Integritas, harga matikah?

January 5, 2008

Integritas adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam bisnis. Ingkar janji, tidak menepati komitmen yang disepakati, lari dari tanggung jawab bagi orang yang tidak memiliki integritas adalah hal yang sepele. Mereka juga mungkin tidak merasakan dampak dari kosongnya integritas yang dimiliki.

Bagi mereka yang sudah mengeruk keuntungan besar tanpa integritas, ada kemungkinan kejayaannya tidak dapat terus berkembang atau bahkan tidak berumur panjang. Karena apa? Terkadang rejeki orang lain disabet juga, ngemplang dari kewajiban, hal-hal tersebut dapat membuat orang lain kecewa. Kekecewaan seseorang biasanya akan mengendap di dalam hati walau terkadang tidak diungkapkan. Dan sayangnya roda kehidupan akan terus berputar. Ada kalanya orang yang terkadang di atas akan turun, sementara orang yang tadinya tertindas bisa sebaliknya berbalik arah menjadi pemilik kewenangan yang lebih tinggi (huh! I wish, is this true?).

Perasaan kecewa yang masih terpendam dari orang yang kesepakatan komitmennya diingkari tentu saja akan membuatnya urung untuk kembali berbisnis dengan orang yang tidak memiliki integritas. Tentu saja hal inilah yang salah satunya dapat menjadi kemunduran bagi orang-orang yang tidak memiliki integritas. Bahkan jika ternyata memang roda kehidupan tersebut tidak ada. Kemiskinan akan integritas juga dapat mempengaruhi kejayaan bisnis. Salah satu contohnya dengan mengutip kasus yang diungkapkan oleh Benny Wenas pada salah satu seminar yang saya ikuti.

Pak Benny Wenas jelas memisahkan antara kawan bermain golf dan teman berbisnisnya. Dalam suatu permainan di lapangan golf, integritas seseorang dapat terlihat betul. Ketika mereka sudah bertaruh dalam jumlah besar dalam suatu permainan, namun tidak menjunjung komitmen mereka dengan membayar apa yang sudah disepakati. Bahkan terkadang sejuta alasan diungkapkan, baik dari jumlah pukulan bola, maupun dengan memasukkan bola yang sebenarnya tidak masuk. Orang-orang seperti itu sudah jelas bukan orang yang pantas untuk menjadi teman berbisnis. Dari perkara yang sepele saja sudah ngemplang, apalagi jika sudah masuk ke bisnis yang lebih besar lagi.

So kini kembali ke kita semua, Apakah kita masih menjunjung integritas setinggi mungkin?

Terus terang, saya sendiri sangat benci dengan orang yang tidak memiliki integritas…


Pensiun

January 2, 2008

Mungkin orang bingung, orang berdedikasi jadi kacung kayak gue kok mau pensiun.. Tapi bener deh rasanya gue mau pensiun dari iming-iming nulis buku, bukan.. bukan karena gue kapok nulis diiringi aktivitas televisi yang menayangkan sinetron tanpa suara. Nyatanya gue kemaren sempat iseng mengaktifkan audio sinetron tersebut.. yaiks.. ternyata cowo abg seger yang tampangnya sering gue pelototin itu cara ngomongnya aja bikin ilfil.. langsung aja tv gue matiin.. cek rekening, lom ada tanda-tanda.. *keluh* apa gue besok ngantor aja ya.. seenggaknya kantor itu masih ngegaji gue.

Buku ketiga yang gue pikir selesai, ternyata tidak semulus dugaan.. kudu banyak revisi di sana sini, yang kadang menurut gue dengan ide yang gak rasional.. haaa buka konter hp sebelum jam 8 pagi buat ngejar orang yang berangkat kerja.. gak mungkin lah buuu.. orang berangkat kerja, apalagi di jakarta orientasinya cuma 1, yaitu sampe kantor ga telat. Masalah pulsa tinggal sms atau telpon temen, minta isiin, atau isi sendiri.. haree geneee, belum kenal pulsa isi ulang elektronik ya buu? Atau kalo emang mo nyari konter voucher, mungkin kalo cowo sambil ngecengin mbak2 tukang jaga konter yg biasa di lakukan temen gue, biasanya dilakukan siang ato malam hari.. jarang-jarang pas berangkat kerja..

Read the rest of this entry »