Telekomunikasi, Perilaku dan Peluang Bisnis

Prospek perkembangan telekomunikasi di Indonesia masih menjanjikan. Hal ini dapat dilihat dari kinerja operator seluler pada kuartal ketiga tahun 2008 yang dalam batas-batas tertentu menggambarkan bagaimana peta industri seluler di Indonesia sesungguhnya. Pertumbuhan pelanggan di masing masing operator memperlihatkan masih tingginya addresable market. Dengan tingkat penetrasi sekitar 30%, terbuka peluang bagi operator untuk menangguk pelanggan sebanyak mungkin. Kondisi ini tentu saja juga mendukung bisnis ponsel, kartu perdana dan pulsa isi ulang.

Pada kuartal kedua tahun 2008, jumlah pelanggan seluler di Indonesia mencapai 116.144.392 dan berada di posisi ke-6 sebagai negara yang mempunyai pelanggan seluler paling banyak[1]. Hal ini merupakan kesempatan besar bagi penyedia layanan infokom di Indonesia, mengingat perkembangan pasar fixed line, mobile dan internet sangat besar. Bahkan diprediksi bahwa fixed line akan tumbuh sebesar 13,3 % dan mobile bertumbuh sebesar 75% (menurut International Technology Resource Board). Berikut ini grafik 10 negara dengan jumlah pelanggan seluler terbesar di dunia pada kuartal kedua tahun 2008 menurut perhitungan Wireless Intelligent.

datanegara1

Pertumbuhan layanan mobile yang lebih tinggi ketimbang fixed line ini juga tercermin pada salah satu pengalaman ketika mobil saya mogok dan harus diperbaiki secara darurat di salah satu Bengkel di bilangan Cimahi. Pada bengkel tersebut tidak terdapat sambungan telepon tetap, sehingga pelanggan mengandalkan ponsel montir-montir yang ada untuk komunikasi. Ketika saya terpaksa meninggalkan mobil tersebut selama empat hari, sementara saya harus kembali menekuni kegiatan rutinitas di Jakarta, komunikasi dilakukan hanya melalui telepon seluler saja. Saat dibutuhkan dana tambahan untuk pembelian suku cadang, ternyata tak satu pun dari montir-montir tersebut yang memiliki rekening bank untuk transfer. Agak miris juga rasanya, seakan-akan fasilitas telepon seluler lebih populer ketimbang rekening bank. Namun hal tersebut hanya contoh kecil bagaimana telepon seluler sudah merambah ke berbagai kalangan.

Populernya telepon seluler di berbagai segmen masyarakat ini menandakan bahwa bisnis kecil-kecilan di sektor ini cukup menarik, baik dalam hal penjualan ponsel maupun sekedar berjualan voucher pulsa. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp100.000 Anda sudah mampu berbisnis pulsa. Anda dapat membeli deposit pulsa sejumlah itu ke penjualan pulsa sistem server tanpa uang pendaftaran. Beberapa penyedia layanan bisnis pulsa tanpa biaya registrasi antara lain adalah: http://www.epulsa.web.id dan http://www.e-smartpulsa.com. Jumlah deposit minimal yang berlaku pada kedua layanan tersebut adalah sebesar Rp 50.000 dan kelipatannya. Untuk mengetahui harga pulsa dapat dicek pada situs atau mengirim request melalui SMS.

Salah satu usaha yang sukses dalam penjualan pulsa adalah Kios Pulsa di Bandung, dalam sehari omsetnya sebesar Rp3.000.000 sehingga dalam sebulan omsetnya adalah sekitar Rp90.000.000. Sedangkan untuk toko ponsel sekaliber Duta Gemilang di Roxy, Jakarta, omset per bulannya diasumsikan mencapai angka sekitar Rp900.000.000 jika rata-rata penjualan 450 unit per bulan dan dengan asumsi rata-rata harga jual per unit adalah sebesar Rp 2.000.000.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang menjadikan bisnis telekomunikasi sebagai lahan usaha yang menjanjikan.

