Freedom Writers

freedom.jpg

Untuk para penggemar kisah-kisah nyata, tentunya kisah sukses Erin Gruwell (Hilary Swank) dalam mengatasi para siswa-siswinya yang tidak peduli pada pendidikan merupakan tontonan yang menarik. Opening film ini diawali dengan adegan salah satu murid kelas 203, Eva (April Lee Hernandez) yang memiliki darah Amerika Latin ketika masih kecil. Dibesarkan di lingkungan yang keras, Eva menyaksikan seorang pria ditembak di seberang rumahnya ketika dia sedang duduk di depan pintu. Karena ikatan suku yang kuat dan membela orang segolongannya, akhirnya ayah Eva yang menanggung risiko untuk di penjara. Ketika remaja pun akhirnya Eva memutuskan untuk bergabung dengan salah satu geng.

Kehidupan di Long Beach pada saat itu benar-benar penuh dengan peperangan antar geng. Setiap golongan memiliki geng, ada geng Negro, geng Amerika Latin, geng Kamboja, dan geng Asia. Setiap geng saling membenci satu sama lain, lingkungan mereka dipenuhi dengan baku tembak antar geng. Erin datang ke Long Beach untuk mengajar, dan dia mendapatkan kelas yang merupakan bagian dari program untuk membaurkan remaja antar golongan ini. Tetapi keadaan di kelas benar-benar penuh dengan kebencian, dan mereka pun duduk saling berkelompok sesuai dengan golongannya. Bahkan Ben (Hunter Parrish) sebagai satu-satunya siswa kulit putih menjadi terkucilkan.

Atasan Erin mengatakan bahwa seandainya Erin datang dua tahun sebelumnya tentunya dia menemukan sekolah itu penuh dengan siswa-siswi pandai yang memang memenuhi kelas sebagai sekolah unggulan. Namun justru Erin merasa tertantang untuk mengatasi perpecahan antar golongan ini. Dengan pendekatan yang manusiawi, Erin benar-benar merasa betanggung jawab untuk dapat memberikan pendidikan pada siswa-siswinya.

Dengan tidak menggunakan cara pengajaran yang konservatif dengan materi-materi yang membosankan, Erin berusaha menggunakan metode-metode hasil eksperimennya sendiri. Pelajaran bahasa dan sastra yang menggunakan contoh seniman modern seperti lirik lagi Tupac Shakur, seorang rapper kulit hitam. Erin pun mendapat cercaan sebagai kulit putih yang mau mengajari rap dan hip hop. Tanpa menyerah Erin terus berusaha untuk dapat menembus ke hati siswa-siswinya dengan cara memberi mereka masing-masing buku tulis, agar mereka mau menulis jurnal atau apapun yang ingin mereka tulis sebagai ekspresi dari diri mereka.

Erin tidak memaksa untuk membaca tulisan mereka, dia mengatakan bila memang siswa-siswinya menghendaki dirinya membaca tulisan mereka, maka dia menyediakan lemari untuk meletakkan buku-buku tersebut. Dan alangkah senangnya Erin ketika melihat isi lemari penuh dengan buku-buku yang berisi curahan hati mereka. Walaupun pertengkaran antar geng masih berlanjut, bahkan salah satu teman Eva secara tidak sengaja membunuh salah satu remaja Kamboja ketika ingin menembak salah satu anggota geng kulit hitam. Eva sebagai saksi mata, tidak ingin berkhianat terhadap golongannya, maka dia justru bersaksi bahwa pelaku penembakan adalah salah seorang kulit hitam temannya.

Karena Supervisor Erin tidak mau mendukung Erin untuk memberikan fasilitas berupa buku-buku materi sebagai bahan pengajaran Erin, maka Erin juga mencari pekerjaan tambahan untuk dapat membelikan siswa-siswinya buku yang pantas untuk dibaca. Salah satunya adalah buku The Diary of Anne Frank, para siswa-siswi pun penasaran akan kisah Anne Frank tersebut. Bagaimana gadis seumuran mereka mencoba bertahan hidup pada jaman Nazi. Tidak hanya sampai di situ, Erin terus berusaha agar para muridnya dapat saling membaur dan berdamai satu sama lain. Dengan cara membawa mereka tur, dan mengadakan makan bersama dengan beberapa pelarian di jaman Nazi yang selamat.

Kisah berlanjut dengan persahabatan antar golongan yang mulai terjalin, bahkan seorang Ben pun sudah dapat diterima untuk bergaul dengan Marcus (Jason Finn) salah seorang anggota geng kulit hitam yang diusir dari rumah oleh ibunya. Marcus diusir karena bergabung dengan geng, namun dia adalah salah satu murid yang sangat mengagumi perjuangan Anne Frank dan berkeinginan untuk bertemu dengan Miep Gies (Pat Carroll), yaitu orang yang membantu menyembunyikan keluarga Anne Frank dalam menghadapi Nazi. Para murid ingin sekali dapat bertemu langsung dengan Miep Gies.

Karena sekolah tidak mau membiayai untuk mendatangkan Miep Gies, maka persahabatan antar murid pun semakin terjalin dengan ide-ide mereka untuk mengumpulkan sumbangan agar dapat mendatangkan Miep Gies ke sekolah mereka. Banyak media yang meliput kejadian-kejadian tersebut, tentu saja hal ini semakin membuat kesal supervisor Erin. Dan betapa bangganya para murid ketika dapat berhadapan langsung dengan Mip Gies, yang juga telah membaca jurnal mereka, dan menganggap mereka semua adalah pahlawan. Pahlawan dari kehidupannya masing-masing. Namun kesuksesan Erin dalam perjuangannya menyatukan perpecahan antar golongan tidak diimbangi dengan kesuksesannya membina keluarga. Suami Erin yang selama ini mendukung Erin tiba-tiba meninggalkannya begitu saja.

Eva pun tiba-tiba berani bersaksi yang jujur, walaupun akhirnya dibenci oleh golongannya. Konflik pun bertambah ketika Erin tidak diijinkan kembali mengajar mereka karena mereka sudah harus pindah kelas. Ketika dia memperjuangkan untuk dapat mengajar mereka, karena permintaan murid-muridnya yang sudah merasa sebagai satu keluarga, malah supervisornya membawa-bawa masalah pribadinya untuk menjatuhkan.

Bagaimana akhirnya apakah Erin dapat kembali mengajar mereka? Hal ini akan terjawab pada akhir dari film ini. Film ini cukup bagus dalam promosi menjauhkan perpecahan SARA. Terutama bagi bangsa yang sudah saling membenci satu sama lain… Sekali lagi memang ini salah satu film terbaik yang dimainkan Hilary Swank setelah Boy’s Don’t Cry.

One Response to Freedom Writers

  1. nant's says:

    Filmnya emang keren. Untuk mreka yang hidup dalam dunia kekerasan, Mrs. Gruwell udah berhasil menyentuhnya. Memberikan mereka “home”. Sesuatu yang gak gampang untuk bisa membuat anak2 yang hidupnya keras untuk dengan rela manggil Mrs. Gruewell, “Ma!”

    walau pertamanya shock ngeliat beceng pas muridnya berantem, tetap top markotop lah Mrs Gruewell.

    Tinggal cari bukunya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: