Merantau

August 16, 2009

MerantauPoster

Sebenarnya gue nonton film ini lebih dahulu ketimbang nonton Merah Putih, tapi semangat mencela film ini masih rada mending jadi masih bisa gue tunda reviewnya. Film ini disutradarai oleh Gareth Evans, tapi jangan berharap film ini bisa sekelas film-film holywood. Film ini lebih kacangan ketimbang film-film karya anak bangsa. Adegannya agak-agak over, terutama adegan yang berlinangan darah. Warna darah kadang-kadang pink, kadang merah kadang ungu. Baik aktris dan aktor ga terlalu jauh dari make up lebam-lebam dengan nuansa pink dan ungu.

Dimeriahkan oleh aktris kawakan Christine Hakim dan aktor favorit gua, Dony Alamsyah. Bintang utama film ini adalah pendatang baru, yaitu Iko Uwais yang berperan sebagai Yuda. Konon dia dipilih karena memang pesilat kawakan. Dari segi tampang lumayanlah dengan gigi gingsulnya. Tapi lafal dialog kurang jelas, entah memang disengaja untuk menggambarkan bahwa dia putera daerah atau memang aslinya begitu. Dari segi cerita, sedikit ada kematangan, setidaknya sutradara tidak terlalu bingung mengarahkan alur cerita. Tentang seorang anak laki-laki yang secara adat Minangkabau harus merantau sebagai salah satu tradisi. Di perjalanan dia bertemu dengan seorang pesilat juga yang nantinya akan beberapa kali bertemu sampai akhirnya harus bertarung. Agak OOT pesilat lain yang bernama Eric ini diperankan oleh Yayan Ruhian yang muka monyongnya bikin gue dan temen gue tertawa tergelak-gelak sepanjang film. Sumpah nggak lucu, tapi karena mirip seseorang, yang seharusnya adegan menegangkan malah bikin ketawa.

Read the rest of this entry »


Merah Putih

August 14, 2009

merah-putih

Seandainya Sinema-Indonesia.com masih aktif mereview film-film Indonesia, gue yakin, film “Merah Putih” yang konon skenarionya ditulis oleh dua orang bule bernama Connor Allyn dan Rob Allyn akan meraih nilai lima kancut atau lima kolor. Entah apa yang ada di otak dua orang bule ini, dari segi cerita yang diangkat alurnya aneh, ngalor ngidul gak jelas. Tidak ada konflik yang matang, serta tidak ada karakter yang kuat dari setiap tokohnya.

Jika menonton film ini, dijamin, sinetron Indonesia jadi akan terlihat lebih bermutu. Betul-betul miris rasanya menjalani siksaan menonton film ini. Rasanya aktor-aktor muda yang terlibat dalam film ini seperti bunuh diri bersama dalam karir akting mereka. Padahal tiga aktor yang berperan dalam film ini merupakan favorit saya, yaitu Lukman Sardi sebagai Amir, Dony Alamsyah sebagai Tomas dan T. Rifnu Wikana sebagai Dayan. Ketiga aktor tersebut sering tampil di layar lebar walaupun sekadar sebagai pemeran pembantu. Lukman dan Dony pernah bermain bareng dalam Sembilan Naga dan T. Rifnu Wikana, selain sering mendapat peran pembantu juga aktif dalam teater. Selain ketiga aktor tersebut, ada juga dua badut tambahan yang berperan sebagai tokoh-tokoh utamanya, yaitu Darius dan Zumi Zola. Terus terang gue sebenernya bingung juga, siapa tokoh utamanya saking tidak adanya karakter yang kuat.

Read the rest of this entry »