March 31, 2007

Film ini tentang seorang mafia (Frank Costello) yang udah ngerekrut orang dari kecil untuk dijadiin mata-mata di kepolisian. Waktu anak ini(Collin Sullivan) udah lulus dari sekolah kepolisian dia ditempatkan di bagian penyidikan yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus Costello.
Tapi dari sisi kepolisian sendiri bukan tidak tahu menahu mengenai hal tersebut, untuk mengetahui siapa informan Costello maka mereka juga menempatkan orang (William Costigan Jr.) untuk menyusup pada gank Costello tersebut.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Movie Review |
Permalink
Posted by rorygilmore
March 31, 2007

Sumpah ini film paling jayus yang gue tonton. Nggak ada lucu-lucunya, joke-nya sekelas sama Warkop DKI. Entah gue nyesel banget nonton film ini. Tadinya sih gue mau nonton Nagabonar Jadi 2, tapi apa daya lupa liat jadwal dan satu-satunya film yang belum gue tonton di 21 Plaza Semanggi cuma film ini. Udah gitu sempat papasan sama orang item dekil jelek yang baru keluar dari toilet dengan senyum sinis, benar-benar bikin gue keilangan mood untuk nonton.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Movie Review |
Permalink
Posted by rorygilmore
March 31, 2007

Kalo lo udah nonton film Somewhere in Time, dan suka betapa bagusnya film ini dengan ending yang menyedihkan karena dua orang yang dipisahkan jarak waktu berbeda tidak dapat bersatu, maka lebih baik tidak usah nonton The Lake House.
Film ini tidak menarik bagi gue, karena dari segi cerita banyak yang meleset. Kalau mau dipas-paskan ya nggak pas aja, si tokoh berhasil merubah kejadian di waktu yang akan datang sesuai dengan keinginannya. Ampun deh, pernah nonton Butterfly Effect gak sih. Kadang waktu kita ngubah hal kecil dalam sejarah, efeknya bisa nggak terduga di masa yang akan datang.
Ini bener-bener film romantis picisan yang cuma pantes ditonton anak ingusan. Film ini cuma ngejual tampang Keanu Reeves dan Sandra Bullock aje…
Leave a Comment » |
Movie Review |
Permalink
Posted by rorygilmore
March 31, 2007

Cerita ini tentang Iris (Kate Winslet), cewe Inggris sederhana dan Amanda (Cameron Diaz) cewe Amrik banget yang tukeran rumah untuk nyari suasana baru gara-gara abis putus sama mantan pacar.
Iris adalah seorang penulis yang ditinggal oleh pacarnya yang sama-sama seorang penulis. Si pacar ini ternyata memutuskan untuk menikahi wanita lain, walaupun masih sering meminta bantuan Iris untuk mereview tulisan-tulisannya. Iris memiliki rumah mungil di kampung terpencil di Inggris.
Di belahan dunia yang lain, Amanda seorang producer thriller film dengan rumah yang serba lengkap dan mewah, memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan pacarnya yang pernah berselingkuh. Dari awal menurut gue solusi Amanda yang mencari suasana baru dengan cara nyari rumah terpencil adalah benar-benar salah besar. Based on my own experience, pas lo ga ada siapa-siapa alias sendirian, justru saat-saat itu bener-bener potensial bikn lo keinget lagi sama sesuatu yang justru mau lo lupain.
Tapi yah berkat pertukaran tempat itu banyak kejadian-kejadian tak terduga (versi mereka, kalo versi penonton sih udah ketebak banget, maklum lah film romantis gene) yang justru mengantarkan mereka pada pacar-pacar baru yang berbeda kewarganegaraan.
Kelemahan film ini justru karena happy ending. Seandainya film ini berakhir sedikit sedih mungkin justru akan lebih menarik dan sedikit mempengaruhi emosi penonton.
Leave a Comment » |
Movie Review |
Permalink
Posted by rorygilmore
March 31, 2007

Lumayan keren nih film, mungkin karena gue paling suka cerita yang pake latar belakang sejarah. Kelihatannya ceritanya memang konyol, gimana sebuah foto bisa menjadi konflik nasional.
Tapi di sini kita bisa melihat karakter sesorang yang pemberontak namun tidak munafik, tokoh indian ini (dia main juga di film Windtalker) tidak mau disebut pahlawan karena pasukan dia memang bukan pasukan yang berjasa memperjuangkan hingga bendera itu berhasil dikibarkan. Bendera yang mereka kibarkan hanyalah bendera imitasi pengganti. Mereka menjadi pahlawan hanya karena berada dalam foto pengibaran bendera imitasi tersebut saja.
Lain halnya dengan temannya yang begitu menikmati popularitas menjadi pahlawan, ditambah cewe pacarnya yang pengen sok ngetop juga. Namun orang yang seperti itu toh nantinya tidak akan jadi orang yang berarti. Pada akhirnya dia hanya menjadi seorang janitor yang tidak dikenal.
Lain halnya dengan si Indian pemberontak ini yang dari awal tidak ingin diekpos menjadi pahlawan. Di saat-saat terakhir hingga dia mati, dia masih memiliki karakter yang kuat.
Jadi ingin seperti siapakah Anda? Orang yang aji mumpung menikmati sesuatu yang bukan haknya, ataukah orang yang memiliki karakter kuat, rela untuk meninggalkan apa yang disodorkan demi tidak mengingkari hati nurani.
Leave a Comment » |
Movie Review |
Permalink
Posted by rorygilmore
March 31, 2007

Terus terang gue nonton film ini dengan penuh perasan bersalah ke Gentur karena udah nonton 300 duluan, akhirnya gue ajaklah dia nonton Texas Chainsaw Massacre.
Tapi ternyata ini bukan solusi yang bagus, soalnya dulu pun gue pernah nonton TCM versi kedua (yang bukan versi Renee Zelwegger) sama Gentur. Dia udah protes sih, kenapa nonton TCM kan udah pernah. Gue bilang yang ini beda, ini awalnya.. kan ada embel-embel The Beginning.
Ternyata gue salah besaaaaaar, film ini ga ada bedanya sama TCM versi kedua. Sama persis, cuma yang main aja beda.
So buat elo-elo yang udah nonton TCM sebelumnya, mending hemat aja duit lo, ga usah nonton film ini.
BTW, orang di kiri dan kanan gue pada nutup mukanya waktu nonton film ini. Gue bingung, ini kan cuma gambar bergerak di layar, gak mungkinlah darah yang bermuncratan itu nyipratin muka penonton.
He he he…
Leave a Comment » |
Movie Review |
Permalink
Posted by rorygilmore
March 31, 2007

He he he… tadinya gue ga mo nonton film ini, karena gue pikir ya gitu deh another film romantis yang bikin gue bete, mengingat gue masih berkabung mengenang almarhum cowo gue.. hiks hiks hiks…
Gue nonton berempat bareng Evi, Lydia dan Celly. Ceritanya tentang Alex Fletcher bekas bintang PoP, ben jayus tahun 80-an (kok gue berasa PoP nih plesetan dari WHAM yah) yang udah pecah. Alex disuruh bikin lagu untuk dinyanyiin bareng penyanyi abg yg lagi ngetop yaitu Cora Corman. Tapi Alex ternyata ga bisa nyusun lirik.
Secara gak sengaja, Alex ngelihat bakat Sophie Fisher, tukang nyiram tanemannya untuk nulis lirik lagu. Dibumbui adegan-adegan romantis dan konyol yang dimulai dari kecanggungan dan kebodohan Sophie waktu ngeliat mantan cowonya yang merupakan bekas profesor yang ngajar dia nulis.
Entah kenapa waktu adegan Sophie ngumpet-ngumpet di restoran, temen gue si Evi ketawa ngakak sambil teriak Endah banget. Padahal gue gak gitu lho.. sedikit parno mungkin iya…
Film ini merupakan tontonan ringan, tapi mending nonton bareng temen-temen. Soalnya mungkin kalo nontonnya sendirian jadinya garing juga. Karena bukan tontonan yang terlalu berbobot.
Gue memang cukup suks dengan tokoh Sophie karena dia orangnya sedikit keras. Kalau dia gak suka sesuatu dan merasa seuatu itu nggak pas, maka hal itu akan dia kemukakan langsung. Walaupun itu akan berakibat buruk buat dia. Nah ini deh yang gue anggap gue banget he he he…
Dan kadang kalau orang udah ngga bisa ngedenger kita, emang kita kadang cuma bisa menuliskannya dan bikin orang itu ngerti dari tulisan kita…
Dibumbui adegan-adegan konyol dan menyentuh, film ini cukup layak tonton lah.. lebih lucu deh dibanding Bean
Leave a Comment » |
Movie Review |
Permalink
Posted by rorygilmore
March 31, 2007

