300

March 31, 2007

Nih film keren banget, maaf ya Toer, gue ga jadi nonton bareng elu. Tapi gue tonton malem itu juga begitu lo ngasih tau film yang bagus. maklum jarak rumah gue ke 21 bisa gue tempuh dengan jalan kaki.

Film ini cukup membuat gue tergugah untuk belajar sejarah Yunani dan Romawi saking kerennya. Gimana tangguhnya Raja Leonidas memimpin pasukan yang cuma berjumlah 300 orang untuk ngelawan Persia yang jumlahnya jutaan.

Diawali dari masa kecil Leonidas yang dilepas di pegunungan salju dan harus menghadapi serigala. Begitu balik ke tanah airnya dia langsung dijadikan Raja.

Tapi satu hal yang perlu kita ingat, jangan pernah berusaha belajar sejarah berdasarkan film Hollywood yang tentu aja terlalu dihiperbolakan. Film ini hanya bersifat penghibur belaka. Soalnya dalam sejarah pakaian perang 300 pasukan Sparta ini benar-benar baju besi yang dijamin melindungi dengan baik. Dan tidak cuma 300 orang yang dibawa oleh Raja Leonidas, tapi ada ribuan pengiring yang membawakan peralatan, yah semacam pembantu umum gitu deh.

Selain itu, tokoh Xerxes yang digambarkan kek jin di pelem indonesa jaman dulu… hueh, jangan bayangin kek gitu deh. Sumpah beda banget sama Xerxes yang asli, Xerxes yang asli adalah manusia biasa jaman dulu yang konvensional pake jenggot dan rambut gondrong ikal.

Tapi secara grafis emang film ini bagus banget. Kabarnya tempat yang benar-benar nyata dalam pembuatan film ini cuma satu. Sisanya efek semata. Jadi shootingnya di ruang blue screen gitu deh.

Nasihat Leonidas waktu ninggalin permaisurinya adalah, orang Sparta itu ga boleh cengeng sama perpisahan. Seorang Sparta harus tegar dalam berbagai kondisi. Cowo paling keren dalam film ini adalah anak komandan pasukannya si Leonidas. Sayangnya dia mati kepenggal. Hiks si cowo ganteng ini mati kepenggal tepat setelah si Bapak muji dia.. hu hu hu sedih…

Di film ini juga ada penghianat yang udah sempat nodai permaisuri Leonidas, gue suka juga sama perjuangan si permaisuri.


Veronika Decides To Die

March 31, 2007

Gue baca buku ini iseng waktu jaga booth di PGN, kebetulan temen gue nenteng-nenteng buku ini.

Ceritanya tentang Veronika yang memutuskan untuk bunuh diri dengan menelan beberapa butir pil obat karena sudah merasa hampa dengan hidupnya. Namun di surat pamit dia mengatakan alasan dia bunuh diri adalah tidak ada yang tahu di mana letak Slovenia.

Terbangun di rumah sakit jiwa Vilette, ternyata Veronika tidak berhasil bunuh diri. Namun dia diberitahu oleh dokter bahwa dia mengalami masalah dengan jantungnya akibat obat yang dia pakai untuk bunuh diri. Maka hari demi hari dia lewati secara berbeda karena anggapan bahwa ajalnya sudah dekat.

Di rumah sakit jiwa itu dia bertemu dengan 3 tokoh lain yang memiliki berbagai alasan kenapa harus berada di Vilette.

Zedka yang memilih untuk tinggal di Vilette untuk menjalani terapi injeksi yang bisa bikin dia nikmati sensasi pengalaman meninggalkan badannya. Jadi bisa nemuin cowo rekaannya.

Mari yang bekas pengacara, terpaksa tinggal di Villete karena beberapa kali mengalami panik yang luar biasa. Karirnya tentu saja berakhir seiring dengan catatan dia pernah masuk RSJ. Cobaan terhadap dirinya datang bertubi-tubi, begitu masuk Villete, datang pengacara dari biro hukum kompetitornya. Bukan tawaran kerja untuk pindah ke biro hukum tersebut, ternyata pengacara tersebut menyampaikan surat cerai yang diajukan suaminya untuk Mari tandatangani. Mari yang banyak pengalaman ini banyak memberi wejangan pada Eduard dan Veronika.

Eduard adalah seorang anak diplomat yang menjadi gila karena orang tuanya tidak menyetujui pilihan karir untuk menjadi seniman. Sang ayah ingin Eduard mengikuti jejaknya menjadi seorang diplomat. Akhirnya Eduar malah mengidap Schizophrenia, yang memiliki dunia sendiri dalam imajinasinya.