1. Masih berkembangnya Industri Telekomunikasi.

Dari sistem telekomunikasinya sendiri, jumlah operator GSM di Indonesia yang sudah beroperasi ada 6 provider yaitu Telkomsel, Indosat, Excelcomindo, Pasifik Satelit Nusantara, Hutchison (three) dan Natrindo (Axis). Sedangkan untuk operator CDMA yang sudah beroperasi totalnya adalah 6 provider yaitu: Telkom Flexi, Star One, Bakrie Telecom, Mobile-8, Sampoerna Telecom dan Sinar Mas Telecom. Kedepannya sudah ada beberapa operator telekomunikasi lagi di Indonesia yang akan beroperasi, sehingga persaingan antara operator telekomunikasi akan semakin tinggi.

Pada tahun 2008 ini persaingan industri telekomunikasi semakin ketat. Beberapa operator GSM semakin gencar menurunkan tarif, baik itu tarif percakapan maupun SMS demi menggaet pelanggan. Bahkan ada operator yang berani memberi layanan SMS gratis, walau ada persyaratan tertentu. Tentu saja promosi-promosi tersebut sedikit menohok provider CDMA yang selama ini mengandalkan kemurahan tarif dalam menjaring pelanggan.

Pada kuartal ketiga tahun 2008, Telkomsel genap membukukan 60,5 juta pelanggan[2]. Sedangkan Indosat dan Excecomindo masing-masing berhasil menjaring 35,5 juta[3] dan 25,1 juta pelanggan[4]. Jumlah yang cukup fantastis dari Excelcomindo yang meningkat sebesar 96% dibanding tahun sebelumnya.

Vendor alat telekomunikasi alias handsetnya sendiri pun semakin beragam. Dahulu pasar Indonesia didominasi oleh Nokia, Motorola, Ericsson dan Siemens. Kini seiring dengan kemajuan teknologi dan globalisasi perekonomian maka vendor Asia pun tak kalah garang dalam menancapkan giginya di dunia persaingan vendor handphone. Pada 2001 Sony menggandeng Ericsson menjadi brand Sony Ericsson dan Siemens Mobile yang dirundung bangkrut akhirnya diakuisisi oleh BenQ sehingga sejak tahun 2005 semua produk baru dikeluarkan dengan nama BenQ Siemens. Sementara itu beberapa vendor Asia yang tak kalah bersaing dengan brand Eropa dan Amerika adalah LG, Samsung, Toshiba, Dopod (sekarang HTC), O2, i-mobile, Hi-Tech, Konka, Ozon, D-Tech, K-Touch, ZTE, VK, Xun Chi, Nexian, Mitac Mio, Beyond, Huawei, TaxCo, Kozi, MiTo, D-One, VirtuV, ViTell dan masih banyak nama-nama brand lain yang meramaikan kancah persaingan vendor telekomunikasi. Bahkan ada merk-merk yang seakan ingin mengecoh para pembeli ponsel yaitu Scny Erieson, Nakia dan Veptu buatan asia yang secara teknologi tidak kalah canggihnya. Dari Amerika sendiri selain tambahan Hewlett Packard dan Palm yang juga merambah dunia telepon seluler setelah berjaya di PDA dan PDA Phone, BlackBerry yang memperkenalkan fitur BlackBerry. Apple pun mencoba peruntungan manisnya bisnis telepon seluler dengan gebrakannya meluncurkan i-phone. Walaupun tidak segarang Nokia, brand-brand lain dari Eropa pun tetap meramaikan pasar ini di antaranya adalah Philips dan Gresso.

2. Penggunaan Telepon Seluler oleh berbagai Kalangan.

Jika diingat-ingat jaman saya dahulu anak-anak SMP atau SMU yang sudah menggunakan pager ke sekolah hanyalah anak-anak yang tergolong borju. Dan ketika penggunaan ponsel sudah mulai menyebar dan pager mulai tergeser oleh ponsel pengguna ponsel di SMU dan di kampus pun masih terbatas dari golongan yang berada. Namun kini, anak SD pun sudah dibekali ponsel oleh orang tuanya. Bahkan mereka terheran-heran bagaimana orang jaman dahulu bisa janjian tanpa ponsel. Intinya adalah saat ini berbagai golongan usia sudah menggunakan teknologi ponsel ini. Mulai dari anak sekolah yang masih tergolong belia, remaja, orang dewasa, hingga orang-orang lanjut usia. Dengan ponsel komunikasi mereka jadi semakin lancar. Karena dapat dihubungi setiap saat setiap waktu kapan saja dan di mana saja. Asal masih dalam jangkauan sinyal dan daya pada baterai ponsel masih memadai.