Hiks, film ini sangat kurang dari ekspektasi gue terhadap film yang dimainin Russel Crowe. Yah mungkin justru bumbu romantisme kurang pas untuk film yang pada awalnya si tokoh (Max Skinner) digambarkan hebat dan strategis dalam dunia pasar modal.
Dimulai dengan adegan yang menceritakan masa kecil Max yang dibesarkan di Perancis, lalu beralih pada kepiawaiannya memainkan trik-trik di bursa efek pada saat dewasa. Dan melihat karakternya yang tidak mudah takluk terhadap wanita.
Max harus kembali ke Perancis untuk mengurus warisan paman yang sudah mengurusnya di Perancis dahulu. Di sini pun dia digambarkan sebagai watak tidak berperasaan yang tidak memiliki nilai sentimentil sehingga tega untuk menjual begitu saja warisan pamannya.
Sangat disayangkan cerita ini tidak begitu kuat, karena pada akhirnya dia dengan mudahnya luluh. Tiba-tiba saja mau meninggalkan dunianya yang sudah sukses, tidak jadi menjual warisan pamannya dan hidup bersama wanita yang ternyata merupakan tetangganya semasa kecil dulu.
Duuuuuuh…. this movie is so beyond my expectation.
Leave a Comment » |
Movie Review |
Permalink
Posted by rorygilmore
March 31, 2007

Ini film yang bener-bener sangat gue rekomen buat ditonton.
Bener-bener mencampuradukkan latar cerita dari berbagai kultur, berbagai karakter, yang pada awalnya kita mungkin belum bisa membayangkan interkoneksinya sampai pada akhirnya ternyata bagian-bagian dari film ini terkait satu sama lain dengan alur yang maju mundur.
Di Maroko, dua orang bocah ingusan yang salah satunya digambarkan suka mengintip sodara perempuannya sendiri untuk kemudian melakukan masturbasi, bermain senapan yang baru saja dibeli oleh sang ayah. Dengan niat mengetes jangkauan senapan tersebut, kedua bocah tadi menembakkan senapan tesebut ke arah bus turis. Hingga menyebabkan salah seorang turis yang sedang menghadapi krisis dengan pasangannya sekarat. Disitulah terlihat cinta mereka teruji. Muatan politis pada sisi ini adalah, ketika terjadi korban, aparat lebih memilih untuk melacak pelaku ketimbang menolong orang yang dalam keadaan darurat.
Di Jepang, seorang cewe abg tuna rungu menjadi seorang pemberontak dan ingin mencoba berbagai hal dalam rangka mencari jati diri. Gadis ini berusaha mendapatkan pengalaman seksual dengan siapa pun, namun tidak ada yang mau menyentuhnya. Dia ini korban dari kurang perhatian, dan dia juga saksi mata ketika ibunya bunuh diri.
Di Amerika, seorang pembantu asal Mexico yang mengasuh 2 anak majikannya terpaksa membawa kedua anak majikannya ke Mexico untuk menghadiri pernikahan anaknya, karena sang majikan tidak memberinya ijin libur dengan alasan darurat. Si pembantu akhirnya bermasalah ketika hendak membawa kedua anak tersebut kembali ke Amerika. Ketika dia berhasil kembali ke Amerika, dia tidak diijinkan menemui kedua anak itu kembali karena dicurigai telah memasuki Amerika secara ilegal di awal.
Kondisi-kondisi kritis yang dialami mereka ternyata berhasil membuat gue terharu dan sedih sampe menitikkan air mata.
Alurnya bagus banget, pesennya bagus banget…
Leave a Comment » |
Movie Review |
Permalink
Posted by rorygilmore
March 31, 2007

Gue nonton film ini keknya jaman-jaman gue masih nganggur deh. Tapi gue baru tulis reviewnya sekarang karena gue pada saat itu masih bener-bener dalam suasana berkabung.
Tokoh yang meranin Eragon dalam film ini bener-bener keren, mirip bener sama almarhum cowo gue he he he… pada dasarnya Eragon berjiwa murni dan ga berambisi jadi petarung. Namun karena dia ngebawa pulang telur naga yang hanya bisa menetas kalo si naga sudah memutuskan untuk memilih penunggangnya.
Saphira sang naga dapat berkomunikasi dengan Eragon secara telepati. Eragon beruntung dalam menunaikan tugasnya sebagai penunggang naga, dia mendapat tutor dari bekas penunggang naga yang naganya mati dibunuh penunggang naga yang lain.
Alkisah, naga akan rela mati demi penunggangnya. Karena jika si penunggang naga mati, maka si naga akan mati juga. Sedangkan jika naga mati, si penunggang naga masih sanggup untuk hidup.
Dalam petualangan meyelamatkan putri yang membawa pesan, Eragon dibantu oleh orang yang ternyata bekas anak penghianat. Pada akhirnya anak sang penghianat ini dikurung karena tidak dipercaya oleh kerajaan yang akan dibantu oleh Eragon. Namun seiring dengan berjalannya pertarungan si anak penghianat tersebut berhasil membuktikan bahwa dia ada di pihak Eragon.
Dia hanya berkata, toh seorang anak tidak dapat meilih siapa bapaknya…
Sepupu Eragon juga enak dilihat, tapi emang Eragon keren banget.. gak sabar gue untuk nonton sekuel film ini.
1 Comment |
Movie Review |
Permalink
Posted by rorygilmore