Veronika jatuh cinta pada Eduard yang tampan dan sering bermain piano dengan indahnya untuk Eduard. Veronika juga tidak kesampaian jadi pianis dan menjadi seorang penjaga perpustakaan, padahal pendidikannya hukum


The Good Shepherd

March 31, 2007

Karena lagi kecanduan film-film yang pake latar sejarah dan dunia agen rahasia. Akhirnya gue nonton film ini sama temen gue yang lagi baik mo traktir he he he…

Di sini Matt Damon jadi Edward Wilson, agen CIA yang bokapnya bunuh diri. Sang bokap ninggalin surat bersegel yang belum dia buka sampe akhirnya dia buka juga di akhir film.

Awalnya Edward dekat sama cewe tuli yang dia temui di perpustakaan. Tapi di pertemuan Klub persaudaraanna Skull and Bones, dia ketemu adik cewe temennya yang akhirnya dia nikahin. Clover yang diperanin Angelina Jolie ini emang digambarkan agresif duluan, tapi dia setia sampe anaknya tumbuh besar dan ingin ngikutin cita-cita bokapnya.

Seluruh kehidupan Edward penuh dengan kerahasiaan, sampe-sampe dia mengindahkan istri dan anaknya sendiri. Ketika si anak beranjak dewasa dan punya pacar, ternyata si anak menceritakan rahasia tentang ayahnya ke si cewe. Salah satu agen rahasia teman Edward menawari pilihan, jika memang setuju terhadap pacar anaknya itu, maka cewe tersebut akan dibiarkan hidup. Sementara jika tidak setuju dengan senang hati mereka akan mengahabisi nyawa perempuan tersebut.

Entah bagaimana ketika pacar si anak dibunuh dilempar dari pesawat. Clover langsung tahu bahwa Edward yang menyuruh untuk membunuh calon istri anaknya tersebut.

Si anak terlihat agak shock, dan memberi tahu ayahnya bahwa calon istrinya tersebut sedang mengandung.

Film yang menggambarkan periode waktu tahun 1930an hingga 1960an ini cukup menarik jika kita jitu mengamati tahun-tahun adegan tersebut. Karena film ini disusun dengan alur yang maju mundur.

Kekejian para agen rahasia ketika berusaha menguak orang yang dicurigai, hingga orang tersebut memutuskan bunuh diri. Padahal justru orang tersebut adalah orang yang asli, yang jati dirinya telah diambil alih orang yang menjadi teman Edward sendiri.

Diwarnai intrik-intrik dan bumbu pertentangan batin, film ini cukup berbobot.


Nagabonar Jadi 2

March 31, 2007

Di Nagabonar Jadi 2 ini Lukman Sardi berhasil membuktikan kepiawaian berakting. Entah bagaimana maaf aja deh buat 2 badut Ully Herdinansyah dan Darius Sinatrhya mending balik fokus aja jadi presenter, abis gaya mereka berdua nih yang seharusnya akting jadi businessman kok gayanya masih gaya selebriti gitu.

Dedi Mizwar sendiri cukup OK, tapi ya itu.. terlalu menekankan kutipan kalimat terkenal di film Nagabonar, “Sudah kubilang jangan bertempur…”. Mungkin berusaha membangkitkan ketenaran kalimat itu. Akting Tora Sudiro sendiri sang peraih piala citra, kok gak maksimal yah…

Kayaknya predikat aktor sejati Indonesia sekarang justru lebih pantas melekat pada Lukman Sardi. Karena gue benar-benar bisa ngelihat karakter yang bener-bener beda antara karakter dia di Sembilan Naga, Berbagi Suami, dan terakhir gue lihat di Nagabonar Jadi 2. He is completely a different person in each movie. Seperti layaknya gue nonton film-filmnya Dustin Hoffman, Antony Hopkins, Tom Hanks dan Russel Crowe.

Beda banget ketika ngeliat Tora Sudiro, yang gue lihat ya seorang Tora, sama aja kaya’ gue liat film-filmnya Tom Cruise atau Jim Carey. Yang gue lihat ya tokoh-tokoh itu. Sementara badut ketiga yang jadi Jackie, si Arab bagian ngurus pajak cukup lumayan lah dibanding 2 badut awal. Walaupun justru masih kalah sama tokoh yang jadi polisi waktu nyetop bajaj yg ga boleh lewat jalanan tertentu.

Bagian casting gimana yaaa.. apa asal comot aktor yang sedang tenar untuk mainin film itu? Indra Birawa sendiri ga terlalu jelek, malah gue pikir dia lebih pantas main jadi tokoh ngegantiin 2 badut tadi. Atau karena takut disangka terlalu Extravaganza atau D’Bijis, jadi dia ga dipasang ngedampingin si Tora.

Mungkin ada baiknya aktor-aktor yang belum terlalu tenar dengan kemampuan akting lebih baik dipasang untuk ngegantiin kedua badut itu. Atau minimal dandanan 2 badut itu diganti aja, biar lebih mirip businessman.

Tapi secara keseluruhan, film ini lumayan bagus dibanding Bean.