Pengguna ponsel pun juga tidak terbatas pada kalangan pekerja sekelas eksekutif atau bos-bos. Bahkan tukang sayur dan office boy pun menggunakan ponsel. Hal ini tentu saja sangat memudahkan komunikasi orang-orang yang memiliki kepentingan dengan orang-orang tersebut. Para karyawan suatu kantor tidak perlu khawatir ketika terlewat memesan makan siang sementara office boy sudah jalan, tinggal tulis SMS maka office boy pun akan mencarikan makanan. Begitu pula dengan tukang sayur, jika pelanggannya tidak sempat menunggu si tukang sayur bisa pesan melalui SMS.

Trennya pengguna ponsel di Indonesia juga tidak cukup puas memiliki satu ponsel untuk selamanya. Selain karena faktor umur ponsel, faktor mode dan teknologi yang terus berkembang membuat beberapa pengguna ponsel terutama kalangan remaja dan eksekutif muda cenderung untuk bergonta-ganti ponsel ketika muncul model terbaru baik itu dengan gaya yang lebih trendy atau adanya fitur baru.

Begitu pula dengan operator jaringan. Semakin gencarnya tawaran paket-paket promosi membuat pengguna ponsel memiliki nomor ponsel lebih dari satu demi memanfaatkan promosi tersebut. Misalnya promosi tarif yang lebih murah, SMS gratis, internet gratis. Atau sekedar mencoba operator yang baru muncul. Karena jumlah operator seluler di Indonesia pun sudah lebih dari 10 pilihan.

3. Harga Perangkat Komunikasi dan Pulsa yang Semakin Terjangkau.

Harga handset yang beredar pun semakin beraneka ragam, mulai dari Rp199.000 hingga puluhan juta rupiah. Semua itu tergantung fitur dan teknologi yang diusungnya. Karena ketatnya persaingan dalam industri ini, beberapa vendor yang memang membidik kalangan kelas menengah ke bawah pun membandrol harga ponselnya dengan sangat murah. Begitu pula dengan pulsa isi ulang. Dahulu mungkin nominal terendah adalah pecahan Rp100.000. Kini operator yang melirik kalangan menengah ke bawah juga berlomba-lomba menjatuhkan denominasi pecahan pulsa isi ulangnya, bahkan ada yang mulai dari Rp1.000.

Begitu pula dengan layanan pasca bayar, dahulu biaya abonemen yang wajib dibayar rata-rata adalah sebesar Rp65.000. Kini sistem abonemen hampir semua ditiadakan, namun masih dengan syarat minimum pemakaian, yaitu sebesar Rp25.000 per bulan.

Tak jarang juga operator seluler menggunakan sistem bundling alias menjual paket nomor perdana dengan ponsel. Mereka kadang melakukan subsidi terhadap harga ponsel sehingga harga ponsel tersebut menjadi lebih murah. Maka dari itulah bisnis penjualan ponsel benar-benar merambah berbagai kalangan pula. Karena dengan kocek di bawah Rp 200.000 Anda sudah bisa ‘jajan’ ponsel di pinggir jalan.

4. Tidak Membutuhkan Modal Besar.

Dampak dari harga ponsel dan pulsa yang semakin murah juga terasa pada para pengusaha yang ingin mengawali bisnisnya. Karena harga ponsel yang semakin terjangkau para pedagang tidak membutuhkan modal besar untuk mendapatkan barang dagangannya. Bahkan untuk bisnis pulsa, hanya dengan modal Rp50.000 untuk pembelian minimum pulsa dengan basis server dan bebas biaya registrasi, Anda sudah dapat memulai bisnis. Bahkan dengan modal dengkul Anda dapat mencoba mereguk peruntungan pada ajang jual beli ponsel bekas dengan menjadi perantara dengan mencocokkan antara iklan penjualan ponsel bekas pada suatu forum atau milis di internet dan mempertemukannya dengan calon pembeli.

5. Faktor Sosial-Masyarakat.

Salah satu iklan yang dulu sempat jadi tren dengan kalimat “Hari gini nggak punya handphone” agaknya juga yang mendorong para remaja agar merasa wajib memiliki ponsel. Sebab para remaja biasanya paling takut dikucilkan karena dianggap ketinggalan jaman. Kini orang-orang pun juga seakan-akan hidupnya sudah bergantung pada ponsel. Tanpa membawa ponsel untuk mendampingi mereka keluar rumah, membuat mereka seakan-akan keluar rumah tanpa busana. Sebab sudah jarang orang yang dapat menghafal nomor telepon luar kepala. Bagi yang menjadikan ponsel sebagai asisten pribadinya, hampir semua data yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari disimpan dalam ponsel dibandingkan pada buku agenda. Sehingga tanpa benda tersebut, mereka seperti kehilangan pegangan.

Dengan semakin banyaknya orang yang kini berpaling dari buku catatan ke ponsel atau dari telepon kabel ke ponsel dapat kita disimpulkan bisnis di sektor telekomunikasi merupakan usaha potensial yang bisa menghasilkan laba tinggi. Atau, dengan kata lain, dengan modal yang terjangkau, Anda dapat menuai keuntungan besar.



7 Responses to Telekomunikasi, Perilaku dan Peluang Bisnis

  1. julitra says:

    ….Dari sistem telekomunikasinya sendiri, jumlah operator GSM di Indonesia yang sudah beroperasi ada 6 provider yaitu Telkomsel, Indosat, Excelcomindo, Pasifik Satelit Nusantara, Hutchison (three) dan Natrindo (Axis)….

    Pasifik Satelit Nusantara punya lisensi sebagai operator GSM?

  2. rorygilmore says:

    BYRU is a GSM Satellite service based on the ACeS (ASIA Cellular Satellite) network. The ACeS network is a GSM network using the Garuda-1 satellite technology giving Asia-wide coverage. BYRU allows you to communicate with the entire world from anywhere in Asia.

    BYRU services will include digital voice, facsimile and data transmission in both satellite and GSM modes. BYRU extends the reach of national telecommunication services where currently there are none available. Whether you are in the heart of Jakarta, traveling through the jungles or sailing on the oceans, BYRU ensures you will have the security and convenience of complete telecommunications coverage.

    BYRU (read be ru) is named after the word biru, meaning blue in Bahasa Indonesia, as a symbol of the sky above and its unlimited possibilities. BYRU symbolizes the free, dynamic and innovative personality of today’s communications era.

    BYRU reflects our continuous effort to provide the best service to suit your needs.

    diambil langsung dari website Pasifik Satelit Nusantara (http://www.psn.co.id/mss/byrur190.php)

  3. rorygilmore says:

    Lagi…
    BYRU is Indonesia’s first mobile satellite GSM service using the ACeS (ASIA Cellular Satellite) network and the Garuda-1 satellite. It provides you with easy access to satellite based mobile telecommunications in an area extending from Pakistan and India in the west, to the Philippines and Papua New Guinea in the east, and from Japan and China in the north, down to Indonesia in the south.

    BYRU services will include digital voice, facsimile and data transmission in both satellite and GSM modes. BYRU extends the reach of national telecommunication services where currently there are none available. Whether you are in the heart of Jakarta, traveling through the jungles or sailing on the oceans, BYRU ensures you will have the security and convenience of complete telecommunications coverage.

    BYRU (read be ru) is named after the word biru, meaning blue in Bahasa Indonesia, as a symbol of the sky above and its unlimited possibilities. BYRU symbolizes the free, dynamic and innovative personality of today’s communications era.

    BYRU reflects our continuous effort to provide the best service to suit your needs.

    diambil langsung dari website Byru (http://www.byru.net/info2.html)

  4. julitra says:

    Thank you.

    An interesting (further)topic to be reviewed: in what sense that PSN is a GSM service provider given the fact that it is a satellite based network?

    From my understanding, no further research has been done in this matter, Byru is a hybrid system and it seems only a GSM (one-way)roaming partner. When it camps to GSM900, and only in GSM900, in Indonesian territory, does PSN logo appear on the mobile screen or the logo of the other three GSM900 operators? (Indosat, Telkomsel and XL, in that order)

  5. Endah says:

    sebaiknya jangan tanya si dungu deh ya…

  6. pulsa murah says:

    artikelnya menarik juga

  7. Harga Ponsel says:

    Info yg sangat berguna nih….terima kasih sudah mau sharing dan salam kenal🙂

    Salam,
    Harga Ponsel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: