PPD dan Transjakarta tuker tempat?

Tanggal 1 Agustus 2006, gue dateng ke kampus jam 9 pagi. Niat gue mau nyari data buat tugas akhir ke BPS, dari kampus berangkat jam 10. Tapi apa daya, di perjalanan, beginilah pemandangan yang ada… macet berjam-jam. Pemandangan yang mungkin (mudah-mudahan sih tepatnya) hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Trans Jakarta dan kendaraan-kendaraan lain berbaur jadi satu di jalur lambat, sementara PPD dengan jayanya berjalan di jalur bus way. Hiks hiks… Jakarta oh Jakarta… Speechless dan tak bisa berkata-kata lagi gue.

Untuk pengelola jalan, ditlantas, atau jasamarga: mbok ya kalau ada demo ada pemberitahuan di jalan-jalan yang menyambung dengan jalan tersebut, sehingga pengendara jalan dapat mencari alternatif jalan untuk menghindari kemacetan. Kalau sudah begini semua stress kan. Para mahasiswa bisa gagal lulus, para eksekutif bisa terlambat kerja, bisa gagal dealing. Wah dampaknya bisa ke perekonomian negara yang semakin menurun dan kualitas pendidikan bangsa yang semakin terpuruk deh….

He he he.. nyambung ga nyambung harus nyambung :p

3 Responses to PPD dan Transjakarta tuker tempat?

  1. netadmin says:

    Hmmm…masalah klasik yang belum bisa dipecahkan dengan teori klasik. Mungkin sudah saatnya Jakarta benar-benar “dirombak” dari sistem transportasinya. Bukan hanya membuat alat transportasi baru, tapi membuat sistemnya. Percuma membuat dan mengaplikasikan alat transportasi baru, karena hanya akan memindahkan kemacetan itu sendiri. Dengan sistem transportasi yang memadai, rasanya kemacetan tidak lagi akan “berpindah”, tapi membuat jarak tempuh orang menjadi lebih singkat (termasuk waktu tentunya). Itu sedikit yang saya pelajari dari sistem queue.

    Jakarta butuh MRTS (Mass Rapid Transportation System). Kalau di Singapore, MRT akan lebih identik dengan kereta. Demikian juga di Tokyo dan Kuala Lumpur. Namun MRTS tidak harus berupa kereta. Memang kereta salah satu jalan keluarnya, karena bisa mengangkut banyak orang (mass) dan jarak antar satu shift dengan shift yang lain dekat (rapid). Sehingga dalam waktu tidak terlalu lama (karena banyak alat angkutnya) akan terangkut banyak orang. Juga bisa diartikan bahwa Jakarta butuh penanganan pelayanan transportasi yang jelas, yang reliable yang bisa diandalkan oleh semua orang. Sehingga pengguna transportasi tidak lagi perlu merasa “terhina” memanfaatkan sarana transportasi umum. Di sisi lain juga tidak perlu merasa “tidak nyaman” dengan transportasi umum tersebut.

    Dan mungkin juga harus dibudayakan jalan. Walau bagaimanapun panasnya, Jakarta masih kurang panas dibandingkan Tokyo di musim panas. Dimana suhu bisa sangat tinggi (di atas 30 derajat) dengan kelembaban yang sangat tinggi pula (di atas 75% –rata-rata tubuh manusia akan menerima range humidity antara 40% – 65%, lebih dari itu akan terasa tidak nyaman). Mereka masih bersedia untuk jalan kaki untuk mencapai stasiun kereta terdekat, dan mereka juga masih rela harus berdesak-desakan di bus yang menuju ke stasiun terdekat. Belum lagi setelah itu mereka masih bersedia berdesak-desakan di kereta itu sendiri.
    Di sini bisa belajar, bahwa sistem transportasi antar jemput (feeding) bisa memanfaatkan sarana angkutan bus. Sedangkan untuk rapid transport / movement-nya, bisa memanfaatkan kereta. Kombinasi yang pas. Kalau di Indonesia mungkin bisa dibantu ojek dan bajaj, tapi dengan syarat mereka sendiri harus teratur. Jangan karena merasa dibutuhkan lalu seenak udelnya sendiri melanggar lalu lintas (walau untuk keperluan apapun itu, melanggar aturan UU –bagi saya sih– tetap suatu pelanggaran, tidak berat tidak ringan).

    Namun sistem angkutannya sendiri tidak harus berhenti di situ. Hanya Jakarta yang menikmatinya. Enak aja. Emang cuman Jakarta yang butuh transportasi. Masih banyak daerah yang harus dijangkau. Tugas PT KA kan tidak hanya mencari penumpang yang nggak bayar, mencari alasan keterlambatan kereta, atau bahkan mencari solusi gimana biar kereta masih tetap bisa jalan tanpa mengedepankan “quality service”. Lalu ndak ada bedanya kalau PT KA dan BUMN lainnya disamakan dengan “team perawatan”, kalau bisa agak bagusan dikit syukur kalau kagak bisa ya udah😉

    Tapi itu bukan tugas diriku untuk menanganinya. Masih banyak orang yang lebih pinter. Selamat berkarya demi bangsaku yang sudah lama ingin menikmati hasil karyamu. Kasian juga kan Mbak Roro Mendut harus menikmati macet saban hari. Semoga di jaman kuda gigit kabel TV semua bisa lebih baik lagi😉

    Maaf kepada pihak2 yang merasa “tertusuk ilalang” atas komentar ini. Lagian komentarnya ndak fokus & ndak sesuai dengan judul blog-nya RoroMendut😉

  2. cupu says:

    hehe, sori ya, bunglon_imut; kalau membuatmu harus menunggu komennya diapprove. sama sekali nggak bermaksud. kebetulan saya lagi coba-coba template baru. dan settingan moderation-nya belum saya ubah. btw, thanx yah komennya.🙂

    anyway, komen di atas ini panjang sekali ya. lebih panjang dari postingannya sendiri. hehehe. terlihat kritis dan cukup kuat secara teori. tapi sayang… kenapa pada akhir tulisan ia terlihat apatis; bukankah setiap kita punya tanggungjawab yang sama terhadap perubahan? seharusnya kita semua berpikir bagaimana perubahan itu bisa terjadi dengan dimulai dari hal terkecil dan dari diri kita sendiri. bukan segera menyerahkan kepada spesialis untuk memulainya.🙂

    no offense.

    salam kenal untuk bunglon_imut dan juga om netadmin.😉

  3. metamorfosis says:

    ikutan salam kenal juga deh tuk mba bunglon xixixi😀

    Jakarta macet? itu udah biasa :p
    Stress krn macet? jgn stress dongg ~x(
    :)>-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: