Mereka Bilang, Saya Monyet!

sukses dengan novelnya yang menjadi best seller, maka film dengan judul yang sama ini pun berhasil meraih beberapa penghargaan. Film ini mengisahkan mengenai Adjeng (Titi Sjuman) seorang penulis lepas yang tinggal sendiri di apartemennya.

Awalnya dia hanya menulis lepas di majalah anak-anak, hal tersebut tidak memuaskan dirinya. Karena dia menulis berdasarkan orderan, tak bisa mengekspresikan kreativitas. Akhirnya dia menghadap sang pemred yang diperankan oleh Arswendo Atmowiloto. Dan mengajukan untuk berhenti di menulis di majalah anak-anak karena ingin menulis sesuatu yang lebih serius. Seorang penulis lepas di majalah anak-anak, tinggal di sebuah apartemen. Mungkin hal ini menimbulkan pertanyaan. Berapa sih honor penulis lepas?

Film ini alurnya maju mundur, sering terlihat kilas balik ke masa kecil Adjeng. Bagaimana ibunya (Henidar Amroe) bercerai dengan ayahnya. Ibunya sangat keras pada dirinya. Ketika dia tak mau makan sayur dan memuntahkannya ke toilet, dia harus memakannya lagi langsung dari toilet. Si ibu memiliki pacar baru yang muda, diperankan oleh Bucek Depp. Adjeng menyebut pacar ibunya ini dengan julukan lintah yang dibuatkan kamar di rumahnya. Ternyata si lintah ini pun sempat memanfaatkan Adjeng dengan menggerayangi tubuh Adjeng.

Kembali ke masalah apartemen. Adjeng jatuh cinta dengan seorang penulis senior, Asmoro (Ray Sahetapi). Mereka sering bercinta dalam apartemennya. Pernah di suatu kesempatan Adjeng meminta masukan pada Asmoro mengenai naskah novelnya. Banyak kritik dan masukan dari Asmoro, namun Asmoro tetap memasukkan juga naskah tersebut di media dan mendapat penghargaan.

Sayangnya, beberapa orang justru menggunjingkan perihal naskah tersebut. Mungkinkah seorang penulis muda bisa menulis sepiawai itu. Pasti itu semua karena hasil mentoring khusus dari sang senior. Gue agak tergelak dengan adegan ini, sedikit sindiran menyentil untuk penulis idola gue. Tapi justru Adjeng sendiri berpendapat nama Asmoro justru diperbincangkan lagi setelah naskah tersebut mendapat penghargaan. Karya tersebut murni karya Adjeng tanpa campur tangan Asmoro. Walaupun penulis senior, namun Asmoro bukan ornag yang berada. Ibu Adjeng dan teman-teman ngerumpi Adjeng sering menyebutnya seniman kere.

Lalu siapa yang membayari apartemen Adjeng? Ternyata ada seorang pengusaha kaya yang diperankan oleh Joko Anwar yang tergila-gila pada Adjeng. Di ending film ini Asmoro meninggalkan Adjeng dan mengatainya sundal. Karena demi dapat bertahan di apartemen tersebut, apartemen yang Asmoro juga nikmati agar bisa asyik berhubungan mesra dengan Adjeng, Adjeng harus rela ditiduri oleh si pengusaha kaya.

Miris dengan berbagai konflik yang terjadi.. tapi membuat kita membuka mata inikah realita yang terjadi di masyarakat? Penulis muda selalu diklaim mendompleng nama penulis senior. Sementara belum tentu kreativitas penulis senior masih bisa bertahan dan bersaing dengan penulis-penulis muda yang bermunculan…

Leave a Reply