Resepsi Pernikahan

Ketika obrolan ini dilakukan, gue dan seorang sahabat gue yang juga masih jomblo sedang duduk-duduk di lounge sambil menunggu film bioskop diputar.

Gue: Gar, kalau nikah, lo mau pake resepsi atau nggak?

Dia: Maksudnya? Lo ngajakin gue nikah gitu?

Gue: Bukaaaan, tapi sampai sekarang gue nggak ngerti manfaat resepsi pernikahan.

Dia: Ya itu namanya syukuran, membagi kebahagiaan dengan orang lain yang diundang.

Gue: Tapi apa iya orang yang diundang akan merasakan kebahagiaan? Bukannya kadang orang-orang yang diundang jadi serba salah? Kadang jadi terpaksa datang juga, belum lagi kalau banyak resepsi yang harus didatangi. Gue lihat status facebook orang ada kok yang ngeluh karena di hari itu tanggal tua jadi harus keluar duit juga untuk ngasih amplop di resepsi. Belum lagi kalau ada undangan yang bentrok. Jadi bingung sendiri kan mau datang resepsi yang mana. Banyak uang dan waktu yang terbuang percuma, orang yang menikah harus keluar banyak dana untuk resepsi toh yang datang juga harus keluar duit, tapi itupun gak balik modal. Sayang kan kalo uang segitu banyak kebuang hanya untuk satu hari saja, itu pun bukan satu hari penuh, tapi hanya beberapa jam saja. Sedangkan pernikahan itu kan maunya untuk selamanya, jadi jangka waktunya lebih panjang. Mending dananya buat modal bangun rumah tangga yang baru dibentuk. Trus apa iya bagi-bagi kebahagiaan? Gimana dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul buat orang yang masih jomblo di resepsi itu, kadang kan ada yang iseng ngelontarin pertanyaan “kapan nyusul?” nah itu malah bisa bikin orang jadi risih. Bagi gue resepsi pernikahan itu nggak praktis.

Dia: Gue sih setuju saja sama elo, mungkin keluarga gue bisa untuk terima gak ada resepsi. Tapi terkadang keluarga cewe atau cewenya sendiri kan gengsi untuk gak ngadain resepsi. Ya kadang itu jadi ajang untuk pamer juga.

Gue: Ya karena memang sudah dibentuk paradigma yang seperti itu. Tapi coba lihat deh, gue pernah tulis di salah satu blog gue, judulnya Ide itu Punya Kaki. Di tulisan itu gue kasih contoh, gimana ada pergeseran nilai resepsi itu sendiri. Dulu ngasih uang atau amplop itu kan sempat dianggap tabu, normalnya dulu bawa kado atau bingkisan. Tapi berkat ada yang berani membuat dobrakan dengan menyisipkan sepotong kertas di undangan yang isinya kira-kira “tanpa mengurangi rasa hormat, mohon hadiah tidak dalam bentuk bingkisan/karangan bunga”. Awalnya hal itu kan terasa aneh. Tapi lama-lama jadi biasa, yang akhirnya tanpa sisipan potongan kertas itu orang inisiatif untuk ngasih amplop uang aja ke resepsi. Padahal tanpa itu, awalnya pasti sama-sama bingung. Si mempelai dapat begitu banyak barang yang jenisnya hampir sama akhirnya jadi nggak terpakai, dan tamu yang diundang juga agak repot cari-cari bingkisan. Kalau di luar negeri mungkin ada juga yang agak nyentrik dengan menyertakan daftar kado yang dibutuhkan lengkap dengan tempat barang itu bisa dibeli saat ngirim undangan. Tapi kan kalau tamunya ratusan jadi ga efektif juga.

Dia: Iya juga sih Ndah, tapi mungkin sifatnya lebih ke pengumuman bahwa kedua mempelai sudah menikah. Kalau menurut gue, biar nggak repot pasang saja pengumuman iklan telah menikah di koran ya?

Gue: Hmm, menurut gue masih nggak efektif sih, soalnya kan pasang iklan di koran juga tetap keluar uang, dan belum tentu kena sasaran. Toh belum tentu teman-teman dekat yang kenal baca, malah yang baca kemungkinan orang-orang yang ga kita kenal. Sebenarnya ada lho solusi yang lebih murah dan kena sasaran kalau memang sifatnya cuma berupa pengumuman. Pasang saja di jejaring sosial, seperti Facebook atau Friendster. Daftar teman-teman kita kan pasti orang-orang yang kita kenal, jadi mereka dapat informasinya bukan orang lain dan gratis pula. Mungkin gak ya, dari peralihan resepsi pernikahan yang tadinya tanda suka cita dikasih dalam bentuk bingkisan ke uang, bisa beralih lagi, jadi tanpa resepsi dan cukup pengumuman di Facebook.

Obrolan kami pun terputus, karena sudah ada panggilan untuk studio tempat film yang akan kami tonton diputar.

8 Responses to Resepsi Pernikahan

  1. ruli says:

    halo…saya suka sekali tulisan ini.kebetulan saya juga dlm kebingungan tuk menikah tanpa resepsi atau dg resepsi. terimakasih. ^_^

  2. Endah says:

    di tahun 2012 ini, sahabat gue berubah statusnya menjadi calon suami gue :)

  3. v3mutiara says:

    Endah… how are you? iseng find friend eh ketemu deh…

    jadi kalau skrg tuh calon suami dah jadi suami lom? :)

  4. Anonymous says:

    Waaa jd pake resepsi gak? Atau dah pengumuman di fb.

  5. Endah says:

    jadi tanpa resepsi, di tanggal 8 Januari 2014, saya menikah dengan sahabat saya yang saya ajak diskusi ini, tetapi ternyata dia dipanggil Tuhan duluan di 10 April 2014 :(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 789 other followers

%d bloggers like this: