Miss Potter

misspotter.jpg

Film ini bercerita tentang kehidupan Beatrix Potter seorang penulis buku anak-anak. Miss Potter (Renee Zellweger) seorang lajang 32 tahun yang masih tinggal di rumah kedua orang tuanya. Selama masih di rumah tersebut kehidupannya jauh dari menyenangkan, karena setiap hari harus mengalami friksi dan kritikan-kritikan dari ibunya. Walaupun lajang Miss Potter tidak kesepian karena beliau ditemani oleh teman-teman sumber inspirasinya.

Sang ibu selalu berusaha menjodohkan putrinya ini dengan pria-pria yang masih keturunan bangsawan juga. Kedua orang tua Miss Potter percaya bahwa pedagang ataupun artis bukanlah karir yang terpandang untuk keluarganya. Hal ini pulalah yang menyebabkan ayah Miss Potter tidak mengembangkan bakat seninya, dan malah mengambil kuliah hukum.

Bakat ayahnya itulah yang melekat pada diri Miss Potter, hingga dia dapat membuat cerita Peter Rabbit. Mengawali karirnya dengan menulis cerita tersebut, Miss Potter bertemu dengan Norman Warne (Ewan McGregor). Adik laki-laki paling bungsu dari Warne bersaudara yang menerbitkan bukunya. Kemashyuran Beatrix bahkan sudah tersebar ke lingkungan sekitar orang tua Beatrix, namun masih saja ibunya tidak mengakui dan menghujaninya dengan kritikan-kritikan pedas. Terlebih ketika Norman melamar Beatrix untuk menikahinya, kontan saja sang ibu menolak karena karir Norman hanyalah seorang pedagang.

Tanpa terduga penghasilan Beatrix dari penjualan buku-bukunya sudah sangat tinggi. Dan dengan dipicu oleh musibah yang menimpa Norman, maka Beatrix membeli tanah dan rumah sendiri di daerah pinggiran yang jauh dari London.

Sempat diancam tidak mendapat warisan jika menikahi seorang pedagang oleh ibunya. Kini Beatrix malah memiliki banyak lahan tanah di Inggris dan sebagian dia sumbangkan untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian dan peternakan. Bahkan ketika dia akhirnya menikahi teman masa kecilnya yang berpendidikan hukum, ibunya tetap tidak merestui pernikahannya.

Setidaknya film ini memberikan gambaran bahwa tidak selamanya orang tua benar dan mengambil keputusan terbaik demi anaknya. Memang ada saat di mana kita harus benar-benar bisa membedakan mana yang terbaik untuk hidup kita tanpa harus terlalu menghiraukan omongan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: