolongan darah AB. Sumpah ini ada campur tangan oom Jutek yang begitu membanggakan golongan darah AB atau nggak, gue juga ga tau.

Dargo menjual organ tubuh si Mongky ini ke Thomas. Thomas tertangkap tangan sedang transaksi ke si Dargo. Temannya si Thomas sok-sok kaget ngelihat temannya sendiri tertangkap. Aaah pokoknya cape deh.. mereka berkali-kali ngomong kondisi kritis, keadaan kritis, bla bla bla… Belum lagi istri Thomas yang dulu juga meninggal dalam keadaan kritis. Harusnya judul film ini Kritis bukan Sepuluh.

Sesuai ide gue awal, seharusnya si Yanti ini bunuh diri saja, lalu jantungnya dikasih ke Mongky dan ginjalnya dikasih ke David, dan ternyata benaaaaaaaaaar… gampang banget ketebak kan.. trus si Dokter ini harusnya jadi ibu instan, yang disiram air panas langsung jadi ibu.. sepertinya juga benar. Duh gue masih inget waktu si dokter ikut-ikutan ke jalanan waktu si Mongky digeletakin untuk skenario jadi organ ilegal. Ah serba tak jelas dan tak masuk akal… Yang paling menyedihkan adalah, gue harus mengorbankan duit 25 ribu untuk nonton film gak mutu ini, dan harus pulang balik Cibubur – Depok untuk film yang bagi gue.. jauuuuuuuuuuh dari bagus.

Gue terus terang awalnya tertarik nonton film ini karena OSTnya dibuat oleh Ipang.. my one and only OST idol😀

This movie is very very not recommended….

5 Responses to Sepuluh

  1. sandyagustin says:

    serius teh? jelek banget yah?…iya?

  2. prince_blue says:

    Tema filmnya sie bagus…tapi cerita nya terlalu melebar untuk tayangan sebuah film, kurang fokus.
    Editing yang sangat jelek, menjadikan cerita film ini makin membingungkan penonton.
    Ditambah lagi make up , lighting nya jelek banget, juga gambar yang kadang ngga fokus…
    Alhasil film ini kayak hasil Film Uji Coba yang jelek, dengan biaya promosi yang besar sekali (secara yang bikin anaknya taipan Indonesia).
    Pendek kata, Film ini: Ngggaaaaaaaaaaaaaaa Bangeeettttttttttttttttt

  3. Endah says:

    Setujuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!!!

  4. none says:

    SUPER SANGAT SETUJU… “SANGAT TIDAK BAGUS SAMA SEKALI FILM-NYA” ALIAS “TIDAK BERMUTU”

  5. Teguh says:

    untungnya gue kurang suka nonton film indonesia …
    jadi khan gak sewot sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: