Simpati

Tulisan ini gue buat tahun 2006, tepatnya 26 April 2006. Belum pernah dimuat dalam blog, karena memang tadinya cuma untuk koleksi pribadi. Tapi setelah dibaca-baca, rasanya tak ada salahnya berbagi tulisan ini ke umum.

Senin pagi, 24 April 2006… gue bangun pagi, siap untuk menjalankan rencana gue pagi itu. Hari ini gue berencana untuk refreshing menikmati liburan gue ke Anyer dengan Nenni dan Raya. Tapi seperti biasa rutinitas bangun pagi gue selalu diawali dengan mengecek hp gue, ada 3 sms dan salah satu diantaranya berita duka. So planning gue berubah, gue segera mandi dan berangkat untuk layat.

Bisa diitung berapa kali gue layat, hari ini adalah kelima kalinya. Pertama kali gue ngelayat adalah jaman gue SMP kelas 1, rombongan kelas diliburkan karena yang meninggal adalah salah satu temen sekelas gue. Pengalaman pertama yang cukup buruk, karena semua bisa nangis nunjukin rasa simpati, kecuali gue. Ga tau kenapa gue seperti orang yang ga punya hati, cuma bisa diem.

Pengalaman kedua, Rabu 6 Mei 1998, bokapnya Suzie (Suzie adalah salah satu sahabat gue di SMU). Gue udah berencana untuk gak hadir, karena gimana gue bisa ngadepin sahabat gue di saat dia sedih, gue ga tau harus berkata-kata apa. Tapi malem Rabu itu Bunga telepon, dan dia ngajak gue untuk layat, karena gue udah dianggap bagian dari persaudaraan mereka. Ternyata tidak semenakutkan pengalaman pertama gue. Suzie dan keluarga begitu tenang, ga ada tangis, cuma ada pelukan bersahabat bahkan dia bisa bercanda di saat-saat seperti itu.

Pengalaman ketiga, September 1999, peristiwa Semanggi 2. Saat itu gue dan beberapa temen gue sedang ada di rumah gue, kami sedang mengerjakan tugas, ketika Tika mendapatkan telepon dari pacarnya. Dia menyampaikan kabar bahwa YapYun Hap meninggal, dia menyuruh kami untuk menghidupkan televisi karena beritanya ditayangkan berulang-ulang. Ketiga temen gue, langsung nangis di kamar gue, sementara gue cuma bisa diem, ga tau harus berkata-kata apa. Gue samar-samar, ga yakin Yun Hap meninggal, karena sore itu gue masih ngobrol dengan Yun Hap waktu dia akan berangkat demo. Esok paginya, kami bertiga (karena salah satu teman gue memutuskan untuk duluan berangkat) segera berangkat ke rumah duka. Serasa pengalaman pertama gue berulang, ketakutan gue terulang lagi, gue ga bisa ngungkapin perasaan gue.

Pengalaman keempat, 14 Februari 2001, gue dan temen-temen gue mengenakan kostum yang cukup cerah siap untuk jadi abg yang ngerayain hari ga penting. HP gue berdering (saat itu belum musimnya sms), berita duka, bokapnya Gentur meninggal. Gentur adalah sahabat terdekat gue, berat banget gue untuk dateng, gimana gue harus ngadepin sahabat gue di saat dia lagi ditimpa musibah gue terlalu kaku untuk bisa nunjukkin bahwa gue bersimpati. Tapi kami akhirnya dateng bertiga, di situ gue lihat Gentur begitu tenang, dan gue salaman dengan begitu kakunya ke dia. Untung Gentur sahabat gue tau dan kenal betul gue, bahwa jarang banget gue dateng ke layat, dan tau banget bahwa gue ga tau cara bersikap.

Gue termasuk orang yang takut untuk ngelayat, karena gue ga tau gimana harus bersikap, gue ga tau gimana cara nunjukin rasa simpati gue. Sebenernya ada beberapa peristiwa musibah yang gue ga tau harus gimana, di antaranya musibah meninggal, sakit, diputusin pacar, kehilangan pekerjaan, dipenjara dan banyak lagi. Entah kenapa, hal-hal seperti itu tidak diajarkan di dunia akademis dan tidak ada kursusnya. Hal tersebut harus dipelajari sendiri dari kesensitifan terhadap lingkungan dan karena kurang pekanya gue terhadap lingkungan gue ga tau harus bertindak apa. Bahkan waktu salah satu rekan kerja gue ditimpa musibah tersebut, dan harus ke luar kota karena ayahandanya meninggal. Gue ga tau harus ngirim sms seperti apa, saat itu gue minta tolong temen gue yang kebetulan masuk bareng, untuk ngetik sms dan mengirimkannya atas nama kami berdua.

Sepertinya manusia memang harus selalu belajar, belajar tidak harus selalu yang bersifat akademisi, tapi pembelajaran sikap juga penting. Terkadang gue kurang pas dan kaku dalam mengekspresikan hal-hal yang gue rasa. Semoga semua temen-temen gue mendukung gue untuk segala proses pembelajaran dalam hidup gue, di mana pembelajaran ini ga ada nilai di atas kertas. Ga ada sertifikat kelulusan, yang ada hanyalah kemampuan gue dalam bertindak dalam situasi yang sesuai. Terima kasih untuk sahabat-sahabat gue yang begitu mengenal gue dan memaklumi sikap-sikap gue selama ini, gue akan berusaha untuk terus memperbaiki my attitude.

Dan bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan atas musibah ini…

About these ads

One Response to Simpati

  1. angga says:

    saya pun begitu…pengalaman kamu dengan saya sama dan serupa,,,,hari ini saja ada tetangga meninggal di kontrakan saya,istri dan anak saya tinggal..saya baru beberapa hari tinggal di kontrakan sudah dihadapkan demikian..
    saya trauma mau dateng gimana,,ga dateng gimana,,,stress,,,
    saya bingung bersikap,,terus nanyanya gimana,,,mau ngobrol sama yg belum kenal..
    kamu punya solusi gak?

    angga
    bandar lampung, 08 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 866 other followers

%d bloggers like this: