Flying Like A Phoenix

June 5, 2011

Kutipan  “That which does not kill us makes us stronger” dari Friedrich Nietzsche mungkin paling pas menggambarkan sosok Phoenix. Sang burung api tak mati-mati atau selalu bangkit kembali setelah terbunuh dalam kawah gunung api. Apa yang tidak membunuh kita akan membuat kita semakin kuat. Hal tersebut benar adanya. Melongok pada para tokoh-tokoh yang selamat dari pengalaman nyaris mati, biasanya mereka menjadi lebih kuat dan tak segan merangkul dan membantu sesama agar terhindar dari pengalaman buruk yang serupa.

Semalam saya membaca kisah hidup salah seorang musisi yang saya kagumi, yaitu Indra Qadarsih dari blog salah seorang fansnya. Beliau selamat dari beberapa pengalaman yang nyaris merenggut maut karena ketergantungannya pada narkoba. Tetapi kini Indra menjelma menjadi sosok yang relijius, tak segan membantu para musisi lain, atau bahkan kepada para fansnya sekalipun. Jika membaca twitternya akan sering terlihat ucapan “Selamat bahagia!”, maka energi positif dan racun-racun bahagia pun menyebar pada semua followernya. Sama sekali tidak terlihat sikap arogan atau sok ngartis, padahal prestasinya bukan main-main. Selain virus bahagia, kesadaran untuk terus bersyukur pun ditularkan olehnya. Kini dia pun hidup bahagia dengan dikaruniai istri dan anak.

Read the rest of this entry »


Tulisan dari Masa Lampau

October 24, 2010

Niatnya ingin mencari tugas-tugas kuliah jaman S1 dahulu. Tapi apa daya, laptop ini berbeda dengan yang digunakan waktu kuliah di Depok dahulu. Ternyata berbagai dokumen dari masa-masa masih di Elektro itu tidak ada yang dipindahkan ke laptop tercinta ini. Memang sih sudah sempat di burn di CD, tapi semuanya ditinggal di kamar rumah. Padahal sekarang posisi di kos. Dengan perlengkapan tempur yang serba minim. Bahkan sendok garpu dari logam pun tak ada (heh apa hubungannya ya?).

Walhasil, alih-alih ketemu berkas-berkas data jaman kuliah S1, malah ketemu beberapa peninggalan tulisan curhat jaman tahun 2005. Memang berkas tertua di komputer ini tertanggal 2005. Karena memang laptop butut yang sangat berjasa ini diadopsi oleh gue tahun 2005. Agak geli juga baca tulisan-tulisan tersebut. Curhatan mengenai cita-cita jadi penulis. Entah juga, apakah harapan gue itu sudah tercapai, atau sekedar pencapaian asal-asalan. Karena pada dasarnya gue pengen akan bisa bikin karya sastra, sebuat master piece, seperti idola junjungan gue YB. Mangunwijaya. Toh beliau juga berawal menulis karya tulis teknik, dan akhirnya menyeberang ke sastra. Nah sekian dulu kalimat pembukanya.. Berikut ini adalah tulisan yang ditulis pada 26 Desember 2005.

Read the rest of this entry »


Simpati

October 24, 2010

Tulisan ini gue buat tahun 2006, tepatnya 26 April 2006. Belum pernah dimuat dalam blog, karena memang tadinya cuma untuk koleksi pribadi. Tapi setelah dibaca-baca, rasanya tak ada salahnya berbagi tulisan ini ke umum.

Senin pagi, 24 April 2006… gue bangun pagi, siap untuk menjalankan rencana gue pagi itu. Hari ini gue berencana untuk refreshing menikmati liburan gue ke Anyer dengan Nenni dan Raya. Tapi seperti biasa rutinitas bangun pagi gue selalu diawali dengan mengecek hp gue, ada 3 sms dan salah satu diantaranya berita duka. So planning gue berubah, gue segera mandi dan berangkat untuk layat.

Bisa diitung berapa kali gue layat, hari ini adalah kelima kalinya. Pertama kali gue ngelayat adalah jaman gue SMP kelas 1, rombongan kelas diliburkan karena yang meninggal adalah salah satu temen sekelas gue. Pengalaman pertama yang cukup buruk, karena semua bisa nangis nunjukin rasa simpati, kecuali gue. Ga tau kenapa gue seperti orang yang ga punya hati, cuma bisa diem.

Read the rest of this entry »


Resepsi Pernikahan

May 24, 2010

Ketika obrolan ini dilakukan, gue dan seorang sahabat gue yang juga masih jomblo sedang duduk-duduk di lounge sambil menunggu film bioskop diputar.

Gue: Gar, kalau nikah, lo mau pake resepsi atau nggak?

Dia: Maksudnya? Lo ngajakin gue nikah gitu?

Gue: Bukaaaan, tapi sampai sekarang gue nggak ngerti manfaat resepsi pernikahan.

Dia: Ya itu namanya syukuran, membagi kebahagiaan dengan orang lain yang diundang.

Gue: Tapi apa iya orang yang diundang akan merasakan kebahagiaan? Bukannya kadang orang-orang yang diundang jadi serba salah? Kadang jadi terpaksa datang juga, belum lagi kalau banyak resepsi yang harus didatangi. Gue lihat status facebook orang ada kok yang ngeluh karena di hari itu tanggal tua jadi harus keluar duit juga untuk ngasih amplop di resepsi. Belum lagi kalau ada undangan yang bentrok. Jadi bingung sendiri kan mau datang resepsi yang mana. Banyak uang dan waktu yang terbuang percuma, orang yang menikah harus keluar banyak dana untuk resepsi toh yang datang juga harus keluar duit, tapi itupun gak balik modal. Sayang kan kalo uang segitu banyak kebuang hanya untuk satu hari saja, itu pun bukan satu hari penuh, tapi hanya beberapa jam saja. Sedangkan pernikahan itu kan maunya untuk selamanya, jadi jangka waktunya lebih panjang. Mending dananya buat modal bangun rumah tangga yang baru dibentuk. Trus apa iya bagi-bagi kebahagiaan? Gimana dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul buat orang yang masih jomblo di resepsi itu, kadang kan ada yang iseng ngelontarin pertanyaan “kapan nyusul?” nah itu malah bisa bikin orang jadi risih. Bagi gue resepsi pernikahan itu nggak praktis.

Dia: Gue sih setuju saja sama elo, mungkin keluarga gue bisa untuk terima gak ada resepsi. Tapi terkadang keluarga cewe atau cewenya sendiri kan gengsi untuk gak ngadain resepsi. Ya kadang itu jadi ajang untuk pamer juga.

Gue: Ya karena memang sudah dibentuk paradigma yang seperti itu. Tapi coba lihat deh, gue pernah tulis di salah satu blog gue, judulnya Ide itu Punya Kaki. Di tulisan itu gue kasih contoh, gimana ada pergeseran nilai resepsi itu sendiri. Dulu ngasih uang atau amplop itu kan sempat dianggap tabu, normalnya dulu bawa kado atau bingkisan. Tapi berkat ada yang berani membuat dobrakan dengan menyisipkan sepotong kertas di undangan yang isinya kira-kira “tanpa mengurangi rasa hormat, mohon hadiah tidak dalam bentuk bingkisan/karangan bunga”. Awalnya hal itu kan terasa aneh. Tapi lama-lama jadi biasa, yang akhirnya tanpa sisipan potongan kertas itu orang inisiatif untuk ngasih amplop uang aja ke resepsi. Padahal tanpa itu, awalnya pasti sama-sama bingung. Si mempelai dapat begitu banyak barang yang jenisnya hampir sama akhirnya jadi nggak terpakai, dan tamu yang diundang juga agak repot cari-cari bingkisan. Kalau di luar negeri mungkin ada juga yang agak nyentrik dengan menyertakan daftar kado yang dibutuhkan lengkap dengan tempat barang itu bisa dibeli saat ngirim undangan. Tapi kan kalau tamunya ratusan jadi ga efektif juga.

Dia: Iya juga sih Ndah, tapi mungkin sifatnya lebih ke pengumuman bahwa kedua mempelai sudah menikah. Kalau menurut gue, biar nggak repot pasang saja pengumuman iklan telah menikah di koran ya?

Gue: Hmm, menurut gue masih nggak efektif sih, soalnya kan pasang iklan di koran juga tetap keluar uang, dan belum tentu kena sasaran. Toh belum tentu teman-teman dekat yang kenal baca, malah yang baca kemungkinan orang-orang yang ga kita kenal. Sebenarnya ada lho solusi yang lebih murah dan kena sasaran kalau memang sifatnya cuma berupa pengumuman. Pasang saja di jejaring sosial, seperti Facebook atau Friendster. Daftar teman-teman kita kan pasti orang-orang yang kita kenal, jadi mereka dapat informasinya bukan orang lain dan gratis pula. Mungkin gak ya, dari peralihan resepsi pernikahan yang tadinya tanda suka cita dikasih dalam bentuk bingkisan ke uang, bisa beralih lagi, jadi tanpa resepsi dan cukup pengumuman di Facebook.

Obrolan kami pun terputus, karena sudah ada panggilan untuk studio tempat film yang akan kami tonton diputar.


Tugas Media di Masa Kampanye

June 6, 2009

Sengketa lahan sekolah, sekolah yang bobrok, warga miskin di bantaran kali sudah saatnya seluruh kekurangan dan kemiskinan negeri ini diekspos media di masa kampanye presiden kali ini. Ketimbang dana kampanye terbuang sia-sia untuk iklan komersil di berbagai media baik cetak maupun elektronik, konser dangdut yang tidak penting serta pembuangan dana sia-sia lain yang sama sekali tidak berdampak untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Tugas media saat ini lebih baik membongkar segala kekurangan yang ada ketimbang pengeksposan kebodohan ketiga kubu yang saling bersaing berlomba meraih tahta kekuasaan. Setidaknya agar mereka semua yang berambisi ingin naik menjadi pimpinan negeri ini terhenyak sadar bahwa masih banyak kekurangan di negeri ini yang patut diperbaiki.

Dana-dana kampanye lebih baik dialokasikan untuk penyelesaian masalah-masalah yang melanda rakyat. Perbaikan sekolah-sekolah baik itu dari segi tampilan tempat belajar dan fasilitas maupun mutu pendidikan, ini merupakan investasi jangka panjang masa depan rakyat karena bagi gue pendidikan merupakan bekal masa depan seseorang. Kepedulian untuk menyediakan perumahan yang layak sekelas bangunan tempat tinggal Kalicode hasil rancang bangun Romo Mangun jauh lebih penting ketimbang konser dangdut atau materi komersil berbudget tinggi. Kampanye pesta janji di sana sini bagi gue kurang penting. Simpati gue ga bisa dibeli dari hal-hal pencucian otak macam itu. Kalaupun mulai ada perbaikan seperti sekolah gratis dan itu diekspos dalam materi iklan layanan masyarakat, kenapa baru sekarang. Saat ingin menarik simpati demi mempertahankan tahta? Kalau memang ada sesuatu kontribusi untuk dunia pendidikan kenapa tidak dari dulu, dan kenapa harus digembar-gemborkan mendekati pilpres?

Read the rest of this entry »


Segumpal Otak

April 26, 2009

Kemarin gue agak terheran-heran soal otak manusia. Apakah benar waktu Tuhan menciptakan manusia, ada manusia yang tidak kebagian saat mengantri otak. Apakah mungkin Tuhan tidak menyisipkan segumpal otak pada kepala kosong manusia itu? Atau kah gumpalan otak yang disisipkan Tuhan ke manusia itu hanya sebesar kacang polong sementara ruang kosongnya lebih banyak?

Setelah gue pikir-pikir dengan teori gue. Kemungkinan adalah sifat otak seperti rangkaian elektronik. Prosesor pada CPU, atau rangkaian elektronik pada ponsel, atau embedded circuit yang lain bisa saja tidak ada gunanya selama tidak diprogram. Jadi ada kemungkinan otak manusia yang tidak dapat digunakan untuk berpikir itu atau istilah orang itu “Emang gue pikirin” karena dia memang tidak bisa berpikir disebabkan belum diinstalnya sistem operasi pada otak tersebut. Hasilnya si otak hanyalah sebatas hardware tidak berguna, tidak bisa digunakan untuk berpikir dan hanyalah seonggok daging. Memang kasihan sih, kira-kira apa ya yang menyebabkan Tuhan tidak menginstal sistem operasi pada otak orang itu. Terkadang gue juga wondering.. apakah sistem operasi pada otak manusia sama semua? Kalau komputer kan ada Windows, Linux dan Mac. Sedangkan ponsel ada Symbian, Windows Mobile, Linux, iPhone, Blackberry, MTK, Palm OS dan Android. Berbagai versi sistem operasi tersedia untuk komputer dan ponsel. Bagaimana dengan otak manusia? Apakah tersedia sistem operasi yang berbeda-beda untuk mereka? Apakah sistem operasi otak manusia bisa diinstal ulang? Yah saya doakan bisa deh, agar orang-orang yang otaknya tidak berfungsi dengan baik bisa dapat digunakan pada akhirnya…


Pemilihan Binatang

April 9, 2009

Hari ini waktunya memilih binatang peliharaan oleh rakyat. Binatang dipilih untuk dipelihara dengan biaya yang tidak sedikit. Angka biaya pemeliharaan cukup mencengangkan, bisa beberapa kali lipat gaji saya. Di tempat saya memilih binatang, sistem antriannya cukup ajaib. Tidak ada keterangan mengenai sistem antrian, serobot menyerobot sudah jadi tradisi. Aneh sih menurut saya, apalagi hanya untuk memilih binatang peliharaan. Jadi kayak iklan aja, “Ketika Jalan Pintas Menjadi Pantas”.

Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 843 other followers