Kutipan ”That which does not kill us makes us stronger” dari Friedrich Nietzsche mungkin paling pas menggambarkan sosok Phoenix. Sang burung api tak mati-mati atau selalu bangkit kembali setelah terbunuh dalam kawah gunung api. Apa yang tidak membunuh kita akan membuat kita semakin kuat. Hal tersebut benar adanya. Melongok pada para tokoh-tokoh yang selamat dari pengalaman nyaris mati, biasanya mereka menjadi lebih kuat dan tak segan merangkul dan membantu sesama agar terhindar dari pengalaman buruk yang serupa.
Semalam saya membaca kisah hidup salah seorang musisi yang saya kagumi, yaitu Indra Qadarsih dari blog salah seorang fansnya. Beliau selamat dari beberapa pengalaman yang nyaris merenggut maut karena ketergantungannya pada narkoba. Tetapi kini Indra menjelma menjadi sosok yang relijius, tak segan membantu para musisi lain, atau bahkan kepada para fansnya sekalipun. Jika membaca twitternya akan sering terlihat ucapan “Selamat bahagia!”, maka energi positif dan racun-racun bahagia pun menyebar pada semua followernya. Sama sekali tidak terlihat sikap arogan atau sok ngartis, padahal prestasinya bukan main-main. Selain virus bahagia, kesadaran untuk terus bersyukur pun ditularkan olehnya. Kini dia pun hidup bahagia dengan dikaruniai istri dan anak.
Tak hanya Indra Qadarsih, ada beberapa sosok Phoenix lain yang menjelma menjadi hebat setelah terhindar dari maut. Salah satu sosok perempuan yang pernah juga terjerembab dalam dunia narkoba adalah Sekar Wulan Sari. Saya mengetahui cerita mengenai dara ini dari artikel The Jakarta Post. Tak hanya sekedar bangkit, Wulan pun mendirikan Stigma Foundation, suatu organisasi komunitas yang menyediakan jaringan dukungan bagi pengguna narkoba dan orang-orang yang ingin berhenti menjadi pecandu.
Tentu saja maut yang saya maksud tak hanya ancaman narkoba. Beberapa tokoh lain yang saya anggap menjadi lebih kuat ketika selamat dari pengalaman nyaris mati di antaranya adalah pengidap kanker. Dalam hal ini Rima Melati dan Dinda dapat menjadi contoh. Dinda Nawangwulan, baru saja saya baca profilnya pada Kompas Minggu, 5 Juni 2011 halaman 25. Sebagai survivor kanker payudara, dia mendirikan Pink Shimmer Inc, pusat advokasi untuk penyadaran tentang kanker payudara pada tahun 2009.
Saya yakin, ada banyak Phoenix lain yang belum saya ungkapkan di sini. Namun yang patut mendapat acungan jempol adalah tak hanya kekuatan yang diperoleh ketika mampu meniti kehidupan kembali. Tetapi keinginan untuk berbagi dan mencoba menopang kebangkitan phoenix-phoenix yang lain. Saya sendiri masih belajar dan ingin dapat mencapai kesuksesan dan berbagi kesuksesan tersebut pada banyak orang. Seperti juga mereka yang telah menjadi inspirasi saya.
Saat ini, mungkin saya masih dalam persembunyian saya. Mungkin saya masih sebagai phoenix yang berenang dalam api menuju pinggiran kawah gunung api sebelum akhirnya dapat kembali mengepakkan sayap dan terbang tinggi. Saya sendiri patut bersyukur tidak pernah tersentuh narkoba hingga kecanduan. Walaupun beberapa kali mengalami pengalaman tidak enak, karena sempat terjerumus jebakan politikus munafik yang menjujung azas premanisme. Tubuh hancur lebur akibat tindakan premanisme pun pernah dialami, dicekoki obat bius tingkat tinggi secara paksa pun pernah. Alhamdulillah tetap bisa pulih, dan semoga pulih total. Jangankan obat-obatan terlarang, obat flu sekalipun saya malas memakainya dan lebih mengandalkan minum jahe hangat demi penyembuhan flu. Saya pun patut bersyukur karena tidak pernah mengidap berbagai penyakit yang sukar disembuhkan seperti kanker. Tetapi mungkin semua orang akan memiliki kawah apinya sendiri. Dan percaya, ketika selamat dari kawah api tersebut, maka akan menjelma menjadi lebih hebat dan kuat. “That which does not kill us makes us stronger”. Tak perlu menanam kebencian atau dendam pada yang memasukkan kita ke kawah api, tetapi berpikir untuk bangkit dan menyebarkan semangat untuk membangun kehidupan yang lebih hebat menjadi lebih penting.
Kembali pada kasus Indra Qadarsih, kesuksesan yang diperoleh begitu cepat terkadang malah memabukkan jika tidak disertai rasa syukur (berdasarkan blog yang saya baca). Dahulupun ketika berbagai prestasi, baik dari sisi akademis maupun karir datang begitu saja, rasanya tak pernah saya merasa bersyukur. Justru rasa syukur terus saya panjatkan ketika pelan-pelan berusaha bangkit dari dalam kawah api. Memang tak dapat dipungkiri prestasi terdahulu pun tentunya menjadi modal. Sehingga ketika orang berusaha menenggelamkan kita semakin dalam pada kawah itu, niscaya usahanya tidak akan berhasil jika memiliki semangat untuk bangkit. Alhamdulillah, berbagai kesempatan pun banyak berdatangan begitu saja. Juga support yang justru hadir dari idola sendiri semakin menguatkan semangat.
Jadi bagi yang sedang tenggelam dalam kawah api, bangkitlah dan menjelma menjadi Phoenix! Kepakkan sayap untuk terbang setinggi mungkin. Terkadang tempaan berupa guncangan dan cobaan dalam kehidupan justru menambah warna dan lebih membuat kekebalann serta kematangan jiwa seseorang. Mengutip lagu “The Beast” – Edane:
Screaming like a demon
Shaking to the thunder beat
Flying like an eagle
Sweet bloodsucker smile
Who cares what people say
Yeah.. I am the Beast
Walking in the black rain
Covered by the sad night
I know I wasn’t born
To be a bad loser
Facing Bloody life with my burning heart
Don’t ask me to stop singing my own song
Nobody knows
You’d better shut your dirty mouth
Uuuu
High, I feel so high
Moving away
Crashing into the wide sea of fire
High, I feel so high
Flying away
Crossing the dark street of desire


Wings on fire, tearing into the night
Screaming into the light of another day
Carry me out the hurricane
Into the smoke and flame and we’ll fly away
And we’ll rise right before their eyes
On wings that fill the sky
Like a phoenix rising
Like a phoenix rising
….
[ innihilator ]
Annihilator
tulisan kayak gini bagus. artikel yg ringan n nyantai.. detailnya manusia karena yg nulis ternyata bukan android
tar mesen yg kayak gini satu ya
Gus, kamu mesen apaan sih sama Endah… bisnis pertulisan kalian ini mencurigakan,… #efekgakdiajak
phoenix…??? jd penasaran nih…