Love


 

Film ini memiliki alur seperti film “Things You Can Tell Just by Looking at Her” film tahun 1999 yang banyak bertaburan bintang. Terdiri dari beberapa segmen, yang satu sama lain ceritanya tidak saling berkaitan tetapi memiliki setting lokasi dan orang yang saling terhubung. Jika kesedihan yang dimilliki masing-masing karakter pada film Things You Can Tell Just by Looking at Her menjadi benang merah dari film tersebut. Maka sesuai judul, cinta adalah benang merah dari film Love.

Opening film menampilkan dua anak kecil, sedang bermain di persawahan. Si bocah lelaki memberikan gelang tali dengan manik-manik pada teman perempuannya. Entah mengapa, mereka pun harus berpisah. Seperti halnya Things, film ini terdiri dari lima segmen dengan cerita yang berbeda. Kelimanya menceritakan mengenai hubungan cinta antar manusia, ada yang tidak sepadan kadar cintanya, ada yang tidak kesampaian, dan ada pula yang akhirnya menyatu.

Kedua film tersebut sama-sama sanggup menguras air mata dengan cerita yang mengharukan, didukung pula dengan akting para pemainnya yang memang sudah cukup ternama. Berbeda dengan film-film lain yang dimainkan oleh Acha Septiasa, saat Acha berperan sebagai Iin gadis lugu dari Sukabumi kesannya terasa lebih natural dan pas. Hal ini diimbangi juga dengan wajah innocent Fauzi Baadilla saat berperan sebagai Rama. Pria yang menampung dia, ketika Iin tak punya uang sesampainya di Jakarta.

Laudya Chintya Bella berperan sebagai Dinda, remaja wanita yang terkena kanker payudara. Dinda ini menjadi pujaan hati Restu yang tak sengaja melihatnya di Transjakarta. Sayang ada beberapa keanehan dari alur cerita ini. Kenapa Dinda selalu ditunggu di halte yang sama hingga malam hari, padahal Dinda turun dari bus di halte itu pada siang hari. Ketika malam, lagi-lagi si Dinda turun dari bus di halte yang sama. Bukannya harusnya dia datang dari pintu masuk bus ya? Malah di hari yang berbeda justru siang hari, si Dinda ini datang dari luar halte ke dalam.. ya gitu deh, agak-agak bingung kalau mau ngepasin.

Alur lain yang membingungkan ketika Miranda (Wulan Guritno) yang harus melakukan perjalanan naik bus, ketemu dengan pria di bus (Fathir Muchtar). Kemudian entah bagaimana, mereka menuju suatu gedung yang ternyata sudah disiapkan oleh Gilang (Surya Saputra), suami Miranda. Di sini gue ngga ngerti, kenapa si Miranda tau-tau ke situ dengan selingkuhannya. Apa maksa biar dipergokin dan ngga kepikiran adegan lain yang lebih masuk akal ya?

Kesalahan fatal terjadi pada adegan setelah Pak Guru (Sophan Sopiaan) ketakutan menyeberang dan ditolong oleh Lestari (Widyawati). Pada saat itu terlihat Pak Guru masih mengenakan jam, padahal pada kunjungan ketiga Pak Guru ke warung soto Lestari jam tersebut sudah diminta Lestari untuk direparasikan. Pak Guru ini menderita Alzheimer, dan beberapa kali datang ke warung soto menanyakan Hengky untuk mereparasi jam, karena sebelumnya tempat itu adalah tempat servis jam. Lestari yang menaruh rasa simpati pada Pak Guru pun berusaha mengawasi dan menjaganya dengan penuh cinta. Kesalahan tersebut diperkuat ketika hampir di ending cerita, Lestari baru mengembalikan jam yang selesai direparasi ke rumah Pak Guru. Dia akan mengajak jalan-jalan Pak Guru. Saat itu mendadak Pak Guru dapat mengingat nama cucunya yang selama ini dia panggil dengan nama anaknya yang sudah meninggal.

Segmen yang tidak terlalu mengharukan bagi gue adalah hubungan antara Tere dan Awin. Tere seorang penulis terkenal, sementara Awin seorang penjaga toko buku yang juga memiliki hobi menulis. Walaupun ada beberapa kalimat dari Awin yang cukup menggelitik. “Semua orang bisa nulis, tapi nggak semua beruntung bisa jual tulisannya. Hmm mendengar kalimat ini gue cukup bersyukur bisa jadi orang yang menjual tulisan gue😀.  Lanjutan kalimatnya, “Hidup bagaikan toko buku, ada yang ringan sampai berat tapi kebanyakan orang cari yang ringan-ringan saja”. He he, agak sedikit berfilosofi ringan, walau ga jelas maksudnya :p

Cerita yang paling bisa menguras air mata justru antara Iin dan Rama, terlepas dari gue yang memang sangat mengidolakan Fauzi Baadilla ya. Rama, seorang laki-laki yang harus merelakan pacarnya menikahi kakaknya sendiri. Rasa cinta itu masih dia simpan dalam hatinya. Sampai tiba seorang Iin, perempuan keras hati yang sanggup meluluhkannya ketika dengan gigih mencari pria yang menghamilinya. Kata-kata Rama ke Iin, akan selalu gue ingat untuk nggak mikirin orang yang nggak penting, “Itu berarti laki-laki itu emang bukan milik kamu In. Ngapain sih mikirin orang yang nggak pernah mikirin kamu In?”

Iin pun membalikkan kalimat itu dengan sikap Rama sendiri yang nggak pernah tuntas menyelesaikan masalah dengan Ayu, mantan pacar yang kini menjadi kakak iparnya. Ketika Rama menanyakan keputusan Ayu untuk menikahi kakaknya. Ayu pun menjawab dengan logika yang agak aneh “Aku cuma mau menikah dan punya anak, kata ibuku nggak butuh cinta untuk mewujudkan itu”.

Di akhir pencarian Iin menemukan Heri dan tidak sesuai harapannya. Iin pun menelepon ke rumah dan memutuskan untuk pulang. Saat itu adegan agak didramatisir dengan pendarahan yang dialami Iin. Mungkin untuk ngasih informasi kalau si Iin ini hamil 2 bulan, tapi heran juga sih kandungannya nggak apa-apa setelah pendarahan. Rama pun membawa Iin kembali ke rumahnya, hingga Iin pamit pulang. Dan saat-saat menuju momen yang membuat air mata gue nggak terbendung pun tiba.

“Iin sayang sama mas Rama, seandainya mas Rama minta Iin untuk tetap tinggal, Iin mah mau mas. Iin rasa kita bisa mulai kehidupan yang baru sama-sama mas.”. Sementara Rama pun memandang kosong seolah tak menggubrisnya. Iin pun meninggalkan rumah tersebut. Melewati rel kereta pertama. Rama mengejar, dan berteriak

Rama: “Iin mau kemana?”

Iin : “ha? Pulang”

Kereta pun lewat di antara mereka, adegan ini begitu mirip salah satu segmen di film Paris, Je T’Aime

Rama: “Rumah kamu di sini” (sambil nunjuk ke rumahnya dengan muka yang bener-bener bikin gue gemes, duh Fauzi Baadilla). “Jangan nyerah In”.

Iin:” Karena kita nggak akan tahu hari esok kalau kita nyerah di hari ini kan mas?”

Kemudian setelah kereta lewat, Rama pun menyusul Iin dan berpelukan di antara kedua rel kereta, dan dua kereta pun lewat mengapit mereka. Benar-benar mirip Paris, Je T’Aime. Tapi tetap saja, mengharukan buat gue, dan air mata pun ga tertahankan lagi.😀

Sebenarnya ada lagi sedikir keanehan, di segmen Dinda, ketika dia menanggalkan wig dan terjatuh pingsan. Saat tim medis datang dan dia digotong. Tas dan wig-nya terjatuh di lantai halte busway dan ditinggal begitu saja. Tetapi saat tiba di rumah sakit, semuanya sudah ada dengan lengkap kembali. Nggak terlalu fatal seperti jam Pak Guru sih…

Film pun ditutup dengan adegan Gilang yang menemukan teman perempuan masa kecilnya yang dia kasih gelang pada opening film ini dan kalimat-kalimat dari narator:

Dan semakin dewasa kita akan menyadari di antara kenangan-kenangan tersebut ada satu kekuatan yang paling besar yaitu Cinta.

Karena ketika satu per satu cerita berhenti dan menjadi kenangan, cinta terus bergerak seiring dengan harapan yang menyertai dia

Cinta yang tak terlihat oleh mata, tak teraba oleh tangan tapi dia ada. Bahkan sejauh kita belum bisa mengucapkannya”
Gue nonton film ini pas di hari Valentine, sama Evi temen kantor gue yang mengidolakan Irwansyah (berperan jadi Restu). Ending untuk Restu agak sedih, karena ditinggal pujaan hatinya. Sedangkan Evi sempat-sempatnya ngeledek. “Sepertinya lebih kasihan Rama, sudah pacarnya diambil kakak sendiri. Nampung cewek lain yang dihamili orang”. Tapi gue benar-benar terharu, Iin memilih untuk membesarkan anak dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan menterlantarkannya. Dan perhatian Rama yang begitu mendalam pada perempuan yang sama sekali tidak dia kenal mulanya. Ekspresi Fauzi Baadilla pun banyak berbicara… Duh.. kerennya.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: